KabarBaik.co, Surabaya — Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya memberikan relaksasi akademik bagi mahasiswa asal Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak gempa bumi. Kebijakan tersebut diberikan agar mahasiswa tetap dapat menjalani pendidikan di tengah kondisi keluarga yang sedang menghadapi bencana.
Rektor Untag Surabaya Dr. Harjo Seputro, S.T., M.T. mengatakan, berdasarkan pendataan kampus, terdapat 108 mahasiswa Untag Surabaya yang berasal dari NTT. Dari jumlah tersebut, 58 mahasiswa diketahui terdampak langsung akibat bencana.
“Relaksasinya adalah kita lakukan penundaan pembayaran sampai dengan akhir Oktober. Jadi tanpa bayar pun mereka masih bisa melakukan KRS,” kata Harjo, Kamis (20/8).
Kebijakan itu memungkinkan mahasiswa terdampak tetap melakukan pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) meski belum menyelesaikan pembayaran biaya akademik. Penundaan pembayaran diberikan hingga akhir Oktober 2026.
Selain urusan administrasi, kampus juga memberikan kelonggaran dalam proses pembelajaran. Dari 58 mahasiswa terdampak, sebanyak 36 mahasiswa membutuhkan fleksibilitas pembelajaran karena kondisi yang mereka hadapi.
Untag Surabaya akan memfasilitasi mahasiswa tersebut mengikuti perkuliahan secara daring melalui Learning Management System (LMS).
“Di antara 58 itu ada 36 yang tidak masalah keuangannya, tetapi dia perlu relaksasi untuk proses pembelajaran. Jadi nanti kita fasilitasi proses pembelajarannya secara daring, diatur melalui LMS,” ujarnya.
Mahasiswa yang Mengerjakan Tugas Akhir Juga Diberi Kelonggaran
Relaksasi juga diberikan kepada mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir. Kampus memberikan fleksibilitas dalam proses bimbingan dengan dosen, baik dari sisi waktu maupun mekanisme pelaksanaannya.
Harjo memahami bahwa kondisi bencana dapat mengganggu konsentrasi mahasiswa dalam menyelesaikan kewajiban akademiknya.
“Awalnya mereka fokus mengerjakan tugas. Kondisi seperti ini tentu fokusnya bisa buyar. Ada waktu yang memang harus dicapai untuk menyelesaikan. Karena itu ada fleksibilitas untuk proses pembimbingan,” katanya.
Dari 58 mahasiswa yang terdampak langsung, sebanyak 14 orang saat ini berada di Surabaya. Mereka dalam kondisi aman dan tidak membutuhkan relaksasi akademik, meskipun keluarga mereka di NTT turut terdampak bencana.
Untuk mahasiswa yang mengalami tekanan karena memikirkan kondisi keluarga di daerah asal, Untag Surabaya juga menyiapkan pendampingan psikologis dan psikososial.
“Bagi mereka yang posisinya sudah di Surabaya, sementara keluarganya terdampak, kita akan memberikan pendampingan psikologi psikososial,” ujar Harjo.
Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu mahasiswa menghadapi tekanan emosional sekaligus tetap menjalankan aktivitas akademiknya.
Dua Pekan Awal September Kuliah Masih Daring
Untag Surabaya juga mempertimbangkan mahasiswa yang masih berada di NTT. Dua pekan pertama perkuliahan pada awal September 2026 akan dilaksanakan secara daring.
Kebijakan tersebut memberikan waktu tambahan bagi mahasiswa untuk memulihkan kondisi sekaligus mempersiapkan kepulangan ke Surabaya.
“Perkuliahan masih di awal September. Dua minggu pertama kita masih online, sehingga masih ada jeda waktu untuk mereka bisa kembali ke sini, pulih dan kembali ke sini,” kata Harjo.
Di tengah situasi tersebut, komunikasi dengan keluarga di NTT juga menjadi tantangan. Harjo mengatakan dirinya bahkan masih mengalami kendala menghubungi keluarga di wilayah Manggarai.
“Kami juga membantu supaya mereka bisa berkomunikasi. Saya sendiri masih belum bisa komunikasi dengan saudara dan keluarga saya di Manggarai,” ungkapnya.
