Cari Solusi Anjloknya Harga Telur, Pemprov Jatim Kumpulkan Peternak dan Pedagang

oleh -102 Dilihat
WhatsApp Image 2026 07 08 at 10.47.50 AM
Peternak Ayam Petelur di Malang (Ist)

KabarBaik.co, Surabaya – Pemprov Jatim bergerak mencari jalan keluar atas anjloknya harga telur ayam ras yang membuat banyak peternak merugi. Salah satu langkah yang disiapkan adalah mempertemukan peternak, pedagang perantara (middleman), serta seluruh pemangku kepentingan dalam satu forum untuk membahas persoalan dari hulu hingga hilir.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menegaskan penyelesaian persoalan harga telur tidak bisa hanya berfokus pada pedagang perantara. Menurutnya, seluruh mata rantai distribusi harus dibahas secara terbuka agar penyebab turunnya harga dapat diurai secara menyeluruh.

“Jangan hanya bertemu dengan middleman saja. Kita dudukkan bersama peternak. Kalau memang ada anggapan margin yang diambil terlalu besar, mari dibuka bersama perhitungannya,” ujar Emil, Rabu (8/7).

Ia menjelaskan forum tersebut akan menjadi ruang dialog untuk mengidentifikasi berbagai persoalan distribusi yang selama ini dikeluhkan peternak. Dengan demikian, solusi yang dihasilkan diharapkan dapat mengakomodasi kepentingan seluruh pelaku usaha, mulai dari peternak hingga pedagang.

Emil mengungkapkan, Badan Pangan Nasional (Bapanas) telah menetapkan Harga Acuan Pembelian (HAP) telur ayam ras di tingkat peternak sebesar Rp 26.500 per kilogram. Namun, harga di lapangan masih jauh di bawah angka tersebut.

Berdasarkan data Sistem Informasi

Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur, harga telur ayam ras pada Selasa (7/7/2026) tercatat sebesar Rp 23.195 per kilogram, sedikit naik dibanding sehari sebelumnya yang berada di level Rp 23.172 per kilogram. Meski demikian, harga tersebut masih berada di bawah HAP yang telah ditetapkan pemerintah.

Kondisi tersebut membuat pedagang perantara kesulitan apabila diwajibkan membeli telur sesuai harga acuan, sementara harga jual di pasar justru lebih rendah. Karena itu, Pemprov Jawa Timur menilai persoalan tidak cukup diselesaikan melalui penerapan HAP semata, tetapi juga harus menelusuri penyebab ketidakseimbangan harga di sepanjang rantai pasok.

Selain faktor distribusi, Emil menyebut anjloknya harga telur juga dipicu oleh kelebihan pasokan (over supply). Menurutnya, masa produktif ayam petelur yang idealnya sekitar 90 minggu kini banyak diperpanjang hingga sekitar 120 minggu karena sebelumnya permintaan telur sempat tinggi.

Di saat yang sama, populasi ayam petelur terus bertambah sehingga produksi meningkat lebih cepat dibandingkan pertumbuhan permintaan. Akibatnya, pasokan melimpah dan menekan harga telur di tingkat peternak.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, Pemprov Jawa Timur terus berkoordinasi dengan penyedia bibit, mulai dari grandparent stock hingga produsen DOC (Day Old Chick), agar penambahan populasi ayam petelur dapat dikendalikan sesuai kebutuhan pasar.

Melalui langkah tersebut, pemerintah berharap keseimbangan antara produksi dan permintaan dapat kembali terjaga sehingga harga telur berangsur stabil, sekaligus memberikan kepastian usaha dan melindungi keberlangsungan bisnis para peternak. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Putut Priyono
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.