KabarBaik.co, Jakarta – Timnas Voli Putri Indonesia bakal menjalani tiga laga uji coba melawan Korea Selatan pada 23, 25, dan 26 Juli 2026 di Jecheon Gymnasium. Rangkaian pertandingan ini menjadi ujian sesungguhnya bagi skuad asuhan Marcos Sugiyama untuk mengukur sejauh mana kesiapan sebelum menghadapi SEA V Cup 2026 dan turnamen lainnya.
Menghadapi Korea Selatan yang baru saja menjuarai AVC Women’s Cup 2026 dengan kedalaman skuad yang merata, Indonesia jelas tidak diunggulkan. Namun, justru dari tiga pertandingan inilah Sugiyama berpeluang menemukan formula terbaik tim.
1. Menentukan Siapa Setter Nomor Satu
Posisi setter menjadi salah satu kunci dalam sebuah tim. Sugiyama membawa dua pengatur serangan yang sudah menjadi andalannya sejak AVC Women’s Cup 2026, yakni Tisya Amallya Putri dan Arneta Putri Amelian. Keduanya memiliki karakter permainan berbeda dan belum ada yang benar-benar mengunci status sebagai setter utama.
Lawan seperti Korea Selatan merupakan ujian ideal karena mereka memiliki sistem blok dan pertahanan yang rapi. Setter akan dipaksa mengambil keputusan dalam waktu singkat, mulai dari memilih quick attack, membuka bola ke sayap, hingga memainkan bola belakang ketika receive tidak sempurna.
Pada final AVC Women’s Cup 2026, setter Korea Kim Da-in menunjukkan bagaimana distribusi bola yang merata mampu membuat lima pemain berbeda mencetak angka signifikan. Tidak ada satu pemain yang mendominasi serangan sehingga blok lawan kesulitan membaca arah bola.
Nah, dari tiga pertandingan uji coba di Jecheon, Sugiyama dapat mengevaluasi setter mana yang paling mampu menjaga tempo permainan, meminimalkan kesalahan, sekaligus mengoptimalkan potensi para penyerangnya sebelum memasuki SEA V Cup 2026.
2. Mengukur Stabilitas Receive Indonesia
Selama beberapa turnamen terakhir, kualitas receive masih menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar Timnas Indonesia. Ketika penerimaan servis terganggu, variasi serangan otomatis berkurang karena setter hanya memiliki pilihan memainkan bola tinggi ke sisi sayap.
Korea Selatan dikenal memiliki servis yang tidak selalu keras, tetapi sangat akurat dalam penempatan bola. Mereka sering mengincar area kosong atau pemain dengan receive yang kurang stabil untuk memutus ritme serangan lawan.
Bagi Indonesia, tiga laga ini menjadi kesempatan mengukur kualitas lini belakang yang akan diisi oleh dua libero, Indah Guretno Dwi Margiani dan Fajriahni Ema Herawati, bersama para outside hitter yang juga memiliki tanggung jawab dalam menerima servis.
Apabila receive mampu dijaga pada level yang konsisten, Indonesia akan memiliki peluang memainkan quick attack melalui middle blocker dan mempercepat tempo permainan. Sebaliknya, jika receive terus goyah, pola serangan akan mudah ditebak oleh blok Korea.
3. Menguji Dominasi Middle Blocker
Sugiyama kembali mempercayakan posisi middle blocker kepada trio Chelsa Berliana Nurtomo, Maradanti Namira Tegariani, dan Geofanny Eka Cahyaningtyas. Ketiganya sudah menjadi tulang punggung sejak U21 dan kembali mendapat kesempatan menunjukkan perkembangan mereka.
Tantangan yang dihadapi tidak ringan. Korea Selatan memiliki kekuatan utama di sektor tengah melalui Lee Ju-ah, Park Eun-jin, Jeong Ho-young, Lee Da-hyun, hingga Kim Se-bin. Kedalaman middle blocker mereka menjadi salah satu yang terbaik di Asia karena mampu menjaga kualitas blok maupun quick attack meski melakukan rotasi pemain.
