Dari Putri Gus Dur hingga Alien: Bukan Kocak Biasa, Film FOUFO Layak Masuk Daftar Tonton

oleh -60 Dilihat
FOUFO
Inayah Wahid dan beberapa pemain Film FOUFO.

KabarBaik.co, Jakarta- Nama Inayah Wahid mungkin bukan nama yang kali pertama terlintas ketika membicarakan film komedi fiksi ilmiah. Putri bungsu Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu selama ini lebih dikenal sebagai aktivis sosial dan pegiat keberagaman daripada aktris layar lebar.

Karena itu, kemunculannya dalam film FOUFO menjadi sat kejutan tersendiri. Bukan sekadar menjadi cameo, Inayah memilih terlibat dalam film garapan Bayu Skak karena melihat sesuatu yang lebih besar daripada sekadar hiburan.

Dalam sebuah pernyataannya kepada awak media, Inayah mengaku tertarik ketika mengetahui bahwa FOUFO mengangkat bahasa dan budaya Madura secara autentik. Bahkan, Inayah menyebut langkah Bayu Skak sebagai upaya penting menghadirkan identitas budaya lokal ke layar lebar sekaligus melawan stigma yang selama ini kerap melekat pada masyarakat Madura.

Menariknya lagi, pengalaman syuting film ini menjadi pengalaman pertama Inayah di layar lebar. Bahkan dia sempat mengira judul film tersebut dibaca “UFO-UFO”, sebelum akhirnya mengetahui bahwa judulnya adalah FOUFO. Pengalaman menerima naskah yang hanya berisi dialog tokohnya juga menjadi cerita unik yang dibagikan kepada publik.

Namun, daya tarik FOUFO jelas tidak berhenti pada kehadiran putri Gus Dur.

Alien yang Mendarat di Kampung Rongsokan

Bayangkan sebuah pesawat luar angkasa jatuh bukan di New York atau Tokyo, melainkan di sebuah kampung di Madura. Premis itulah yang ditawarkan Bayu Skak.

Tokoh utamanya adalah Muslim, diperankan Tretan Muslim, seorang pengepul rongsok yang sedang berjuang mengumpulkan biaya agar sang ibu bisa berangkat menunaikan ibadah haji. Hidupnya berubah total ketika menemukan sebuah UFO yang jatuh bersama alien kecil yang kemudian diberi nama Foufo.

Alih-alih menghadirkan kisah invasi alien penuh ledakan dan peperangan, FOUFO justru memilih jalur yang lebih hangat. Alien kecil itu menjadi sahabat baru Muslim. Bahkan membantu menyelesaikan berbagai persoalan hidup keluarganya. Tetapi, ketika waktu pelunasan biaya haji semakin dekat dan energi Foufo semakin menipis, Muslim dihadapkan pada pilihan yang tidak mudah: mewujudkan impian ibunya atau membantu sahabatnya pulang ke planet asal.

Bukan Sekadar Komedi Sci-Fi

Sekilas, poster FOUFO memang memberi kesan film komedi yang absurd. Namun di balik itu, Bayu Skak menyisipkan cerita tentang keluarga, persahabatan, kemiskinan, hingga mimpi sederhana masyarakat kecil.

Komedi yang dibangun juga terasa dekat dengan keseharian warga Jawa Timur. Tretan Muslim menghadirkan humor khas Madura, sementara Bayu Skak tetap mempertahankan gaya bercerita yang membumi sebagaimana terlihat dalam karya-karya sebelumnya.

”Madura…?” Bukan Losolo! Ya dialek itu seperti itu sudah terasa akrab dengan publik. Dan, yang membuat film ini terasa berbeda adalah keberaniannya membawa budaya Madura menjadi pusat cerita.

Sebagian besar dialog menggunakan bahasa Madura dengan melibatkan banyak talenta asli Jawa Timur dan Madura. Pendekatan tersebut membuat FOUFO tampil bukan hanya sebagai film hiburan, tetapi juga sebagai perayaan identitas budaya lokal.

Selain Tretan Muslim sebagai pemeran utama, film ini juga menghadirkan Bayu Skak, Habib Husein Ja’far Al Hadar (Habib Jafar), Benidictus Siregar, Fuad Sasmita, Mieke Shahir, hingga Inayah Wahid.

Karakter yang paling mencuri perhatian tentu saja adalah Foufo, alien kecil yang dihidupkan melalui perpaduan pemeran fisik dan pengisi suara. Kehadirannya menjadi sumber berbagai adegan lucu sekaligus emosional sepanjang film.

Mengapa Film Ini Menarik?

Di tengah dominasi film horor dan drama romantis di bioskop Indonesia, FOUFO hadir membawa sesuatu yang berbeda. Film ini memadukan komedi, drama keluarga, budaya lokal, dan sentuhan fiksi ilmiah dalam satu cerita yang ringan tetapi tetap menyentuh.

Keberanian Bayu Skak menempatkan Madura sebagai pusat cerita juga memberi warna baru bagi perfilman Indonesia. Jika selama ini kisah-kisah sci-fi identik dengan kota-kota besar atau dunia futuristik, FOUFO justru menunjukkan bahwa cerita tentang alien pun bisa terasa akrab ketika dibungkus dengan kehidupan masyarakat kampung, mimpi seorang anak untuk memberangkatkan ibunya berhaji, serta persahabatan lintas “planet”.

Mungkin itulah alasan mengapa kehadiran Inayah Wahid terasa begitu pas. Debut akting putri Gus Dur ini menjadi simbol bahwa FOUFO bukan hanya menawarkan hiburan, tetapi juga mengajak penonton melihat kekayaan budaya Indonesia dari sudut yang segar—bahwa kisah tentang Madura, keluarga, dan persahabatan bisa sama menariknya dengan cerita alien dari luar angkasa.

Sejak tayang serentak di bioskop Indonesia pada 9 Juli 2026, FOUFO menjadi salah satu film lokal yang menawarkan pengalaman menonton berbeda. Yakni, enghibur, hangat, dan sarat identitas budaya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: F. Noval
Editor: Supardi Hardy


No More Posts Available.

No more pages to load.