Cerita Mbah Bas di Usia 71 tahun Setia Rawat Ratusan Makam TPU Gedangan Jombang

oleh -382 Dilihat
Mbah Bas, penjaga makam TPU Gedangn Jombang (Teguh Setiawan)

KabarBaik.co — Saat sebagian besar warga Desa Gedangan masih terlelap dalam sunyi subuh, langkah seorang lelaki sepuh justru baru dimulai. Basuki, atau akrab disapa Mbah Bas, 71 tahun, berjalan pelan menyusuri barisan nisan yang berembun di TPU Desa Gedangan, Mojowarno, Jombang. Di tempat inilah Mbah Bas mengabdi selama puluhan tahun, tanpa pamrih dan tanpa keluhan.

Bagi kebanyakan orang, pemakaman hanya dikunjungi saat duka. Namun bagi Mbah Bas, kompleks luas itu adalah ‘kantor’ sekaligus ruang pengabdian.

Sejak pukul 07.00 WIB setiap hari, Mbah Bas hadir tanpa jadwal resmi dan tanpa upah tetap, menyapu daun kering, merapikan nisan, hingga memastikan jalan makam tetap nyaman untuk para peziarah.

“Kalau tidak dibersihkan, kasihan. Makam itu tempat istirahat terakhir orang, harus dijaga,” ujar Mbah Bas, Kamis (20/11)

Di masa mudanya, Mbah Bas dikenal sebagai pengusaha genteng dan batu bata merah. Namun seiring usia, ia memutuskan berhenti dari pekerjaan itu. Niat awalnya sederhana: menikmati masa tua dengan tenang. Tapi hidup membawanya ke jalan lain.

Dimulai dari sekadar membantu juru kunci lama menyapu dan memperbaiki nisan, ‘pekerjaan kecil’ itu berubah menjadi panggilan hidup. Ia makin sering hadir di makam, hingga masyarakat tak lagi bisa memisahkan Mbah Bas dari TPU Gedangan.

Pada 2024, melalui musyawarah desa, warga akhirnya menetapkan Mbah Bas dan rekannya, Syaiful, 54 tahun, atau Cak Pul, sebagai juru kunci resmi TPU Gedangan dan Mojojejer.

“Warga menunjuk saya. Katanya saya sudah lama merawat makam, jadi paham kondisinya,” tuturnya mengenang.

TPU Gedangan melayani dua desa sekaligus. Luas kompleksnya memuat ratusan makam yang harus dirawat setiap hari. Saat musim hujan tiba, tanah gembur sering membuat nisan miring atau ambles, menuntut penjaga bekerja lebih sering.

Namun tugas terberat bukanlah membersihkan makam, melainkan menggali liang lahat.

Kabar duka sering datang malam hari. Mau tak mau, Mbah Bas dan Cak Pul berangkat ke makam saat kampung telah sunyi, membawa cangkul dan lampu senter. Tanah basah, dingin, dan berat bukan alasan untuk menunda.

“Namanya orang meninggal, tidak bisa menunggu. Harus segera dimakamkan,” ujarnya.

Mbah Bas tidak pernah lupa masa pandemi COVID-19. Ia menyaksikan bagaimana TPU Gedangan begitu penuh hingga nyaris tak pernah sepi.

“Sehari pernah 13 jenazah. Saya tidak pulang. Tidur di makam, bangun lagi untuk menggali,” kisahnya lirih.

Baginya, itu masa paling berat sekaligus paling menguras tenaga dan batin. Namun ia tetap menjalankan tugas, tanpa publikasi dan tanpa penghargaan apa pun.

Meski memegang peran penting, Mbah Bas dan Cak Pul tidak memiliki gaji rutin. Penghasilan mereka bergantung pada kotak infak makam yang dibuka tiap bulan. Jika terkumpul Rp 300.000, maka masing-masing hanya menerima sekitar Rp 150.000.

Kadang keluarga almarhum memberi uang terima kasih, jumlahnya tak menentu.

“Kadang Rp 20.000, Rp 10.000, pernah Rp 5.000. Yang penting ikhlas,” ucapnya.

Setahun sekali ada tunjangan senilai Rp 1.000.000 dan itu pun harus dibagi dua.

Sementara itu, Pemerintah Desa Gedangan memberikan tunjangan tambahan dari APBDes sebesar Rp 500.000 setiap enam bulan sesuai Peraturan Bupati Jombang Nomor 31 Tahun 2023.

“Jumlahnya memang tidak besar, tapi kami tetap berupaya memberikan yang kami bisa anggarkan,” jelas Kepala Desa Gedangan, Soekarno.

Di rumah, Mbah Bas tinggal bersama anak keduanya. Dua anak lainnya hidup terpisah dan merantau. Tak seorang pun keberatan dengan pilihan hidup sang ayah karena mereka tahu, tugas itu bukan sekadar pekerjaan.

“Selama saya bisa, saya kerjakan. Badan ini selama kuat ya dipakai,” ujarnya mantap.

Bagi Mbah Bas, setiap makam memiliki cerita. Ia menyaksikan tangis, perpisahan, dan keikhlasan warga yang merelakan orang tercinta. Dalam sunyi yang ia jaga setiap hari, ia meyakini bahwa pekerjaannya adalah amanah yang tak boleh ditinggalkan. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.