KabarBaik.co- Beberapa waktu lalu, PT Bank Pembangunan Daerah (BPD) Jatim Tbk kembali diguncang skandal. Bank Jatim Cabang Jakarta kebobolan kasus kredit fiktif. Jumlahnya terbilang fantastis. Yakni, mencapai Rp 569,4 miliar. Dalam perkara ini, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jakarta sudah menetapkan sejumlah tersangka dan menjebloskannya ke tahanan. Termasuk Benny, kepala Bank Jatim Jakarta.
Dari informasi yang dihimpun, kasus pidana korupsi di lingkup Bank Jatim tersebut bukan kali pertama. Namun, sudah beberapa kali terjadi. Di antara yang pernah mengemuka adalah pembobolan uang nasabah Rp 119,9 miliar dalam kasus money laundry (TPPU) dengan memanfaatkan kelemahan BI Fast pada J Connect Bank Jatim. Selain itu, skandal kredit fiktif di Bank Jatim Cabang Syariah Sidoarjo senilai lebih dari Rp 25 miliar pada 2022. Kemudian, kredit fiktif senilai Rp 170 miliar di Bank Jatim Cabang Kepanjen, Malang, 2021 lalu.
Di tengah sorotan tersebut, Bank Jatim kini tengah membuka lowongan. Seleksi calon pengurus. Baik jajaran komisaris maupun direksi. Untuk posisi komisaris terdiri atas komisaris utama, komisaris, dan komisaris independen. Adapun jabatan direksi masing-masing direktur utama, direktur kepatuhan, direktur keuangan, treasury & global service, direktur bisnis mikro, ritel & usaha syariah, dan direktur manajemen risiko.
Lantas, berapa gaji mereka? Dari informasi yang dihimpun, gaji direktur utama sekitar Rp 130 juta per bulan dan direktur berkisar Rp 117 juta per bulan (90 persen dari gaji dirut. Sedangkan, gaji komisaris utama sekitar Rp 58.500.000 per bulan (45 persen dari gaji direktur utama) dan komisaris berkisar Rp 52.650.000 per bulan (90 persen dari gaji komisaris utama).
Tidak hanya gaji bulanan. Pengurus juga mendapatkan fasilitas dan tunjangan tambahan. Di antaranya, Asuransi Jiwa dengan rincian Dirut USD 100.000 dan direktur USD 90.000. Adapun untuk komisaris utama USD 80.000 dan komisaris: USD 64.000. Selain itu, ada asuransi penghargaan akhir jabatan. Direksi mencapai 48 kali gaji terakhir dan komisaris 38 kali gaji terakhir. Mereka juga mendapatkan fasilitas kendaraan dinas. Termasuk BBM dan pengemudi.
Selain itu, tunjangan rumah. Perinciannya, direktur utama Rp 30.000.000 per bulan dan direktur Rp 27.000.000 per bulan. Diberikan pula biaya komunikasi dan BBM maksimal 20 persen dari gaji. Namun, data gaji dan tunjangan itu berdasarkan laporan 2018. Boleh jadi, struktur remunerasi itu berubah seiring waktu dan bergantung pada kebijakan internal dan regulasi yang berlaku.
Yang pasti, informasi tentang rekrutmen calon pengurus Bank Jatim sudah beredar. Di antaranya diumumkan melalui laman resmi Bank Jatim. Pendaftaran dibuka mulai 29 April 2025 sampai dengan 8 Mei 2025 (batas akhir pukul 24.00 WIB). Syarat-syarat untuk dapat mengikuti seleksi calon komisaris dan direksi, juga bisa telah diinformasikan. Ada begitu banyak persyaratan. Baik syarat umum dan syarat khusus.
Pemprov Jatim sebagai pemilik saham terbesar sudah membentuk panitia seleksi (pansel) melalui keputusan Gubernur Khofifah Indar Parawansa dengan nomor yang diterbitkan pada 20 Maret 2025. Prof Mohammad Nuh, mantan Rektor ITS serta mantan Menteri Pendidikan, ditunjuk sebagai ketua pansel dan Sekdaprov Jatim Adhy Karyono menjabat sekretaris Pansel.
