Transisi Energi di Pelosok Negeri

oleh -55 Dilihat
Seorang remaja menaiki sepeda listrik di Desa Karangankidul, Kecamatan Benjeng, Gresik. (Foto: Andika DP)
Seorang remaja menaiki sepeda listrik di Desa Karangankidul, Kecamatan Benjeng, Gresik. (Foto: Andika DP)

Hilirisasi Nikel Tak Hanya Melahirkan Mobil dan Motor Listrik, tetapi Mulai Mengubah Cara Warga Desa Bergerak

KabarBaik.co, Gresik – Ekosistem kendaraan listrik (electric vehicle/EV) mulai terasa hingga pelosok negeri Indonesia. Seperti tampak di Dusun Kalanganyar, Desa Karangankidul, Kecamatan Benjeng, Gresik. Sebagian besar masyarakatnya, mulai beralih menggunakan sepeda listrik untuk aktivitas sehari-hari.

Di Dusun Kalanganyar, sepeda listrik kini menjadi kendaraan favorit warga. Dari ibu rumah tangga pergi belanja, mengantar anak sekolah, untuk dipakai bermain bahkan menjadi kendaraan petani ke sawah. Jalanan kampung pun tidak sebising dulu, akibat deru suara knalpot yang berkurang.

Fenomena ini sudah terjadi sekitar dua tahun ke belakang. Dari yang awalnya segelintir orang, sekarang rerata 1 dari 3 rumah memiliki sepeda listrik di dusun yang berjarak sekitar 30 kilometer dari pusat kota Gresik ini. Gaya hidup baru yang massif nan ramah lingkungan.

Keluarga Desi Munawaroh, misalnya. Menggunakan sepeda listrik untuk keperluan mengantar sekolah adik dan aktivitas sehari-hari lainnya. Kondisi jalanan kampung yang relatif datar sangat mendukung penggunaan sepeda listrik ini.

“Pemakaiannya praktis, mudah, dan tidak perlu pakai BBM,” kata Desi sembari tersenyum, Kamis (9/7). Menurutnya, biaya operasional sepeda listrik juga murah. Konsumsi listriknya tidak menambah beban pengeluaran yang begitu signifikan.

“Karena sekali isi baterai kan tidak langsung habis dalam satu hari. Jadi tidak begitu signifikan menambah pengeluaran listrik rumah. Sebanding dengan kemudahan menggunakannya,” tandas perempuan berusia 26 tahun itu.

Kendati tidak diperuntukkan di jalan raya dan jarak tempuh yang relatif dekat, ekosistem sepeda listrik di Dusun Kalanganyar dan sekitarnya menjadi bukti transisi energi terbarukan yang mulai merambah hingga pelosok. Dan diproyeksikan terus meluas.

Hal ini juga bisa dilihat dari banyaknya toko sepeda listrik yang mulai menjamur di wilayah Kabupaten Gresik. Hampir di setiap kecamatan, akan dengan sangat mudah menemukannya. Harga yang cukup terjangkau di bawah Rp 5 juta, salah satu EV roda dua ini bisa menjadi pilihan.

Transisi Energi dan Hilirisasi Nikel Indonesia Perkuat Ekosistem EV

Transisi energi global mendorong peralihan dari energi fosil menuju energi bersih, dengan kendaraan listrik (electric vehicle/EV) menjadi salah satu pendorong utamanya. Dalam persaingan ini, penguasaan rantai pasok baterai menjadi faktor strategis yang menentukan daya saing suatu negara.

Nikel menjadi mineral kunci dalam baterai berbasis Nickel Manganese Cobalt (NMC) yang banyak digunakan pada kendaraan listrik berperforma tinggi. Karena itu, Indonesia tidak lagi memandang nikel sebagai komoditas tambang, melainkan fondasi industri baterai dan energi masa depan.

