Dari Kasur Pijat ke Tanah Suci, Perjuangan Mbah Supinah Berbuah Haji di Usia 91 Tahun

oleh -125 Dilihat
haji 1
Calon jemaah haji tertua asal Sidoarjo berumur 91 tahun.

KabarBaik.co – Malam itu, langit Sidoarjo tampak syahdu. Di dalam rumah sederhana di sebuah gang kecil, Mbah Supinah duduk memandangi koper hijaunya yang baru saja ditutup rapi. Tangannya bergetar, bukan karena lelah, tapi karena haru. Sebuah impian yang ia simpan sejak muda akhirnya terwujud—di usianya yang ke-91 tahun, ia akan berangkat ke Tanah Suci.

Mbah Supinah bukan siapa-siapa. Ia bukan pejabat, bukan orang kaya. Sehari-hari ia dikenal sebagai tukang pijat bayi dan anak-anak di kampungnya. Sudah lebih dari lima dekade ia menjalani profesi itu, mengandalkan tenaga dan doa sebagai penghidupan. Bahkan hingga kini, ia masih rutin memijat lima anak per hari. “Pijat anak itu tidak lama, 10 menit selesai,” katanya ringan.

Di masa mudanya, ia juga dikenal sebagai dukun bayi. Sudah ratusan persalinan dibantunya, tak jarang tanpa bayaran. “Yang penting ibu dan bayinya selamat,” ucapnya. Tapi di balik semua itu, ada satu mimpi yang ia pendam dalam-dalam, ingin menginjakkan kaki di tanah kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Dua puluh tahun lalu, ia mulai menabung dari hasil memijat. Lima ribu, sepuluh ribu, disisihkan setiap hari. Perlahan tapi pasti, uang itu terkumpul. Pada 2019, ia berhasil mendaftar haji dengan tabungan Rp25 juta. Ia mendaftar bersama putri sulungnya, namun takdir berkata lain. Putrinya wafat karena Covid-19 sebelum sempat berangkat.

Tak ingin mundur, Mbah Supinah tetap melanjutkan niatnya. Putranya yang keenam, M. Ghufron, menggantikan posisi sang kakak. “Kami daftarkan ulang dan mendapat prioritas lansia. Harusnya berangkat tahun 2030, tapi dipercepat,” ujar Ghufron.

Kondisi kesehatan Mbah Supinah masih cukup baik, hanya pendengaran yang mulai menurun dan darah tinggi yang rutin dipantau.

Minggu malam (4/5), Mbah Supinah tergabung dalam Kloter 10 embarkasi Surabaya. Ia menjadi jemaah tertua dalam kloter tersebut. Mengenakan mukena putih dan semangat yang tak pernah padam, ia melambaikan tangan kepada keluarga yang mengantar. Tangis haru pecah. Semua orang tahu, ini bukan perjalanan biasa, ini adalah ziarah panjang seorang perempuan tangguh.

“Dulu anak-anak saya sembilan, semua masih kecil, saya tak punya uang, tapi saya tidak pernah berhenti berdoa. Saya minta sama Gusti Allah, biar saya bisa haji meski sudah tua, ” kenangnya lirih.

Doa yang dipanjatkannya tiap malam akhirnya dijawab. Ia akan mendatangi Kakbah, tempat yang hanya bisa ia bayangkan sepanjang hidup.

Kisah Mbah Supinah menjadi inspirasi bagi banyak orang di sekitarnya. Di tengah keterbatasan, ia membuktikan bahwa keikhlasan, ketekunan, dan doa bisa mengantarkan seseorang pada cita-cita tertingginya. Tak ada yang terlambat untuk bermimpi, bahkan di usia 91 tahun.

“Kalau punya keinginan, jangan ragu. Mintalah kepada Gusti Allah. Tidak ada yang bisa menghalangi jika Allah sudah berkehendak,” pesan Mbah Supinah sesaat sebelum berangkat. Sebuah kalimat sederhana yang terasa begitu dalam.

Di pesawat Saudi Airlines nomor SV 5271 yang membawanya menuju Bandara Madinah, Mbah Supinah duduk dengan tenang. Ia menatap langit malam yang membentang luas. Sebentar lagi, mimpinya akan menjadi nyata. Dan ketika kaki tuanya menyentuh tanah suci, mungkin ia akan tersenyum sambil berbisik, “Ya Allah, akhirnya aku datang,” ucapnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Yudha
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.