KabarBaik.co, Jakarta – SEA V Cup 2026 meninggalkan catatan kontras bagi timnas voli putri Indonesia. Datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah mencatat hasil cukup positif di AVC Cup 2026 dan menjalani tiga kali uji coba menghadapi Korea Selatan, skuad Merah Putih justru pulang dengan “kerugian” dalam peringkat dunia FIVB.
Alih-alih mengakhiri turnamen sebagai runner-up seperti yang ditargetkan federasi, Indonesia harus puas dengan hasil yang belum sesuai ekspektasi. Bahkan, berdasarkan data per 9 Agustus 2026, posisi Indonesia di ranking dunia turun menjadi peringkat ke-56, atau merosot satu tingkat dibanding sebelum tampil di turnamen level Asia Tenggara, SEA V Cup 2026, tersebut.
Penurunan itu terjadi setelah anak asuh Marcos Sugiyama menelan kekalahan 1-3 dari Filipina pada laga terakhir leg kedua. Kekalahan tersebut sekaligus menghapus euforia dari kemenangan dramatis atas Vietnam.
Sebelumnya, Indonesia sempat menciptakan kejutan dengan menundukkan Vietnam 3-2. Kemenangan bersejarah itu, yang menjadi kemenangan kali pertama Indonesia atas Vietnam sejak 2019, sempat mengerek posisi Merah Putih dari peringkat 55 ke-53 dunia.
Namun, ternyata momentum tersebut gagal dipertahankan.
Filipina kemudian menjadi tim yang justru menikmati keuntungan paling besar. Kemenangan atas Indonesia membuat Filipina melesat ke posisi ke-53 dunia, sekaligus menyalip Indonesia dalam daftar ranking terbaru.
Sementara itu, Vietnam menjadi tim yang mengalami penurunan paling signifikan. Sebelum SEA V Cup 2026, Vietnam masih bertengger di peringkat 28 dunia. Setelah mengalami kekalahan dari Indonesia dan Filipina, posisi Vietnam turun empat tingkat menjadi peringkat ke-32.
Di sisi lain, Thailand tetap menunjukkan dominasinya sebagai kekuatan utama voli putri Asia Tenggara. Meski tampil sebagai juara SEA V Cup 2026 tanpa terkalahkan, posisi Thailand di ranking dunia tidak berubah. Negeri Gajah Putih tetap berada di peringkat ke-17 dunia dan sekaligus mempertahankan statusnya sebagai ratu voli kawasan Asia Tenggara.
Bagi Indonesia, SEA V Cup 2026 akhirnya menjadi turnamen dengan dua wajah.
Ada catatan manis ketika Tisya Amallya dan kawan-kawan akhirnya mampu memutus penantian panjang untuk mengalahkan Vietnam. Tetapi, ada pula catatan pahit karena kekalahan mengejutkan dari Alas Fillipinas membuat target runner-up gagal diwujudkan dan posisi Indonesia di ranking dunia justru kembali merosot.
Situasi tersebut tentu menjadi bahan evaluasi serius. Apalagi, waktu untuk berbenah tidak banyak.

Lupakan SEA V Cup, Tatap ASIAN Games 2026
Asian Games 2026 sudah menanti mulai 16 September mendatang. Ajang tersebut memiliki level persaingan yang jauh lebih tinggi dan menjadi kesempatan penting bagi Indonesia untuk menunjukkan bahwa hasil SEA V Cup 2026 bukan gambaran sebenarnya dari kekuatan tim.
Konsistensi menjadi pekerjaan rumah utama. Performa Indonesia masih terlihat naik turun, terutama ketika menghadapi tekanan pada pertandingan penting. Persoalan mental bertanding, efektivitas serangan, serta kemampuan menjaga momentum harus segera dibenahi.
Tim pelatih dan federasi juga dituntut berani melakukan evaluasi komposisi pemain. Pemanggilan pemain-pemain potensial, termasuk opsi menghadirkan kembali Megawati ”Megatron” Hangestri atau nama lain yang dinilai mampu memperkuat tim, layak dipertimbangkan untuk menghadapi persaingan di Asian Games.
Sebab, Asian Games bukan sekadar turnamen berikutnya. Ajang itu merupakan panggung untuk membuktikan apakah timnas voli putri Indonesia benar-benar sedang berkembang atau masih berkutat dengan persoalan lama.
SEA V Cup 2026 boleh menjadi catatan pahit. Namun, hasil tersebut seharusnya tidak menjadi alasan untuk larut dalam kekecewaan.
Justru sebaliknya, kekalahan dari Filipina dan penurunan ranking dunia mesti menjadi alarm keras. Waktu Indonesia untuk berbenah tinggal sekitar sebulan.
Bagi publik Indonesia, prestasi olahraga bukan sekadar angka di papan skor. Di tengah berbagai persoalan dan hiruk-pikuk kehidupan negeri, keberhasilan para atlet membawa nama Indonesia ke level internasional menjadi salah satu sumber kebanggaan sekaligus hiburan yang paling nyata.
Karena itu, menjelang Asian Games 2026, satu hal menjadi harga mati. Timnas Indonesia harus datang dengan tim yang jauh lebih siap, lebih konsisten, dan lebih bermental juara. (*)








