4 Kali Berobat Tak Sembuh dan Tidak Kunjung Dirujuk, Pasien Keluhkan Pelayanan Klinik Satkal Gresik

oleh -143 Dilihat
WhatsApp Image 2026 07 09 at 3.43.18 PM
Klinik Satelit Kalimantan (Satkal) di GKB Gresik (Imam Wahyudiyanta)

KabarBaik.co, Gresik – Seorang pasien mengeluhkan pelayanan di Klinik Satelit Kalimantan (Satkal) di GKB Gresik. Keinginannya untuk mendapat rujukan seolah mentah.

Pasien itu adalah E Rendra Yunenis, 55, warga GKB. Rendra mengaku sudah empat kali berkunjung ke Klinik Satkal. Dia ingin mendapatkan rujukan atas penyakitnya yang tak kunjung sembuh meski sudah dikasih obat oleh dokter Satkal.

“Saya sakit pinggang menjalar ke pantat, ke paha, betis, sama kaki. Kalau berdiri rasanya sakit. Sepertinya kena sarafnya,” ujar Rendra kepada KabarBaik.co, Kamis (9/7).

Rendra mengaku sudah merasakan itu sejak Desember 2025. Namun kondisi itu terasa lebih parah pada Maret 2026. Sehingga pada Juni kemarin ia mendatangi Klinik Satkal sebagai fakskes pertama.

“Kunjungan pertama diberi dokter pereda nyeri dan vitamin. Karena masih terus sakit, saya datang lagi ke klinik, masih di bulan Juni,” kata Rendra.

Pada kunjungan ke dua, Rendra mengaku diberi obet radang sendi, pereda nyeri, vitamin, dan kaku otot. Ternyata obat-obat itu juga tak membantu banyak. Obat itu hanya meredakan penyakitnya, bukan menyembuhkannya.

Karena penyakitnya dirasa makin menyiksa, Rendra pun datang kembali untuk ketiga kalinya. Kali ini Rendra meminta kepada dokter untuk dirujuk ke Rumah Sakit Petrokimia Gresik. Meski tak merujuk, namun dokter yang memeriksa memberi harapan kepada Rendra.

“Saya diberi obat pereda nyeri dan vitamin. Dokter itu mengatakan penyakit Rendra akan dievaluasi dan jika nanti tak sembuh, maka Rendra akan dirujuk.

Karena obat yang diberikan hanya pereda nyeri dan vitamin, maka rasa sakit yang dirasakan Rendra kembali kambuh. Rendra pun untuk kali keempat mendatangi Klinik Satkal. Namun dokter yang memeriksanya kali ini berbeda dengan dokter yang memeriksanya pada kunjungan ketiga.

“Dokter ini memberi pereda nyeri dan vitamin. Pas saya minta rujukan, dokter itu bilang kalau dirujuk ke RS Petro, nanti bakal membayar karena tidak di-cover sama BPJS,” cerita Rendra.

Rendra sendiri tidak mempersoalkan soal membayar atau tidak. Tapi Rendra mempertanyakan kewajiban dari Klinik Satkal sebagai faskes pertama apabila tidak bisa menangani suatu penyakit dengan kedatangan pasien berulang kali karena penyakit pasien yang belum sembuh.

“Bukan persolan membayar atau tidak, tapi kewajiban dari faskes apabila tidak bisa menangani satu atau dua, atau maksimal tiga kali kunjungan pasien, sebaiknya dirujuk ke dokter spesialis. Namun dokter itu seakan- akan menakuti dengan jawaban membayar. Bukan faktor membayar tapi pesoalannya kok pelayanannya seperti itu. Buat apa kita membayar BPJS mahal-mahal kelas satu tapi tidak bisa digunakan untuk tindakan selanjutnya,” keluh Rendra.

Rendra mengaku bagi dirinya pelayanan Klinik Satkal sangat mengecewakan sebagai faskes pertama. Bukan tidak mungkin, kata Rendra, ada pasien-pasien lain yang juga mengalami nasib seperti dirinya, penyakit yang tidak sembuh namun tidak diberi rujukan.

“Mungkin banyak terjadi ke pasien lain tapi gak ada yang melapor, tidak mau bersuara. Kasihan bagi pasien-pasien yang tidak mengerti. Mereka akan dbuat seperti ini terus, tidak sembuh-sembuh tapi tidak diberi rujukan,” lanjut Rendra.

Saat ini Rendra kebingungan. Upayanya untuk mendapat rujukan ternyata mentah di Klinik Satkal. Sementara obat dari dokter di Klinik Satkal hanya bersifat meredakan rasa sakit saja, tidak menyembuhkan penyakitnya.

“Saya mungkin akan mengajukan pindah faskes, tidak di Klinik Satkal lagi,” tandas Rendra.

Sementara itu, Kabid Usaha Medis Graha Perdana Medika drg Nur Rahmawati mengatakan bahwa pihaknya akan menelusuri lagi keluhan pasien tersebut. Mengenai rujukan, Nur mengatakan bahwa rujukan dilakukan berdasarkan pemeriksaan dokter, bukan atas permintaan pasien.

“Coba kami telusuri lagi mengenai kunjungannya. Nanti akan kami lihat dulu, kita periksa ulang lagi, kita evaluasi lagi. Nanti kami akan menghubungi pasien. Kalau atas permintaan sendiri dirujuk, nanti tidak bisa dicover BPJS,” kata Nur.

Nur menambahkan bahwa rujukan adalah berdasarkan pemeriksaan dokter bukan atas permintaan pasien. Dan BPJS sudah menetapkan diagnosa mana yang bisa dirujuk dan tidak. Jika diagnosa BPJS terhadap satu pasien tidak bisa dirujuk, maka rumah sakit juga tidak bisa memproses. Jikapun tetap dirujuk, maka BPJS juga tidak akan membayar.

“Jadi kita sama-sama menjaga, sama-sama enak,” tandas Nur. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.