KabarBaik.co, Gresik – Hasil inovasi perguruan tinggi tidak seharusnya berhenti di laboratorium. Prinsip itulah yang diwujudkan Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya melalui program pemberdayaan masyarakat di Desa Srowo, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik.
Dipimpin dosen pelaksana Mahya Indra Tama, S.TP., M.T., mahasiswa Untag Surabaya mengimplementasikan Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa mesin Dry Press untuk mengolah limbah cair industri kerupuk ikan menjadi pupuk organik cair (POC) berbasis asam amino.
Kegiatan yang berlangsung di Unit Pengolahan dan Pengembangan BUMDesa Pahala bersama mitra UMKM Muhammad Asykuri pada Selasa (7/7) tersebut mengangkat tema Optimalisasi Limbah Cair UMKM Kerupuk Ikan Menjadi Pupuk Organik Cair (POC) Asam Amino Menggunakan TTG Mesin Dry Press di Desa Srowo.
Program ini menjadi bentuk nyata hilirisasi inovasi perguruan tinggi yang diarahkan untuk menjawab persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan produktivitas pelaku usaha.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa bersama dosen pelaksana mendampingi masyarakat mulai dari proses pengoperasian mesin Dry Press, pemisahan cairan limbah, teknik fermentasi, hingga menghasilkan pupuk organik cair yang siap dimanfaatkan. Teknologi tersebut memungkinkan limbah cair yang sebelumnya dibuang menjadi produk baru yang memiliki nilai ekonomi.
Mahya Indra Tama menjelaskan bahwa keberhasilan sebuah inovasi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan masyarakat dalam menguasai dan mengembangkannya secara mandiri.
“Pemberdayaan masyarakat harus menghasilkan perubahan yang berkelanjutan. Karena itu, kami tidak hanya menghadirkan teknologi, tetapi juga memastikan masyarakat memahami cara mengoperasikan, merawat, dan mengembangkan teknologi tersebut sesuai kebutuhan mereka,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemanfaatan mesin Dry Press merupakan salah satu contoh penerapan teknologi tepat guna yang sederhana, mudah dioperasikan, dan mampu memberikan dampak langsung bagi pelaku UMKM.
“Limbah cair industri perikanan sebenarnya masih memiliki kandungan nutrisi yang dapat dimanfaatkan. Melalui proses ekstraksi dan fermentasi, limbah tersebut berubah menjadi pupuk organik cair berbasis asam amino yang memiliki manfaat bagi tanaman sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat,” kata Mahya.
Selain memberikan pelatihan teknis, tim pemberdayaan juga mengajak masyarakat memahami konsep ekonomi sirkular, yakni mengoptimalkan pemanfaatan limbah agar kembali menjadi sumber daya yang bernilai. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan efisiensi proses produksi UMKM.
Mitra UMKM, Muhammad Asykuri mengaku program tersebut memberikan pengetahuan baru yang sebelumnya belum pernah diperoleh.
“Selama ini kami menganggap limbah cair hanya sebagai sisa produksi yang harus dibuang. Setelah mendapatkan pendampingan dari Untag Surabaya, kami mengetahui bahwa limbah tersebut ternyata dapat diolah menjadi pupuk organik cair yang bernilai ekonomi. Ini menjadi peluang baru bagi usaha kami,” tuturnya.
Menurut Asykuri, pendampingan yang diberikan tidak berhenti pada penggunaan mesin, tetapi juga mencakup proses produksi hingga peluang pengembangan produk yang dapat dipasarkan.
“Kami berharap kerja sama seperti ini terus berlanjut. Dengan pendampingan dari perguruan tinggi, UMKM menjadi lebih percaya diri untuk menerapkan teknologi baru dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan,” imbuhnya.
Melalui kolaborasi antara dosen, mahasiswa, Pemerintah Desa Srowo, BUMDesa Pahala, dan pelaku UMKM, Untag Surabaya berharap model pemberdayaan masyarakat berbasis teknologi tepat guna ini dapat diterapkan di sentra-sentra pengolahan hasil perikanan lainnya.
Dengan demikian, inovasi perguruan tinggi tidak hanya menghasilkan solusi atas persoalan lingkungan, tetapi juga mampu memperkuat daya saing UMKM dan mendorong pembangunan ekonomi desa yang berkelanjutan.






