Permintaan Tinggi, Cabai Organik Dilirik Pasar Timor Leste dan Singapura

oleh -317 Dilihat
Wahyu saat panen cabai merah di Greenhouse milik yayasan BimaSakti (Achmad Adi Nurcahya)

KabarBaik.co – Tren gaya hidup sehat tanpa bahan kimia kini tak hanya berkembang di dalam negeri, tetapi juga mulai merambah pasar mancanegara. Produk pertanian organik, khususnya cabai merah organik yang di kelola Askara, kian diminati meski tantangan ketersediaan stok masih menjadi pekerjaan rumah utama.

Askara sendiri bergerak dalam pertanian organik yang saat ini telah berkolaborasi dengan yayasan Bimasakti peduli negeri.

Wahyu M., selaku Marketing Askara, mengungkapkan bahwa permintaan terhadap produk organik terus meningkat. Namun, tidak semua petani mampu memenuhi kebutuhan tersebut karena sistem budidaya organik masih terbatas.

Peluang Ekspor Terbuka ke Singapura

Ketertarikan pasar internasional terhadap cabai merah organik yang di kelola Askara datang dari rekanan di Timor Leste. Bahkan, dalam sebuah pertemuan di Malaysia, muncul pembahasan serius mengenai peluang ekspor cabai organik ke Singapura.

“Permintaan di luar negeri itu besar karena pasokannya terbatas. Tidak semua petani menanam dengan sistem organik,” ujar Wahyu, Minggu (18/1).

Meski demikian, Wahyu mengakui bahwa sebagian petani masih awam terkait teknis dan birokrasi ekspor. Karena itu, Askara membuka peluang kerja sama dengan pihak yang memiliki kapasitas dalam pengelolaan distribusi dan jalur ekspor internasional.

Harga Premium dan Pemberdayaan Warga Sekitar

Di pasar domestik, cabai merah organik memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi dibandingkan cabai konvensional, dengan harga yang bisa mencapai Rp 100.000 per kilogram. Namun, Askara menegaskan bahwa orientasi usaha mereka tidak semata-mata mengejar keuntungan.

“Kami juga memberdayakan ibu-ibu PKK dan tetangga sekitar. Paling tidak mereka bisa mendapatkan tambahan penghasilan Rp 3.000 sampai Rp 5.000 per kilogram untuk uang saku anak sekolah,” jelas Wahyu.

Tantangan lain dalam memasarkan produk organik adalah persepsi konsumen terhadap tampilan sayuran. Produk organik kerap dinilai kurang menarik karena adanya bekas gigitan ulat.

Namun menurut Wahyu, hal tersebut justru menjadi penanda alami kualitas produk. “Secara alamiah, ulat hanya memakan tanaman yang bebas dari racun kimia,” ungkapnya.

Selain lebih sehat, sistem pertanian organik yang diterapkan Askara juga dinilai lebih efisien karena biaya perawatan dan pengobatan tanaman relatif lebih murah dibandingkan pertanian berbasis bahan kimia.

Bagi masyarakat maupun petani yang tertarik beralih ke sistem pertanian organik, Askara membuka ruang untuk belajar bersama mengenai teknik budidaya yang lebih ekonomis, sehat, dan ramah lingkungan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.