KabarBaik.co, Tembagapura – Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia membawa makna dan semangat besar bagi keluarga besar PT Freeport Indonesia (PTFI). Dari timur Indonesia, tanah Papua, PTFI menggelorakan kedaulatan mineral negeri yang berkelanjutan.
Mengusung semangat “One Freeport”, PTFI menggelar upacara HUT ke-81 RI serentak di enam lokasi kerja yang tersebar di tiga provinsi, Senin (17/8) kemarin. Yakni di Tembagapura, Kuala Kencana, Nabire, Jakarta, Smelter Gresik dan PT Smelting.
Dalam riuh semangat upacara kemerdekaan yang terpusat di tengah hamparan pegunungan Tembagapura, Papua Tengah itu, Presiden Direktur PTFI Tony Wenas menyampaikan pidato yang berapi-api. Ia menyebut, keberadaan PTFI selama hampir enam dekade di tanah Papua merupakan perjalanan ketabahan, keberanian, dan dedikasi mendalam bagi Indonesia.
Tony menyinggung sejumlah insiden yang terjadi beberapa waktu terakhir yang merenggut sembilan nyawa karyawan PTFI. Namun, katanya, hal itu tidak menjadikan Insan Freeport patah semangat. Peringatan HUT RI dijadikan sebagai momentum kebangkitan bagi perusahaan yang mengelola tambang bawah tanah dan smelter single line terbesar di dunia tersebut.
“Dari Timur Indonesia, dari Tanah Papua, untuk Indonesia Maju, Freeport Bangkit! Ujian yang kita hadapi menjadi pembuktian jati diri kita. Dari Sabang sampai Merauke, walau diuji berkali-kali, kita tetap teguh dan semakin erat bersatu sebagai satu keluarga besar,” ujar Tony Wenas penuh semangat.
Kata Tony Wenas, setahun belakangan menjadi ujian terberat bagi seluruh insan perusahaan akibat insiden luncuran material basah di tambang bawah tanah Grasberg Block Caving pada September 2025. Serta gangguan keamanan pada awal 2026 yang merenggut nyawa sembilan pahlawan kerja perusahaan.
Keselamatan Kerja yang Utama
Dalam suasana khidmat, Tony Wenas mengajak seluruh karyawan mengenang jasa dan pengabdian ketujuh korban insiden tambang yakni Almarhum Balisang Teli Lile, Dadang Hermanto, Holong Silaban, Irawan, Victor Balestros, Wigi Hartono, dan Xaverius Maga. Beserta dua korban insiden keamanan, Almarhum Herman Rustaman dan Simpson Mulia.
Bagi PTFI, keselamatan kerja atau safety bukan sekadar prosedur operasional, melainkan fondasi utama kedaulatan perusahaan yang tegap berdiri di atas corporate value SINCERE. Kepanjangan dari Safety, Integrity, Commitment, Respect, dan Excellence.
“Tidak ada yang lebih berharga daripada keselamatan jiwa rekan kerja kita. Setiap target produksi dan keberhasilan operasional hanya memiliki makna apabila seluruh insan yang menjalankannya dapat kembali ke rumah dengan selamat,” tegas Bos Freeport Indonesia.

Pemulihan Bertahap dan Kontribusi untuk Negeri
Melalui kerja keras recovery team dan koordinasi lintas lini, pemulihan operasional tambang bawah tanah yang terdampak 800.000 ton material lumpur basah kini terus menunjukkan progres positif. Tony menyebut, kapasitas produksi PTFI diproyeksikan mencapai 65 persen pada akhir semester kedua tahun 2026, dengan target produksi sekitar 800 juta pound tembaga dan 700.000 ounces emas.
Meski belum beroperasi penuh, kontribusi PTFI kepada penerimaan negara tetap signifikan. Pada tahun 2026, PTFI diperkirakan menyetor sebesar Rp 47 triliun kepada negara. Angka ini melengkapi kontribusi tahun 2025 yang mencapai Rp 75 triliun, termasuk Rp 13 triliun yang dikucurkan langsung bagi Pemerintah Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, serta kabupaten sekitarnya.
Progres pemulihan ditargetkan terus berlanjut hingga mencapai 75 persen pada semester pertama 2027 dan mendekati kapasitas penuh pada akhir tahun 2027. “Saat operasional kembali mencapai 100 persen, kontribusi PTFI bagi penerimaan negara diproyeksikan akan melampaui Rp 100 triliun setiap tahunnya,” ungkap Tony disambut riuh tepuk tangan.
Perkuat Hilirisasi dan Kepastian Investasi Jangka Panjang
Sebagai bagian dari Holding BUMN Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID), PTFI memegang peranan vital dalam menyukseskan rantai hilirisasi mineral nasional. Beroperasinya kembali smelter PTFI di Gresik, bersama smelter PT Smelting, membentuk fasilitas pemurnian tembaga single line terbesar di dunia dengan kapasitas pemurnian mencapai 3 juta ton konsentrat tembaga per tahun.

“Pencapaian ini menjadikan Gresik sebagai pusat pemurnian mineral tembaga terbesar dalam sejarah hilirisasi Indonesia. Ini adalah bukti nyata komitmen kami dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri untuk ketahanan dan kedaulatan industri nasional,” jelasnya.
Langkah strategis perkuatan kedaulatan mineral juga ditandai dengan perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) PTFI pasca-2041 hingga usia tambang. Tony bilang, kepastian ini mengikuti Nota Kesepahaman (MoU) yang disepakati bersama Pemerintah RI dan Freeport-McMoRan, pada Februari 2026 lalu.
Dan pada pertengahan Juni tahun ini, PTFI juga telah mengajukan permohonan perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus kepada pemerintah melalui Kementerian ESDM.
Dengan adanya MoU tersebut, akan menjamin konservasi cadangan mineral tambang bawah tanah secara optimal. Lalu, mempertahankan lapangan kerja bagi lebih dari 30.000 tenaga kerja yang mayoritas merupakan anak bangsa. Yang tak kalah penting, memastikan keberlanjutan kontribusi ekonomi ratusan triliun rupiah bagi penerimaan negara dan daerah.
Tambang “Kucing Liar” dan 7 Miliar Pound Tembaga
Selain itu, penambangan bawah tanah Kucing Liar yang akan menjadi salah satu sumber produksi utama perusahaan di masa depan terus berjalan. Investasi tambang bawah tanah ini telah menghabiskan Rp 25 triliun dan secara keseluruhan nantinya akan mencapai Rp 72 triliun.
“Tambang ini diproyeksikan akan menghasilkan lebih dari 7 miliar pound tembaga dan 6 juta ounces emas sepanjang masa operasinya,” paparnya.
Investasi ini menunjukkan bahwa di tengah masa pemulihan, Freeport Indonesia tetap melangkah maju dan terus membangun fondasi bagi keberlanjutan perusahaan dan manfaatnya bagi bangsa dan negara.(*)








