Bunker Kaliadem: Kisah Pilu 2 Relawan yang Terjebak di Dalamnya

oleh -2231 Dilihat
Foto Pinterest

KabarBaik.co- Bunker Kaliadem di Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman menjadi salah satu spot destinasi wisata di kawasan lereng Gunung Merapi. Wisatawan yang berkunjung dapat melihat langsung bangunan bunker, bahkan masuk ke bagian dalamnya.

Di area bunker Kaliadem ini wisatawan disuguhi panorama keindahan alam lereng Gunung Merapi. Ketika cuaca cerah, wisatawan dapat melihat visual Gunung Merapi dengan jelas.

Momen tersebut biasanya sering digunakan wisatawan untuk berfoto di depan bunker Kaliadem dengan Gunung Merapi sebagai latarnya. Bunker Kaliadem dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Sleman sekitar tahun 2000-an dan mulanya difungsikan sebagai tempat berlindung dari awan panas Gunung Merapi.

Kisah pilu kala erupsi Merapi 2006

Bunker Kaliadem merupakan saksi bisu peristiwa kelam pada 2006. Saat itu, Merapi mengalami erupsi.

Dua orang relawan yang bermaksud menyelamatkan diri dari awan panas atau “wedhus gembel” dengan berlidung di dalam bunker Kaliadem ditemukan meninggal dunia.

Saat itu, bunker Kaliadem tertimbun material panas erupsi Gunung Merapi hingga membuat kedua korban terjebak di dalam. Anggota TRC BPBD DI Yogyakarta (DIY) Aris Widodo atau yang akrab dipanggil Romo Itonk menceritakan kembali detik-detik peristiwa tersebut terjadi. Romo Itonk menceritakan saat itu status Gunung Merapi diturunkan dari Awas menjadi Siaga.

Ia mendapatkan tugas untuk mendampingi juru kunci Gunung Merapi Mbah Maridjan. Pada 14 Juni 2006 awalnya romo Itonk bersama anggota SAR berada di rumah Juru Kunci Merapi Mbah Maridjan. Kemudian karena saat itu Mbah Maridjan tidak ada aktivitas, romo Itonk bergeser ke warung sebelah timur Bunker Kaliadem.

Saat sedang berada di warung tersebut, Gunung Merapi mengeluarkan awan panas atau yang sering dikenal dengan istilah “wedhus gembel”.

Melihat awan panas tersebut berhenti di Bukit Kendil, ia dan yang lainya memutuskan untuk tetap mengamati kondisi pascaluncuran awan panas Gunung Merapi.

Tak berselang lama, terjadi luncuran awan panas susulan Gunung Merapi. Romo Itonk melihat kepulan awan panas susulan yang cukup tunggi.

Saat itu, romo Itonk sempat berkomunikasi dengan Kenteng mengajak untuk ikut bergeser ke barat. Namun, Mbah Maridjan menolak dan merasa aman. Saat sampai di barat bunker Kaliadem, romo Itonk dan yang lainya berhenti. Mereka melihat luncuran awan panas berhenti.

Setelah landai, mereka kembali ke warung. Namun, sesampainya di warung, di sela berbincang mereka melihat Gunung Merapi kembali mengeluarkan awan panas.

Mereka memperkirakan luncuranya akan lebih jauh, sehingga langsung bergegas lari ke arah barat.

Saat sampai di masjid kediaman Mbah Maridjan, romo Itonk kembali melakukan pengamatan. Ternyata, awan panas tersebut sampai ke bunker Kaliadem.

Setelah kejadian, romo Itonk bersama yang lainya sempat mencoba untuk datang ke bunker Kaliadem. Hanya saja, saat perjalanan melihat bekas tangki air dalam kondisi meleleh.

Menurutnya, proses evakuasi kedua korban dari bunker cukup sulit. Sebab bunker Kaliadem tertutup material erupsi Gunung Merapi dan material tersebut sangat panas, yakni sekitar 300 derajat celcius. Untuk itu, mereka harus menggali material sedikit demi sedikit untuk terlebih dahulu menemukan tangga masuk ke bunker. Proses evakuasi awalnya dilakukan secara manual. Namun alat-alat yang digunakan seperti sekop melengkung karena panasnya suhu material, sehingga selanjutnya dilakukan dengan alat berat.

Alat berat yang digunakan termasuk alat pemadam kebakaran dari luar negeri yang mampu menahan suhu hingga ratusan derajat celcius.

Meskipun, alat itu ternyata menimbulkan dehidrasi pada orang-orang sekitar, sehingga tidak lagi digunakan.

Setelah ditemukan, pintu bunker tidak bisa langsung dibuka karena ada material panas yang masuk ke bunker dan menahan pintu.

Di sisi lain, aktivitas erupsi Gunung Merapi masih berlangsung selama proses evakuasi, sehingga berpotensi membahayakan personel.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Prabangasta Restu Rendra
Editor: Lilis Dewi


No More Posts Available.

No more pages to load.