KabarBaik.co, Surabaya – DPRD Jatim menaruh perhatian serius terhadap anjloknya harga telur ayam di tingkat peternak yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Kondisi tersebut dinilai mengancam keberlangsungan usaha peternakan karena harga jual terus menurun, sementara biaya produksi masih tinggi.
Komisi B DPRD Jatim bahkan berencana memanggil organisasi perangkat daerah (OPD) terkait untuk meminta penjelasan sekaligus mencari solusi atas persoalan yang kini dikeluhkan peternak di berbagai daerah.
“Komisi B memang berencana demikian (memanggil dinas terkait),” kata Anggota Komisi B DPRD Jatim, Erma Susanti, Kamis (4/6).
Menurut Erma, penurunan harga telur harus segera mendapat perhatian pemerintah. Sebab, harga telur di tingkat peternak terus merosot di tengah tingginya biaya pakan yang menjadi komponen terbesar dalam usaha peternakan ayam petelur.
Jika kondisi tersebut dibiarkan berlarut-larut, keuntungan peternak akan semakin tergerus dan berpotensi mengganggu keberlangsungan usaha mereka.
Pemprov Jatim sebelumnya telah menyiapkan skema subsidi harga jagung melalui Bulog dan Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang bekerja sama dengan Kementerian Pertanian. Program tersebut diharapkan mampu menekan biaya pakan sehingga dapat membantu meringankan beban peternak.
Erma mendukung langkah tersebut. Selain subsidi pakan, ia juga mendorong peningkatan penyerapan telur melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar permintaan pasar dapat meningkat.
“Memang perlu, khususnya subsidi pakan ayam agar peternak tidak kolaps. Juga kebijakan BGN, penyerapan telur dalam menu diperbanyak,” ujarnya.
Sementara itu, anjloknya harga telur memicu aksi protes peternak di sejumlah daerah di Jawa Timur. Peternak di Blitar Raya, Tulungagung, Kediri, dan Trenggalek menggelar aksi damai di depan Kantor Bupati Blitar pada Senin (1/6).
Dalam aksi tersebut, mereka membagikan sekitar satu juta butir telur secara gratis kepada masyarakat sebagai bentuk protes terhadap kondisi pasar yang dinilai tidak berpihak kepada peternak. Telur-telur itu diangkut menggunakan sekitar 200 mobil pikap.
Koordinator aksi, Suyanto, mengatakan pembagian telur gratis dilakukan untuk menggambarkan beratnya kondisi yang tengah dihadapi peternak.
“Ini bentuk keprihatinan kami dengan harga telur yang terus turun,” katanya.
Ia menjelaskan, harga telur di tingkat peternak telah mengalami tren penurunan selama dua bulan terakhir. Di sisi lain, harga bahan baku pakan justru terus meningkat sehingga menambah beban biaya produksi.
Selain itu, peternak juga mengaku khawatir dengan munculnya wacana keterlibatan investor asing dalam bisnis ayam petelur yang dikhawatirkan semakin menekan peternak rakyat.
Saat ini harga telur di tingkat kandang hanya berkisar Rp 21.000 per kilogram. Angka tersebut jauh di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp 24.500 hingga Rp 26.500 per kilogram.
“Kami berharap harga pakan bisa stabil dan harga telur kembali sesuai HAP, yaitu Rp 24.500 per kilogram sampai Rp 26.500 per kilogram,” ujar Suyanto. (*)






