KabarBaik.co, Surabaya – Bursa Efek Indonesia (BEI) terus mendorong penguatan kualitas perdagangan saham melalui implementasi program Liquidity Provider (LP) Saham. Inisiatif ini menjadi salah satu strategi Bursa dalam meningkatkan likuiditas pasar sekaligus memperkuat daya tarik investasi di pasar modal Indonesia.
Melalui program tersebut, Anggota Bursa yang berperan sebagai LP Saham menyediakan kuotasi beli dan jual secara konsisten di pasar. Kehadiran kuotasi yang berkesinambungan diharapkan mampu menciptakan perdagangan yang lebih likuid, efisien, dan transparan sehingga memudahkan investor dalam melakukan transaksi serta mendukung pembentukan harga saham yang lebih optimal.
BEI menilai respons pelaku industri terhadap program ini menunjukkan perkembangan yang positif. Hingga saat ini, sudah terdapat dua Anggota Bursa yang aktif menjalankan fungsi LP Saham, yakni PT Phintraco Sekuritas yang mulai melakukan kuotasi sejak 20 April 2026 dan PT Mandiri Sekuritas yang menyusul pada 4 Mei 2026.
Pjs Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan bertambahnya partisipasi Anggota Bursa menjadi sinyal meningkatnya dukungan industri terhadap upaya pendalaman pasar modal nasional.
“Penambahan partisipasi Anggota Bursa ini menunjukkan meningkatnya minat pelaku industri terhadap program LP Saham sekaligus menjadi komitmen bersama dalam mendukung peningkatan kualitas dan likuiditas perdagangan di Bursa,” ujar Jeffrey, Kamis (11/6).
Menurutnya, BEI berharap semakin banyak perusahaan sekuritas yang bergabung dalam program tersebut seiring meningkatnya pemahaman pelaku pasar mengenai manfaat dan fungsi strategis LP Saham.
Implementasi perdana yang dilakukan Phintraco Sekuritas mencakup lima saham, yakni PT Gudang Garam Tbk (GGRM), PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM), PT Trans Power Marine Tbk (TPMA), PT Asuransi Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU), dan PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS).
Hasil awal yang dicatat Bursa menunjukkan adanya peningkatan aktivitas perdagangan pada saham-saham tersebut. Dalam periode satu minggu sebelum dan sesudah implementasi LP Saham, rata-rata harian nilai transaksi sejumlah saham mengalami kenaikan antara 25,98% hingga 119,44%.
Pencapaian tersebut menjadi indikator bahwa keberadaan LP Saham berpotensi meningkatkan likuiditas sekaligus memperkuat aktivitas perdagangan di pasar.
“Kami melihat bahwa kegiatan LP Saham memberikan dampak positif terhadap peningkatan kualitas perdagangan dan likuiditas saham di pasar, yang secara tidak langsung memperkuat kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia,” kata Jeffrey.
Dari sisi pelaksana, Direktur Utama Phintraco Sekuritas, Ferawati, menegaskan partisipasi perusahaan dalam program LP Saham merupakan bagian dari komitmen untuk berkontribusi lebih besar terhadap pengembangan pasar modal nasional.
Menurutnya, sejak tahap awal implementasi, program LP Saham telah menunjukkan arah yang positif dalam memperkuat struktur perdagangan di Bursa. Namun, keberhasilan program tersebut tidak bisa hanya mengandalkan satu pihak.
Ferawati menilai kolaborasi antara Bursa, Anggota Bursa, perusahaan tercatat, asosiasi pasar modal, hingga investor menjadi faktor penting agar manfaat LP Saham dapat dirasakan secara luas.
“Dalam implementasinya, kami melihat efektivitas LP Saham membutuhkan kolaborasi yang kuat antara Bursa, Anggota Bursa, Perusahaan Tercatat, dan asosiasi terkait, khususnya dalam membangun pemahaman yang lebih komprehensif mengenai fungsi strategis LP Saham dalam mendukung kualitas likuiditas perdagangan,” ujarnya.
Untuk mendukung pelaksanaan program tersebut, Phintraco Sekuritas telah menyiapkan berbagai infrastruktur pendukung mulai dari sistem teknologi, kesiapan tim dealing, hingga kerangka manajemen risiko yang dirancang untuk menjaga aktivitas kuotasi tetap berjalan optimal dan berkelanjutan.
Ferawati menambahkan peran LP Saham tidak sekadar menyediakan kuotasi beli dan jual. Lebih dari itu, aktivitas tersebut menjadi bagian dari upaya membangun pasar modal yang lebih likuid, efisien, dan memiliki kredibilitas yang kuat di mata investor.
Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah menjaga konsistensi kuotasi di tengah dinamika pasar dan volatilitas yang terus berubah. Karena itu, diperlukan disiplin perdagangan, dukungan teknologi yang memadai, serta pengelolaan risiko yang kuat agar likuiditas yang tercipta tetap sehat dan berkesinambungan.
Ke depan, prospek program LP Saham dinilai cukup menjanjikan. Hal ini sejalan dengan fokus BEI dan regulator dalam mendorong pendalaman pasar (market deepening) serta meningkatkan kualitas perdagangan di pasar modal Indonesia.
Dengan semakin banyaknya pihak yang terlibat dan berkolaborasi, BEI optimistis likuiditas pasar akan terus meningkat. Pada akhirnya, pasar modal Indonesia diharapkan menjadi semakin menarik bagi investor domestik maupun global, sekaligus mampu mendukung pertumbuhan ekosistem investasi yang sehat dan berkelanjutan. (*)






