KabarBaik.co, Dhaka,— Setelah puluhan tahun politik Bangladesh berputar di sekitar dua keluarga besar yang saling bergantian berkuasa, panggung kekuasaan akhirnya berubah arah. Tarique Rahman resmi dilantik sebagai perdana menteri (PM) baru, menyusul kemenangan telak partainya dalam pemilu nasional.
Bagi banyak kalangan, momen itu terasa bukan sekadar pergantian tampuk pemimpin. Namun, tanda berakhirnya satu era lama dan dimulainya babak baru politik negara tersebut.
Rahman memimpin Bangladesh Nationalist Party (BNP), partai oposisi lama yang kini berhasil menguasai mayoritas besar kursi parlemen. Dengan dukungan kuat tersebut, ia memiliki jalan relatif mulus untuk membentuk kabinet dan menjalankan program pemerintahannya.
Secara sederhana, hasil pemilu ini berarti menandai satu hal penting. Bahwa, peta kekuasaan berubah total. Jika selama lebih dari tiga dekade Bangladesh identik dengan persaingan dua tokoh perempuan kuat dari dua kubu besar, kini muncul figur baru.
Rahman bahkan menjadi PM pria pertama dalam sekitar 35 tahun, sesuatu yang jarang terjadi dalam sejarah politik modern negara itu.
Diketahui, Pemilu Bangladesh kali ini berlangsung setelah periode ketegangan politik dan pergolakan nasional yang mengguncang stabilitas negara. Sejumlah partai lama tidak ikut bertarung, sehingga persaingan tidak seperti biasanya. Akibatnya, parlemen dan pemerintahan yang terbentuk memiliki komposisi kekuatan yang sangat berbeda dibanding periode sebelumnya.
Bagi masyarakat setempat, tentu perubahan ini diharapkan berdampak pada hal-hal yang lebih dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari. Harga bahan pokok, lapangan kerja, dan keamanan. Dalam pidatonya, Rahman berjanji fokus pada pemulihan ekonomi, stabilitas, serta merangkul semua kelompok politik.
Dukungan Regional Mengalir
Pelantikan Rahman juga langsung mendapat perhatian luar negeri. India, mitra dagang utama Bangladesh, melalui PM Narendra Modi, menyampaikan ucapan selamat dan harapan kerja sama yang lebih erat. Respons positif juga datang dari Pakistan.
Dukungan tersebut penting karena ekonomi Bangladesh sangat bergantung pada perdagangan dan hubungan regional.
Namun, meski menang besar, jalan Rahman tidak sepenuhnya mulus. Mantan PM Sheikh Hasina dari luar negeri mempertanyakan legitimasi pemilu dan menyebut prosesnya tidak adil. Sejumlah kelompok oposisi juga mendesak agar pemerintahan baru membuka ruang dialog dan memastikan demokrasi berjalan inklusif.
Situasi tersebut membuat pemerintahan baru menghadapi dua tantangan sekaligus. Yakni, memenuhi ekspektasi ekonomi rakyat dan meredakan polarisasi politik yang sudah lama membelah masyarakat.
Dengan mayoritas kuat di parlemen dan sorotan dunia internasional, Rahman memulai masa jabatannya dari posisi yang menjanjikan, tetapi juga penuh tekanan. Publik kini menunggu bukti nyata, bukan sekadar janji kampanye.
Apakah kepemimpinan baru ini benar-benar membawa perubahan bagi kehidupan sehari-hari warga Bangladesh, atau hanya mengganti wajah elite politik lama, akan ditentukan oleh langkah-langkah awal pemerintahannya.
Untuk saat ini, satu hal jelas bahwa Dhaka sedang memasuki era baru, dan seluruh kawasan ikut mengamati. (*)