Prof Nuh menjelaskan, seleksi kepengurusan di Bank Jatim itu dalam rangka persiapan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) yang direncanakan sekitar akhir Mei mendatang. Karena Bank Jatim sudah go public (Tbk), maka proses rekrutmen komisaris dan direksi semuanya akan mematuhi peraturan-peraturan yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan. Pihaknya menjamin seluruh proses seleksi akan dilakukan secara transparan dan penuh integritas.
’’Tentu seleksi yang pertama adalah seleksi administratif, kemudian juga tentu nanti ada uji kompetensi. Kita akan menggunakan lembaga profesional yang memang sudah teruji,’’ ujar Prof Nuh kepada awak media beberapa waktu lalu sesuai rapat pansel (25/4).
Dalam proses seleksi, lanjut dia, pansel juga akan melaksanakan uji kepatutan dan kelayakan (fit and proper test). Terutama terkait visi besar para calon untuk memajukan Bank Jatim ke depan. Rekam jejak atau track record penguasaan di bidangnya, juga akan menjadi pertimbangan kuat. Prof Nuh menegaskan, Pansel akan memberikan rekomendasi yang dusampaikan pada pemegang saham pengendali untuk mengambil keputusan siapa saja nanti yang akan ditetapkan sebagai pengurus Bank Jatim.
Kepada wartawan di Surabaya, dia juga menambahkan bahwa proses seleksi direksi dan komisaris Bank Jatim berjalan tanpa ada intervensi. Termasuk dari gubernur. Prof Nuh tidak menampik boleh jadi ada orang yang berupaya untuk titip calon tertentu. ‘’Tapi saya tekankan ke siapapun yang ingin mendaftar agar belajar dan usaha yang keras,’’ tegasnya, Senin (28/4).
Dia menyatakan, selama ini gubernur tidak pernah melakukan intervensi apapun. Semua diserahkan ke pansel. ’’Tidak pernah ada pesanan khusus, kami profesional. Hasilnya sebaik mungkin dan kami gembleng mereka. Kalau ada apa-apa bisa dipertanggungjawabkan,’’ katanya.
Untuk diketahui, berdasarkan laporan yang didapat KabarBaik.co, Bank Jatim mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun 2024. Hingga Desember 2024, total aset konsolidasi Bank Jatim mencapai Rp 118 triliun, naik 13,7 persen dibanding tahun sebelumnya (year on year (yoy). Mayoritas peningkatan aset berasal dari pertumbuhan kredit yang mencapai Rp 75,3 triliun atau naik 37,6 persen (yoy), serta dana pihak ketiga (DPK) sebesar Rp 90 triliun atau meningkat 15 persen (yoy).
Atas pengelolaan aset tersebut, Bank Jatim mampu membukukan pendapatan bersih sebesar Rp 5,7 triliun atau meningkat 13,6 persen (yoy). Dari sisi laba bersih, pada 2024, Bank Jatim (bank only) mencatatkan laba sebesar Rp 1,28 triliun. Capaian laba tersebut menjadikan Bank Jatim tercatat sebagai BPD terbesar di antara seluruh BPD di Indonesia.
Dari sisi pembiayaan, Bank Jatim telah menyalurkan sejumlah kredit berwawasan lingkungan. Di antaranya, untuk efisiensi energi sebesar Rp 2,40 triliun, Rp 2,01 triliun untuk pengelolaan sumber daya alam hayati dan penggunaan lahan berkelanjutan, serta Rp 557 miliar untuk pengelolaan air dan limbah.
Pada 2024, Bank Jatim juga aktif menyalurkan dana Corporate Social Responsibility (CSR) di berbagai sektor. Penyaluran CSR untuk pendidikan Rp 2,76 miliar, untuk kesehatan Rp 3,93 miliar, dan untuk kegiatan sosial lainnya mencapai Rp 10,24 miliar. (*)






