KabarBaik.co, Sidoarjo – Berawal dari dampak pandemi COVID-19 pada tahun 2020, seorang warga Taman, Sidoarjo, Fenny Suryani, 40, berhasil mengubah tantangan menjadi peluang. Setelah sebelumnya bekerja sebagai admin di perusahaan swasta, Fenny memutuskan merintis usaha kue rumahan yang kini dikenal dengan ‘Omah Cookies’.
Memasuki momen jelang Lebaran tahun ini, usaha Fenny menunjukkan peningkatan signifikan. Ia mengungkapkan adanya kenaikan pesanan hingga 20 persen dibanding tahun lalu.
Jika sebelumnya ia memproduksi sekitar 200 boks hampers dan 150 paket hemat dalam kemasan toples kecil, kini jumlah tersebut terus bertambah seiring tingginya permintaan.
“Alhamdulillah tahun ini ada peningkatan sekitar 20 persen dari tahun lalu,” ujar Fenny, Jumat (20/3).
Dalam menjalankan usahanya, Fenny memproduksi 12 varian kue, di antaranya nastar, kastengel, tumbrin, coklat almond, bola salju, sagu keju, lidah kucing, coklat mete, putri salju, kue kacang, mawar, hingga sagu keju. Dari berbagai pilihan tersebut, kue nastar menjadi produk paling diminati pelanggan.
Menurut Fenny, keunggulan nastarnya terletak pada rasa yang tidak terlalu manis serta teksturnya yang lembut. Bahkan, kue tersebut dapat bertahan hingga satu bulan. Tak heran jika sebagian besar pembelinya merupakan pelanggan lama.
“Selain rasanya yang tidak terlalu manis, nastar kami juga empuk dan bisa tahan lama, jadi banyak pelanggan yang repeat order,” tambahnya.
Untuk harga, Fenny menawarkan variasi mulai dari Rp 40 ribu hingga Rp 150 ribu untuk paket hampers. Paket yang paling banyak dipesan adalah hampers isi lima macam kue serta paket ekonomis berisi tiga varian dengan harga sekitar Rp 100 ribuan.
Menariknya, pembeli Fenny tidak hanya berasal dari Sidoarjo, tetapi juga dari berbagai daerah seperti Surabaya, Lamongan, hingga Bojonegoro. Bahkan, pesanan juga datang dari instansi perbankan dan sekolah yang menjadikannya sebagai hampers untuk nasabah dan guru.
Dengan meningkatnya permintaan menjelang Lebaran, omzet yang biasanya hanya sekitar Rp 2 juta per bulan kini melonjak drastis menjadi Rp 12 hingga Rp 20 juta.
Meski dihadapkan pada kenaikan harga bahan baku, Fenny tetap berkomitmen menggunakan bahan premium demi menjaga kualitas rasa. Ia percaya, konsistensi kualitas menjadi kunci utama dalam mempertahankan kepercayaan pelanggan.
“Walaupun bahan baku naik, saya tetap pakai yang premium supaya rasa tetap terjaga dan pelanggan puas,” tutupnya. (*)






