KabarBaik.co, Malang – Peternak ayam petelur di Kota Malang dan Kota Batu kembali menghadapi tekanan berat. Harga telur di tingkat kandang anjlok hingga kisaran Rp 17.500-Rp 18.000 per kilogram, sementara biaya produksi terus membengkak akibat kenaikan harga pakan. Kondisi tersebut membuat peternak harus menjual telur jauh di bawah biaya pokok produksi dan terancam gulung tikar apabila situasi tidak segera membaik.
Peternak ayam petelur di kawasan Wonokoyo, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, Dani Uluf Suwanda, mengatakan penurunan harga telur sudah berlangsung sekitar sepekan terakhir. Di sisi lain, harga bahan baku pakan seperti jagung, konsentrat, dan katul justru terus mengalami kenaikan.
“Harga telur dari kandang sekarang cuma Rp 18.000 per kilogram. Sementara harga pakan naik terus, terutama jagung dan konsentrat. Peternak jadi tidak dapat apa-apa,” ujar Dani, Sabtu (27/6).
Dani mengelola sekitar 9.000 ekor ayam petelur yang setiap hari mampu menghasilkan sekitar 40 boks atau sekitar 400 kilogram telur. Namun, tingginya produksi tidak diimbangi dengan serapan pasar yang memadai sehingga penjualan semakin sulit.
“Kami cukup kesulitan mengeluarkan barang. Produksi tetap sekitar 400 kilogram per hari, tapi serapan pasar sedang seret,” ungkap dia.
Menurutnya, harga jual telur saat ini sudah tidak mampu menutup biaya produksi. Harga jagung yang sebelumnya sekitar Rp 5.500 per kilogram kini naik menjadi Rp 6.700 per kilogram. Begitu pula harga konsentrat yang naik dari sekitar Rp 400 ribu menjadi Rp 450 ribu per kemasan 50 kilogram.
“Sangat tidak nutut untuk biaya produksi,” tegasnya.
Ia menilai melemahnya permintaan dipicu berhentinya kebutuhan telur untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah. Selain itu, minimnya kegiatan hajatan pada bulan Muharram turut menekan konsumsi telur masyarakat.
“Permintaan memang menurun. MBG berhenti karena anak sekolah libur. Ditambah sekarang bulan Suro, hampir tidak ada hajatan, jadi kebutuhan telur ikut turun,” jelasnya.
Meski merugi, para peternak tetap harus menjual seluruh hasil produksi agar kerugian tidak semakin besar. Mereka juga mulai mencari pasar baru di luar pelanggan tetap untuk menjaga arus kas usaha.
“Biar sulit, barang harus tetap keluar. Kalau tidak dijual, kerugian justru semakin besar. Sekarang kami berusaha mencari pembeli baru selain pelanggan tetap,” terang dia.
Sedangkan, kondisi yang lebih memprihatinkan juga dialami peternak ayam petelur di Kota Batu. Penasihat Kelompok Peternak Ayam Petelur Kota Batu, Ludi Tanarto, mengatakan harga telur di tingkat kandang pada Sabtu (27/6) hanya berkisar Rp1 7.500 per kilogram, jauh di bawah biaya produksi yang mencapai sekitar Rp 24.000 per kilogram.
Menurut Ludi, kondisi tersebut telah berlangsung sejak awal Mei 2026 dan terus menggerus kemampuan keuangan para peternak.
“Kalau dihitung, biaya produksi sekitar Rp 24.000 per kilogram, sementara harga jual hanya Rp 17.500. Setiap kilogram yang dijual peternak pasti merugi,” ujar Ludi, lewat sambungan teleponnya.
Ia mengungkapkan peternak yang tidak memiliki akses pinjaman atau tambahan modal menjadi kelompok yang paling terdampak. Banyak di antaranya terpaksa menghentikan usaha karena tidak lagi mampu membeli pakan maupun menutup biaya operasional.
“Bagi peternak yang tidak bisa mencari dana pinjaman, langsung gulung tikar dan berhenti usaha,” ujarnya.
Ludi menyebut dampak krisis tersebut sudah mulai terlihat di Kota Batu. Sekitar 10 persen peternak ayam petelur dilaporkan telah menghentikan usahanya akibat terus merugi.
Para peternak berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga telur sekaligus mengendalikan harga pakan. Tanpa adanya intervensi, mereka khawatir jumlah peternak yang menutup usahanya akan terus bertambah dan berdampak pada pasokan telur dalam jangka panjang. (*)