Pada final AVC Women’s Cup 2026, dua middle blocker utama Korea menyumbang total 15 poin. Angka tersebut menunjukkan bahwa ancaman mereka tidak hanya datang dari outside hitter atau opposite.
Bagi Indonesia, laga ini menjadi tolok ukur apakah para middle blocker sudah cukup efektif dalam membaca setter lawan, menutup jalur serangan cepat, sekaligus menghasilkan poin melalui quick attack.
4. Menemukan Kombinasi Outside Hitter Terbaik
Persaingan paling ketat di skuad Indonesia terjadi di posisi outside hitter. Sugiyama membawa lima pemain sekaligus, yakni Mediol Stiovanny Yoku, Ersandrina Devega Salsabila, Venisa Dwi Oktaviani, Putri Nur Hidayanti Agustin, dan Azzahra Dwi Febyane.
Situasi tersebut memberi keuntungan karena pelatih memiliki banyak pilihan rotasi. Namun di sisi lain, ia harus segera menentukan kombinasi paling efektif sebelum SEA V Cup dimulai.
Korea Selatan memberikan contoh bagaimana kedalaman outside hitter dapat menjadi pembeda. Pada final AVC Women’s Cup, Lee Ye-rim digantikan Jung Yoon-ju tanpa menurunkan kualitas serangan. Bahkan Jung Yoon-ju mampu mencetak 11 poin sebagai pemain rotasi.
Indonesia diharapkan mampu menemukan pasangan outside hitter yang bukan hanya produktif dalam menyerang, tetapi juga stabil dalam receive dan pertahanan, dua aspek yang akan sangat menentukan saat menghadapi Thailand dan Vietnam.
5. Mengurangi Ketergantungan pada Satu Penyerang
Salah satu kelemahan Indonesia dalam beberapa turnamen terakhir adalah serangan yang kerap bertumpu pada satu atau dua pemain saja. Situasi tersebut membuat lawan lebih mudah menyusun blok dan membaca arah distribusi bola.
Sebaliknya, Korea Selatan memperlihatkan pola permainan yang jauh lebih variatif. Pada final AVC Women’s Cup, lima pemain berbeda mencetak antara tujuh hingga 14 poin. Artinya setter mereka mampu melibatkan hampir seluruh pemain depan dalam proses menyerang.
Model permainan seperti inilah yang perlu mulai dibangun Indonesia. Dengan dua opposite, lima outside hitter, dan tiga middle blocker, sebenarnya Indonesia memiliki sumber daya yang cukup untuk menciptakan distribusi serangan yang lebih merata.
Jika variasi serangan meningkat, lawan akan kesulitan menentukan prioritas blok sehingga peluang mencetak poin juga semakin besar.
6. Menguji Mental Bertanding dalam Rally Panjang
Salah satu ciri khas permainan Korea Selatan adalah disiplin bertahan. Mereka tidak selalu mengandalkan spike keras, tetapi mampu mempertahankan bola dalam rally panjang hingga lawan melakukan kesalahan sendiri.
Karakter seperti ini sering menjadi tantangan bagi Indonesia yang terkadang kehilangan fokus setelah rally berlangsung cukup lama. Ketenangan dalam mengambil keputusan menjadi faktor penting agar tidak terburu-buru menyelesaikan serangan.
Melawan Korea, Indonesia kemungkinan akan dipaksa bermain dalam rally yang berlangsung belasan hingga puluhan sentuhan. Situasi tersebut menjadi simulasi yang sangat baik sebelum menghadapi Vietnam maupun Thailand, dua tim yang juga memiliki pertahanan solid.
Apabila Indonesia mampu menjaga konsentrasi sepanjang rally dan meminimalkan unforced error, maka perkembangan mental bertanding mereka dapat dikatakan mengalami peningkatan yang signifikan.
7. Menguji Kedalaman Skuad Lewat Rotasi Tiga Pertandingan
Keuntungan terbesar dari uji coba ini adalah format tiga pertandingan dalam rentang empat hari. Jadwal tersebut memungkinkan Sugiyama melakukan rotasi pemain lebih leluasa dibanding turnamen resmi.
