Cerita Pedagang Musiman Bendera di Nganjuk, Dulu Laku 20 Lembar Sehari, Kini Buat Makan Saja Susah

oleh -181 Dilihat
Endrawan, salah satu pedagang atribut kemerdekaan asal Bandung, di tepi jalan di kawasan perkotaan Nganjuk. (Agus)
Endrawan, salah satu pedagang atribut kemerdekaan asal Bandung, di tepi jalan di kawasan perkotaan Nganjuk. (Agus)

KabarBaik.co, Nganjuk – Suasana menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah perkotaan Nganjuk tahun ini terasa berbeda.

Meski lapak-lapak di titik strategis telah dipenuhi beragam warna merah putih mulai dari bendera, umbul-umbul, hingga dekorasi background aktivitas jual beli atribut kemerdekaan justru tampak lesu.

Salah satu pedagang musiman asal Bandung, Endrawan, mengungkapkan penurunan drastis penualan yang dialaminya bersama rekan-rekan seprofesi.

“Antusias pembeli sekarang sangat menurun hampir 80 persen turunnya,” tutur Endrawan saat ditemui di lapaknya, Sabtu (8/8) sore.

Dari kelompoknya sendiri, terdapat 10 pedagang asal Bandung yang tersebar di wilayah perkotaan Nganjuk sejak tanggal 20 lalu.

Faktor lesunya perekonomian serta maraknya perdagangan secara daring (online) dinilai menjadi pemicu utama merosotnya omzet pedagang fisik.

“Penyebabnya ekonomi, sepertinya. Selain itu, produk zaman sekarang kalah sama online. Kalau online bisa menjual murah, tapi kualitas barangnya hancur sebetulnya,” jelasnya.

Penurunan omzet ini dirasakan Endrawan sangat nyata jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.

“Sekarang sehari cuma laku 2 sampai 5 biji. Kalau dulu-dulu bisa sampai 20 biji sehari. Sekarang mah buat makan juga susah,” tambah Endrawan dengan logat kental Bandung.

Di lapaknya, Endrawan menjual berbagai jenis atribut berbahan peles KH-Tex hingga bahan khusus background. Untuk harga, bendera kecil dibanderol sekitar Rp 20 ribu, umbul-umbul Rp 35 ribu, dan kain background seharga Rp 180 ribu.

Dari sekian banyak jenis, bendera berukuran 120 cm x 80 cm menjadi item yang paling dicari masyarakat.

Melihat kondisi pasar yang kian sepi menjelang 17 Agustus, para pedagang berharap ada imbauan atau dorongan lebih tegas dari pemerintah setempat kepada masyarakat untuk menyemarakkan bulan kemerdekaan.

“Harapan kami untuk pemerintah setempat, harusnya dianjurkan untuk pemasangan bendera. Ini kan mengingat perjuangan pahlawan dulu. Kita dulu tidak ikut perang, sekarang tinggal ikut berjuang menyemarakkannya,” ungkapnya.

Para pedagang musiman ini berencana bertahan menjajakan dagangannya hingga tanggal 16 Agustus mendatang sebelum kembali ke daerah asal.

“Sampai tanggal 16, habis tidak habis tetap pulang,” pungkas Endrawan.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Agus Karyono
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.