KabarBaik.co, Solo,- Persib akhirnya kembali meraih kemenangan tipis 1–0. Kali ini, Maung Bandung menang atas Persis Solo di Stadion Manahan, Solo, Sabtu (31/1) sore. Gol tunggal itu tercipta buah sundulan Andrew Jung pada menit 39.
Sebiji gol tersebut cukup untuk membawa pulang tiga poin, sekaligus mengukuhkan Persib di puncak klasmen Super League 2025/2026, sekaligus vmempertegas tren yang sudah lama muncul musim ini. Dari 19 kali pertandingan, Persib mendulang 44 poin. Selisih 3 poin atas seteru klasiknya, Persija Jakarta dengan 41 poin yang menempati posisi runner-up.
Yang unik. Persib hampir selalu menang dengan selisih satu gol. Tidak peduli lawannya tangguh atau berada di papan bawah. Termasuk dengan Persis Solo yang berada di zona degradasi terbawah.
Secara statistik, angka berbicara jelas. Anak asuh Bojan Hodak itu mendominasi kompetisi. Namun, melihat hasil kemenangannya, cerita yang muncul sedikit berbeda.
Sepanjang musim ini, dari 14 kali menang, skor 1–0 telah menjadi pola berulang. Beberapa kemenangan serupa diraih atas lawan-lawannya seperti Persija Jakarta, Bali United, PSM Makassar, Dewa United, PSBS Biak, Persebaya Surabaya, dan yang terbaru Persis Solo tersebut. Tren inilah yang membuat stigma “Spesialis 1–0” kian relevan untuk Persib Bandung musim ini.
Menariknya, capaian tersebut datang dari skuad yang di atas kertas terbilang sangat mewah dan bernilai tinggi. Diketahui, Persib bertabur pemain yang tak hanya mahal secara nilai pasar, melainkan juga berkualitas internasional dan skuad Timnas Indonesia.
Di lini tengah, misalnya. Ada Tom Haye menjadi pusat kreativitas dengan nilai pasar diperkirakan sekitar Rp 17,3 miliar. Lalu, winger Eliano Reijnders dengan nilai pasar Rp 10,43 miliar. Selain itu, ada Marc Klok. Sementara Beckham Putra, pemain Timnas U-23, menjadi salah satu motor serangan tim. Di lini depan, Persib diperkuat striker asing yang klinis, serta David Maulana, gelandang serang Timnas Indonesia, yang kerap mencetak assist penting.
Selain itu, pertahanan Persib juga tangguh dengan kehadiran bek Ahmad Nur Hardianto dan kiper Teja Paku Alam, keduanya juga skuad Timnas senior. Nilai keseluruhan skuad menjadikan Persib salah satu tim dengan valuasi tertinggi di liga 1.
Nah, kombinasi pemain mahal, berpengalaman, dan bertabur pemain Timnas ini seharusnya memberi Persib kemampuan untuk mendominasi pertandingan, mencetak gol lebih dari sebiji, dan menutup laga dengan skor meyakinkan. Itu pula yang tampaknya diharapkan para Bobotoh, suporter Persib, seperti diungkapkan melalui laman media sosial.
Namun, kenyataannya di lapangan sering berbeda. Begitu unggul satu gol, ritme permainan cenderung menurun. Bahkan, tampak membosankan ditonton. Blok pertahanan digeser lebih dalam, intensitas menyerang berkurang, dan Maung Bandung tampak memilih mengamankan skor ketimbang menambah gol.
Memang, strategi pragmatis tersebut efektif untuk mengamankan poin. Tetapi, bagi para fans, hal itu membuat banyak pertandingan berjalan hingga menit akhir. Alih-alih mendominasi, mereka terkadang memberi ruang bagi lawan untuk hidup kembali, walaupun mungkin lawan tidak sekuat mereka.
Para pengamat menilai hal ini sebuah ironis. Dengan kedalam skuad, nama besar, nilai pasar mahal, dan berpengalaman, Persib seharusnya bisa menampilkan permainan yang tidak hanya efisien, melainkan juga mengesankan.
Siapapun tahu, keemenangan 1–0 tetap membawa hasil tiga poin. Namun, hal itu sekaligus sebagai cermin sifat berhati-hati yang dianggap berlebihan. Tim besar dan bisa disebut repreentasi salah satu wajah sepak bola nasional, seharusnya menakutkan lawan, bukan hanya cukup puas dengan margin minimal.
Karena spesialis 1-0 itu, sejauh ini Persib baru membukukan sebanyak 29 gol. Bandingkan dengan Persija Jakarta (36 gol), Borneo FC (32 gol), bahkan Malut United (38 gol).
Kendati demikian, klasemen tetap menjadi milik Persib. Mereka unggul dari pesaing, dan peluang mempertahankan gelar masih sangat realistis. Target juara masih terbuka, tetapi tim “Spesialis 1‑0” tetap menjadi catatan. Skuad kaya talenta belum sepenuhnya membuktikan dominasi secara permainan. (*)