Untuk itu, pemerintah memperkuat hilirisasi dengan mengubah orientasi industri dari ekspor bijih mentah menuju produk bernilai tambah seperti Nickel Pig Iron (NPI), feronikel, hingga material baterai. Langkah berikutnya diarahkan pada pengembangan precursor dan Cathode Active Material (CAM) yang memiliki nilai ekonomi jauh lebih tinggi.

Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah kesempatan menegaskan, “Kunci daripada pembangunan suatu bangsa adalah memang kemampuan bangsa itu mengolah sumber alam menjadi bahan yang bermanfaat dan punya nilai tambah yang tinggi, sehingga bisa mendorong kemakmuran dan kesejahteraan.”

Terlebih lagi, Indonesia memiliki modal besar untuk memperkuat industri baterai karena menguasai lebih dari 40 persen cadangan nikel dunia. Keunggulan tersebut diperkuat dengan pembangunan smelter, teknologi pengolahan seperti High Pressure Acid Leach (HPAL), serta investasi pada industri pengolahan lanjutan.

Tidak hanya itu, pemerintah juga membangun ekosistem baterai nasional melalui pembentukan Indonesia Battery Corporation (IBC) yang melibatkan MIND ID, ANTAM, INALUM, Pertamina, dan PLN di bawah koordinasi Danantara Indonesia. IBC mengembangkan pabrik CAM di Halmahera dan pabrik sel baterai di Karawang untuk memperkuat rantai pasok dari hulu hingga hilir.

“MIND ID berkomitmen memastikan agenda hilirisasi nasional tidak hanya berjalan, tetapi juga memastikan manfaat yang nyata dan terukur bagi perekonomian nasional, sekaligus mendukung ketahanan energi, transisi energi terbarukan, serta pembangunan industri masa depan Indonesia,” kata Direktur Utama MIND ID Maroef Sjamsoeddin, dalam keterangannya.

Pasar EV Tumbuh Pesat

Dari sisi pasar, adopsi kendaraan listrik di Indonesia tumbuh pesat dalam beberapa tahun terakhir. Penjualan mobil listrik meningkat dari 272 unit pada 2021 menjadi 114.413 unit pada 2025, sementara penjualan motor listrik mencapai 77.078 unit pada 2024.

Hal ini tidak lepas dari dukungan kebijakan fiskal oleh pemerintah. Seperti insentif PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 100 persen untuk mobil listrik berbaterai nikel (NMC) dan 40 persen untuk baterai nonnikel (LFP). Pemerintah juga menyiapkan subsidi Rp 5 juta untuk pembelian sepeda motor listrik dengan target 200.000 unit kendaraan listrik.

Meski demikian, industri kendaraan listrik nasional masih menghadapi tantangan karena sekitar 70 persen mobil listrik yang terjual pada 2025 masih berstatus impor utuh (CBU). Selain itu, baterai NMC baru menguasai sekitar 4 persen pasar. Sedangkan baterai LFP masih mendominasi hingga 96 persen.

Ke depan, selain nikel, pemerintah juga mendorong pemanfaatan batu bara menjadi artificial graphite sebagai bahan anoda baterai melalui PT Bukit Asam. Jika berhasil, Indonesia akan memiliki pasokan dua komponen utama baterai NMC, yakni nikel untuk katoda dan graphite untuk anoda, sehingga memperkuat posisi dalam rantai pasok global.

Melalui hilirisasi yang terintegrasi, pemerintah menargetkan Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga produsen material baterai, sel baterai, hingga kendaraan listrik. Strategi ini diharapkan menciptakan nilai tambah, memperluas lapangan kerja, serta memperkuat ketahanan industri nasional di tengah meningkatnya permintaan kendaraan listrik dunia.

Dan yang pasti, hilirisasi nikel pada akhirnya bukan sekadar membangun smelter, pabrik baterai, atau mendorong penjualan mobil dan motor listrik di kota-kota besar. Dampaknya juga mulai terasa hingga ke pelosok desa. Tatkala sepeda listrik menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sehari-hari.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.