Harga Telur Anjlok, Peternak Ayam Petelur di Kota Batu Rugi Hingga Rp 750 Ribu per Ha

oleh -316 Dilihat
WhatsApp Image 2026 06 11 at 2.25.28 PM
Peternak ayam petelur di Kota Batu (foto: Putut Priyono)

KabarBaik.co, Batu – Peternak ayam petelur di Kota Batu tengah menghadapi tekanan berat akibat anjloknya harga jual telur di tengah melonjaknya biaya pakan. Kondisi tersebut membuat para peternak harus menanggung kerugian setiap hari karena harga jual tidak mampu menutup biaya produksi.

Salah satu peternak ayam petelur di Kota Batu Ludi Tanarto mengungkapkan bahwa harga telur di tingkat peternak saat ini merosot hingga Rp 21 ribu per kilogram. Sementara itu, biaya pakan terus mengalami kenaikan seiring fluktuasi nilai tukar dolar Amerika Serikat terhadap rupiah.

Menurut Ludi, kenaikan harga konsentrat terjadi secara bertahap sebanyak empat kali dalam beberapa waktu terakhir. Kenaikan terakhir tercatat pada 8 Juni 2026 sebesar Rp 250 per kilogram. Kondisi tersebut dipicu tingginya ketergantungan bahan baku konsentrat impor yang mencapai 80 hingga 90 persen.

“Mulai gejolak kurs dolar naik sampai hari ini sudah Rp 850 per kilogram kenaikan harga untuk konsentrat saja, belum jagungnya. Kalau jagung itu naiknya sekitar Rp 1.000-an,” ujarnya.

Kenaikan biaya pakan membuat Harga Pokok Produksi (HPP) telur ikut terdongkrak. Saat ini biaya produksi telur berada di kisaran Rp 22.500 hingga Rp 23.000 per kilogram, lebih tinggi dibanding harga jual yang hanya Rp 21.000 per kilogram.

Akibatnya, peternak harus menanggung kerugian sekitar Rp 1.500 per kilogram telur yang dijual. Dengan produksi harian mencapai 500 kilogram dari populasi sekitar 9.000 ekor ayam petelur, Ludi memperkirakan kerugian yang dialaminya mencapai Rp 750 ribu setiap hari.

“Kalau biaya produksi kita anggap Rp 22.500 dan hari ini harga jual Rp 21.000, berarti per kilonya rugi Rp 1.500. Kalau produksi kita 500 kilo, berarti sehari rugi Rp 750.000,” ungkapnya.

Di tengah kondisi tersebut, Ludi mengaku mendapat informasi mengenai imbauan dari Kementerian Pertanian agar peternak melakukan afkir dini terhadap ayam petelur berusia di atas 90 minggu. Langkah itu bertujuan mengurangi populasi ayam petelur nasional sehingga harga telur dapat kembali terdongkrak.

Namun, kebijakan tersebut belum dapat diterapkan di kandangnya karena mayoritas ayam yang dipelihara masih berada pada usia produktif, yakni sekitar 50 hingga 60 minggu.

Selain itu, ia juga menegaskan bahwa pengurangan tenaga kerja bukan menjadi pilihan untuk menekan biaya operasional. Menurutnya, jumlah pekerja yang ada saat ini sudah disesuaikan dengan kebutuhan perawatan ternak.

“Kalau mengurangi pegawai tidak bisa, karena nanti ayamnya tidak ada yang merawat. Setting-an jumlahnya itu sudah pas,” tegasnya.

Ludi menilai kondisi yang terjadi saat ini dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni melemahnya daya beli masyarakat yang berdampak pada turunnya permintaan telur serta kenaikan biaya pakan akibat penguatan dolar AS.

“Ini ada dua faktor yang mempengaruhi situasi saat ini. Daya beli masyarakat turun dan pakan naik karena dolar terus melambung. Nah ini akhirnya membuat peternak rugi,” jelasnya.

Karena itu, para peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah untuk menstabilkan harga telur dan biaya pakan. Selain itu, peningkatan daya beli masyarakat dinilai menjadi kunci agar harga telur kembali membaik dan usaha peternakan ayam petelur tetap dapat bertahan.

“Harapannya pemerintah bisa segera menstabilkan daya beli masyarakat yang melemah agar harga telur bisa kembali naik dan mengatasi persoalan dolar yang makin tinggi untuk menurunkan harga pakan,” tandasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Putut Priyono
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.