KabarBaik.co, Jakarta- Pada musim hajin tahun ini, Pemerintah sebetulnya telah memperketat persyaratan kesehatan bagi calon jemaah melalui mekanisme istitaah kesehatan. Toh, angka kematian jemaah haji Indonesia pada musim haji 2026 masih tergolong tinggi. Yakni, lebih dari 240 jemaah, sebelum operasional haji berakhir. Angka itu jauh dari target, karena awalnya diharapkan bisa ditekan hingga sekitar 150 orang.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas upaya mitigasi risiko kesehatan yang selama beberapa tahun terakhir terus diperkuat. Pasalnya, setiap calon jemaah kini wajib menjalani pemeriksaan kesehatan berlapis sebelum dinyatakan memenuhi syarat atau istitaah untuk berangkat ke Tanah Suci.
Menteri Haji dan Umrah RI KH Mochamad Irfan Yusuf mengakui jumlah jemaah yang wafat memang mengalami penurunan dibanding musim haji tahun lalu. Namun, pihaknya menilai angka tersebut masih relatif tinggi. “Jumlah yang meninggal ada 240 sekian. Ini memang sudah ada perbaikan dibanding tahun lalu, tetapi masih jauh dari harapan kita,” ujar Irfan Yusuf di Bandara Soekarno-Hatta kepada wartawan, Senin (8/6) lalu.
Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian utama dalam evaluasi penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Tim Amirul Hajj merekomendasikan penguatan layanan kesehatan selama di Arab Saudi, mengingat masih tingginya angka kematian terjadi meskipun proses skrining kesehatan sebelum keberangkatan telah diperketat.
Selain faktor kesehatan, pemerintah juga mengevaluasi kepadatan jemaah di Mina, keterlambatan transportasi pada fase Armuzna, serta berbagai tantangan operasional lain yang berpotensi memengaruhi kondisi fisik jemaah, khususnya kelompok lanjut usia dan berisiko tinggi.
Bagi pemerintah, penurunan angka kematian dari tahun sebelumnya itu tentu belum cukup. Dibandingkan dengan negara-negara pengirim jemaah haji lainnya, angka itu masih sangat tinggi. Berdasarkan informasi yang dihimpun redaksi dari berbagai media, jemaah haji yang wafat selama di Tanah Suci dari negara lain jumlahnya di kisaran angka puluhan.
Karena itu, evaluasi bukan hanya memastikan jemaah yang berangkat dalam kondisi sehat, tetapi juga menjaga kesehatan mereka selama menjalani rangkaian ibadah yang sangat berat secara fisik di tengah cuaca ekstrem dan kepadatan jutaan jemaah dari seluruh dunia. (*)