Seluruh pemain memiliki kesempatan menunjukkan kualitasnya, termasuk mereka yang selama AVC Women’s Cup belum mendapatkan menit bermain maksimal. Evaluasi ini penting karena SEA V Cup menggunakan jadwal pertandingan yang padat sehingga kedalaman skuad menjadi faktor penentu.
Di sisi lain, Korea Selatan juga diperkirakan melakukan rotasi karena membawa 18 pemain ke Jecheon. Indonesia akan menghadapi beberapa kombinasi pemain berbeda sehingga gambaran kekuatan lawan menjadi lebih lengkap.
Dari sinilah pelatih dapat menentukan siapa yang layak menjadi starter, impact player, maupun spesialis servis atau pertahanan sebelum memasuki turnamen utama.
8. Mengukur Seberapa Dekat Indonesia dengan Level Asia
Misi terbesar dari tiga laga ini bukan semata-mata mengejar kemenangan, melainkan mengukur posisi Indonesia dibanding salah satu tim papan menengah Asia.
Walaupun Korea Selatan tidak lagi mendominasi seperti era Kim Yeon-koung, mereka tetap memiliki organisasi permainan yang matang, distribusi serangan yang rapi, serta kedalaman skuad yang lebih baik dibanding sebagian besar negara Asia Tenggara.
Apabila Indonesia mampu memaksa Korea bermain ketat, bahkan merebut satu kemenangan atau membawa pertandingan hingga lima set, hasil tersebut akan menjadi indikator bahwa jarak kualitas kedua tim mulai mengecil.
Sebaliknya, jika masih terlihat banyak kelemahan pada receive, transisi bertahan, dan efektivitas serangan, Sugiyama masih memiliki waktu sekitar sepekan untuk melakukan evaluasi sebelum SEA V Cup 2026 dimulai pada 31 Juli. Dengan demikian, hasil uji coba di Jecheon akan menjadi barometer paling akurat mengenai kesiapan Timnas Voli Putri Indonesia menghadapi persaingan di Asia Tenggara sekaligus langkah awal menuju level kompetisi Asia yang lebih tinggi.
Bekal Penting Menuju SEA V Cup
Uji coba di Jecheon juga menjadi momentum untuk mengakhiri tren negatif Indonesia di SEA V Cup, setelah pernah menjadi runner-up pada 2019. Karena itu, hasil di Korea memang penting, tetapi yang lebih utama adalah menemukan fondasi permainan yang konsisten.
Jika Sugiyama berhasil membangun receive yang stabil, distribusi serangan yang lebih variatif, serta rotasi pemain yang efektif selama tiga laga melawan Korea Selatan, Indonesia akan memiliki modal jauh lebih baik untuk mengubah peta persaingan di SEA V Cup 2026.
Jadwal Indonesia vs Korea Selatan
Seluruh pertandingan digelar di Jecheon Gymnasium, Jecheon, Korea Selatan.
- Kamis, 23 Juli 2026 | 13.30 WIB
- Sabtu, 25 Juli 2026 | 11.00 WIB
- Minggu, 26 Juli 2026 | 13.00 WIB
Seluruh laga disiarkan langsung oleh Moji TV dan Vidio.
Daftar Pemain Timnas Voli Putri Indonesia
Berikut daftar pemain Timnas Voli Putri Indonesia vs Korea Selatan:
- Tisya Amallya Putri (Setter)
- Arneta Putri Amelian (Setter)
- Indah Guretno Dwi Margiani (Libero)
- Fajriahni Ema Herawati (Libero)
- Chelsa Berliana Nurtomo (Middle Blocker)
- Maradanti Namira Tegariani (Middle Blocker)
- Geofanny Eka Cahyaningtyas (Middle Blocker)
- Arsela Nuari Purnama (Opposite)
- Syelomita Afrilaviza Wongkar (Opposite)
- Mediol Stiovanny Yoku (Outside Hitter)
- Ersandrina Devega Salsabila (Outside Hitter)
- Venisa Dwi Oktaviani (Outside Hitter)
- Putri Nur Hidayanti Agustin (Outside Hitter)
- Azzahra Dwi Febyane (Outside Hitter)






