KabarBaik.co, Surabaya – Industri konstruksi di Jawa Timur tak hanya menjadi penggerak pembangunan infrastruktur, tetapi juga berperan besar dalam menciptakan lapangan kerja. Sepanjang Semester I 2026, sektor ini diperkirakan mampu menyerap hingga 210 ribu tenaga kerja langsung.
Ketua Umum Asosiasi Proyek Konstruksi Indonesia (APROKI) Aslakhul Umam mengatakan aktivitas pembangunan gedung yang mendominasi proyek konstruksi di Jawa Timur memberikan dampak ekonomi yang luas. Selain membuka lapangan pekerjaan, sektor ini juga menggerakkan berbagai industri pendukung.
“Selain sekitar 180 ribu hingga 210 ribu tenaga kerja langsung, sektor konstruksi juga menciptakan tiga hingga empat kali lipat tenaga kerja tidak langsung melalui perdagangan material, logistik, transportasi, hingga jasa pendukung lainnya,” ujar Aslakhul, Jumat (10/7).
Menurut Aslakhul, tingginya penggunaan material dalam negeri turut memperkuat industri konstruksi lokal. Sekitar 85 persen material yang digunakan berasal dari dalam negeri, sehingga memberikan kontribusi bagi industri semen, baja, bata, genteng, hingga berbagai produk konstruksi yang diproduksi di Jawa Timur.
Tak hanya itu, setiap investasi sebesar Rp 1 triliun di sektor bangunan diperkirakan mampu menghasilkan efek pengganda ekonomi (multiplier effect) hingga Rp 2,2 triliun terhadap aktivitas perekonomian daerah.
Di sisi sosial, pembangunan juga dinilai mulai memberikan manfaat bagi masyarakat. Program Sekolah Rakyat disebut memperluas akses pendidikan yang lebih berkualitas, sementara Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) turut membantu mengurangi jumlah rumah tidak layak huni sekitar 12 persen hingga pertengahan 2026.
Meski demikian, APROKI menilai industri konstruksi masih menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah keterlambatan pencairan anggaran pada awal tahun yang menyebabkan aktivitas konstruksi terkontraksi 6,93 persen pada Triwulan I 2026.
Kondisi tersebut mulai membaik setelah percepatan realisasi anggaran pada Triwulan II yang mendorong pertumbuhan sektor konstruksi sekitar 7,2 persen.
Selain itu, kenaikan harga bahan bangunan, terutama baja dan semen sebesar 3-5 persen sepanjang Maret hingga Juni 2026, turut menekan margin kontraktor. Industri juga masih membutuhkan lebih banyak tenaga kerja terampil, khususnya untuk pembangunan gedung ramah lingkungan serta konstruksi berstandar tahan gempa.
“Aspek lain yang juga perlu diperhatikan adalah akses logistik menuju daerah terpencil yang masih menjadi kendala sehingga memengaruhi distribusi material maupun pelaksanaan proyek,” kata Aslakhul.
Untuk menjaga momentum pertumbuhan hingga akhir tahun, APROKI mendorong pemerintah mempercepat proses birokrasi, memperkuat rantai pasok material lokal, serta memperluas penerapan teknologi konstruksi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Menurut Aslakhul, langkah tersebut penting agar manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih merata di seluruh wilayah Jawa Timur sekaligus memperkuat kontribusi sektor konstruksi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
“Aspek tersebut menjadi kunci agar manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih merata di seluruh wilayah Jawa Timur, sekaligus memperkuat kontribusi sektor konstruksi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” pungkasnya. (*)






