KabarBaik.co – Upaya pemanfaatan cacing African Night Crawler (ANC) dan limbah kotoran sapi perah diterapkan dalam penanaman cabai hidroponik organik yang dikembangkan Yayasan Bimasakti Peduli Negeri bersama Tim Askara di Desa Claket, Pacet, Kabupaten Mojokerto. Inovasi ini menjadi solusi ramah lingkungan sekaligus upaya menekan biaya produksi pertanian.
Askara merupakan kelompok yang bergerak di bidang pertanian organik dan mengembangkan sistem pertanian terpadu berbasis sumber daya lokal. Melalui kolaborasi dengan Yayasan Bimasakti Peduli Negeri, Askara mengolah limbah peternakan sapi perah yang sebelumnya tidak termanfaatkan menjadi pakan cacing ANC.
Cacing ANC kemudian menghasilkan kascing atau kotoran cacing berkualitas tinggi yang digunakan sebagai media tanam utama cabai hidroponik. Tanaman cabai ditanam dalam polybag dengan campuran kascing, arang sekam, dan cocopeat, sementara cacing hidup dibiarkan berada di dalam media tanam untuk menjaga ekosistem tanah tetap gembur dan subur.
Pengelola Tim Askara, Wahyu Tri, mengatakan pemanfaatan cacing dan limbah sapi ini bertujuan membangun kemandirian petani sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia.
“Dengan sistem organik terpadu, petani bisa memproduksi sendiri pupuk dan pestisida. Biaya produksi jauh lebih rendah, sementara kualitas dan tonase panen tetap tinggi,” ujarnya, Jumat (16/1).

Perawatan tanaman dilakukan melalui sistem irigasi tetes yang efisien. Pupuk organik cair diberikan secara berkala, sedangkan pengendalian hama dilakukan secara preventif menggunakan pestisida nabati berbahan alami yang aman bagi lingkungan dan konsumen.
Hasil panen menunjukkan kualitas cabai yang lebih unggul dibandingkan cabai konvensional. Warna cabai tampak lebih merah cerah, segar, serta memiliki daya simpan yang lebih lama.
“Di suhu ruang tanpa kulkas, cabai bisa bertahan dua sampai tiga minggu dan tidak cepat busuk karena tidak dipaksa tumbuh dengan bahan kimia,” tambah Wahyu.
Saat ini, produksi cabai hidroponik dari sekitar 2.500 pohon yang tersebar di unit greenhouse masih belum mampu memenuhi tingginya permintaan pasar, sehingga penjualan dilakukan dengan sistem pre-order.
Melalui inovasi ini, Yayasan Bimasakti Peduli Negeri dan Tim Askara berharap pemanfaatan cacing ANC dan limbah kotoran sapi dapat menjadi contoh bagi petani lain bahwa pertanian organik tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga bernilai ekonomi tinggi dan berkelanjutan. (*)







