KabarBaik.co, Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) terus memperluas jangkauan literasi dan inklusi pasar modal ke berbagai kalangan profesi. Kali ini, BEI menggandeng sejumlah maskapai nasional untuk mengajak para pekerja industri penerbangan, mulai dari pilot, awak kabin hingga personel operasional, lebih mengenal investasi saham dan pengelolaan keuangan.
Inisiatif tersebut diwujudkan melalui peluncuran program “Awak Pesawat Investor Saham” yang diperkenalkan dalam rangkaian pembukaan Sharia Investment Week (SIW) 2026 di Main Hall Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta.
Program ini melibatkan sejumlah perusahaan penerbangan nasional, yakni PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, PT Citilink Indonesia, PT AirAsia Indonesia Tbk, dan PT Jaya Trishindo Tbk.
Pelaksana Tugas Sementara Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan industri penerbangan memiliki posisi strategis karena menjangkau masyarakat di berbagai wilayah Indonesia. Karena itu, sektor ini dinilai dapat menjadi mitra penting dalam memperluas edukasi keuangan sekaligus meningkatkan partisipasi masyarakat di pasar modal.
Menurut Jeffrey, pekerja industri penerbangan menghadapi dinamika pekerjaan yang tinggi sehingga perlu memiliki perencanaan keuangan yang matang serta pemahaman mengenai investasi yang legal dan terukur.
“Kami berharap para pekerja di industri aviasi semakin memahami pentingnya pengelolaan keuangan dan investasi yang legal, terukur, dan sesuai dengan tujuan keuangan masing-masing,” ujarnya, Jumat (5/6).
Ia menjelaskan peran industri penerbangan tidak hanya penting dalam mendukung konektivitas nasional dan mobilitas masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang terus berkembang. Oleh karena itu, edukasi mengenai pengelolaan keuangan dan mitigasi risiko dinilai relevan untuk memperkuat ketahanan finansial para pekerjanya.
Di sisi lain, pertumbuhan jumlah investor pasar modal Indonesia juga terus menunjukkan tren positif. Hingga akhir April 2026, jumlah investor pasar modal tercatat mencapai 26,4 juta Single Investor Identification (SID), atau meningkat lebih dari 30 persen dibandingkan akhir tahun sebelumnya. Sementara itu, jumlah investor saham telah melampaui 9,5 juta SID.
BEI berharap pertumbuhan tersebut tidak hanya berasal dari kalangan masyarakat umum, tetapi juga dari berbagai profesi, termasuk pekerja di sektor penerbangan.
“Melalui kolaborasi ini, kami ingin menghadirkan edukasi pasar modal yang lebih dekat, relevan, dan mudah diakses oleh para pekerja industri penerbangan,” kata Jeffrey.
Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan menyambut positif program tersebut. Menurutnya, penguatan literasi keuangan menjadi bagian penting dalam membangun sumber daya manusia industri penerbangan yang adaptif dan memiliki daya saing tinggi.
Di tengah perubahan industri yang berlangsung cepat, kata Glenny, ketahanan finansial menjadi salah satu faktor yang mendukung profesionalisme pekerja.
“Kami meyakini program ini dapat memperkuat fondasi dalam mendorong terciptanya ekosistem industri penerbangan yang lebih produktif, tangguh, dan siap menghadapi masa depan,” ujarnya.
Senada dengan itu, Direktur Utama AirAsia Indonesia Captain Achmad Sadikin menilai pemahaman mengenai investasi dan pengelolaan keuangan dapat membantu pekerja mempersiapkan masa depan yang lebih baik.
Menurutnya, peningkatan literasi keuangan juga berpotensi mendorong terciptanya budaya finansial yang sehat dan produktif di lingkungan industri penerbangan.
Peluncuran program ditandai dengan penyematan pin “Aku Investor Saham” kepada perwakilan pekerja industri penerbangan, mulai dari pilot, awak kabin hingga personel operasional. Kegiatan tersebut juga disertai dukungan simbolis pembukaan rekening investasi bagi peserta.
Ke depan, BEI menyatakan program edukasi pasar modal bagi pekerja industri penerbangan akan terus dikembangkan sesuai kebutuhan masing-masing perusahaan. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara langsung maupun melalui platform digital.
Melalui program ini, BEI berharap budaya investasi yang sehat dapat tumbuh di lingkungan industri penerbangan dan menjadi inspirasi bagi sektor-sektor lainnya untuk ikut meningkatkan literasi serta inklusi pasar modal di Indonesia. (*)