Tim Psikologi Untag Turun Berikan Bantuan
Selain memberikan relaksasi akademik, Untag Surabaya menyiapkan bantuan psikologis bagi masyarakat yang terdampak bencana di NTT. Dekan Fakultas Psikologi Untag Surabaya Dr. Diah Sofiah, S.Psi., M.Si., Psikolog, mengatakan pihaknya akan mengirimkan tim relawan untuk memberikan Psychological First Aid (PFA). Tim tersebut akan melibatkan dosen dan mahasiswa Fakultas Psikologi.
“Kami juga menyampaikan rasa prihatin, ikut sedih dan peduli dengan apa yang dialami oleh saudara-saudara di NTT. Bentuk kepedulian kami adalah kami akan menurunkan tim relawan untuk PFA, Psychological First Aid,” kata Diah.
Dalam memberikan bantuan, tim akan menggunakan pendekatan look, listen, and link. Tahap pertama dilakukan dengan mengamati kondisi penyintas untuk mengetahui kebutuhan dan menentukan siapa saja yang memerlukan bantuan. Berikutnya, relawan akan membuka ruang bagi penyintas untuk bercerita dan mendapatkan dukungan.
“Kalau memang ditemukan ada yang memerlukan bantuan, misalnya intervensi psikologis seperti konseling atau bantuan medis yang lain, tentu kami akan link-kan,” ujarnya.
Dengan pendekatan tersebut, bantuan diharapkan tidak berhenti pada dukungan emosional, tetapi juga menghubungkan penyintas dengan layanan yang sesuai apabila membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Alumni Siapkan Bantuan Hampir Rp 100 Juta
Kepedulian terhadap mahasiswa dan masyarakat NTT juga datang dari keluarga besar alumni Untag Surabaya.
Wakil Rektor III Untag Surabaya Dr. Sumiati, M.M. mengatakan, sebagian dana alumni dari kegiatan wisuda yang dijadwalkan berlangsung pada 22 dan 23 Agustus 2026 akan dialokasikan untuk membantu korban bencana di NTT.
“Dana alumni sebagian atau separuh dari dana alumni yang wisuda pada tanggal 22 dan 23 Agustus nanti diperuntukkan untuk korban yang ada di NTT,” kata Sumiati.
Wisuda periode tersebut diikuti hampir 2.000 wisudawan. Dengan demikian, dana yang dialokasikan untuk bantuan diperkirakan mendekati Rp100 juta.
“Jumlahnya lumayan, karena yang wisuda periode ini hampir 2.000, maka dana separuhnya itu hampir mendekati Rp100 juta,” ujarnya.
Bantuan tersebut nantinya diserahkan secara simbolis melalui Ikatan Alumni (IKA) Untag Surabaya dalam rangkaian prosesi wisuda. Sumiati berharap bantuan alumni dapat dipadukan dengan donasi dan kontribusi dari Untag Surabaya sehingga manfaatnya dapat dirasakan masyarakat yang terdampak.
“Mudah-mudahan bantuan dari IKA itu ditambah dengan donasi kontribusi Untag Surabaya terhadap korban yang ada di NTT, bermanfaat dan bisa meringankan beban saudara-saudara kita yang ada di sana,” katanya.
Selain bantuan kemanusiaan, Untag Surabaya juga menyiapkan skema beasiswa yang bersumber dari ikatan alumni. Program tersebut sebelumnya ditujukan untuk membantu mahasiswa yang mengalami kendala biaya pendidikan, khususnya mahasiswa tingkat akhir.
Dalam situasi bencana di NTT, skema tersebut dapat dimanfaatkan untuk membantu mahasiswa asal NTT yang terdampak.
Harjo menegaskan berbagai kebijakan tersebut merupakan bentuk kepedulian kampus agar mahasiswa dan keluarganya yang terdampak bencana tidak merasa menghadapi situasi seorang diri.
“Semoga masyarakat yang terdampak segera diberi kesabaran, diberi kekuatan, dan mereka tahu bahwa mereka tidak sendiri. Kami Untag Surabaya, masyarakat di seluruh Indonesia, insya Allah akan memberikan dukungan kepada mereka yang terdampak,” pungkasnya. (*)






