KabarBaik.co – Jelang peringatan Hari Jadi Bojonegoro (HJB) ke-348 tahun 2025, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Bojonegoro resmi memperkenalkan logo peringatan beserta makna filosofinya.
Tahun ini, desain karya Bowo Sulistyo, pemuda asal Desa Sumberagung, Ngraho, terpilih sebagai juara pertama Lomba Desain Logo HJB 2025 yang mengusung tema ‘Bersinergi untuk Bojonegoro Mandiri’.
Bowo, seorang desainer grafis muda Bojonegoro, bukanlah nama baru dalam ajang ini. Pada tahun 2024, ia sempat menyabet juara dua, sebelum akhirnya di tahun ini ia baru berhasil membawa pulang juara pertama dan menjadikan karyanya sebagai logo resmi HJB ke-348.
Bagi Bowo, ajang sayembara tahunan ini bukan sekadar kompetisi, melainkan ruang belajar dan berkarya bagi para desainer lokal.
“Saya banyak belajar tentang berbagai sudut pandang dalam desain. Proses riset yang panjang membuat saya lebih memahami potensi Bojonegoro sebagai daerah yang mandiri. Saya berharap kegiatan seperti ini terus ada, karena bisa menjadi wadah bagi desainer muda untuk menunjukkan identitas daerahnya lewat karya,” ujarnya, Selasa (14/10).
Bowo menjelaskan logo HJB ke-348 buatnya mengandung filosofi mendalam tentang semangat kebersamaan dan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat Bojonegoro dalam membangun daerah yang mandiri. Konsep utamanya menautkan tiga gagasan besar, yakni kolaborasi, identitas lokal, dan pertumbuhan berkelanjutan.
Secara visual, bentuk infinity (tak terhingga) menjadi simbol utama, menggambarkan sinergi dan hubungan yang tak terputus antara seluruh elemen Bojonegoro. Sementara simbol tangga melambangkan proses bertahap menuju kemajuan dan kemandirian, menegaskan perjalanan berkesinambungan yang terus meningkat dari waktu ke waktu.
Logo ini juga kaya akan unsur lokal yang mencerminkan kekayaan budaya dan potensi alam Bojonegoro. Api melambangkan semangat, optimisme, serta menggambarkan sumber daya minyak bumi yang melimpah.
Tanaman padi merepresentasikan kemandirian pangan dan kekuatan ekonomi masyarakat. Gelombang air menjadi simbol kedamaian masyarakat Bojonegoro sekaligus representasi Bengawan Solo, waduk, dan bendungan yang menopang kehidupan warga. Sementara, motif batik Sata Gondo Wangi mengangkat tanaman tembakau komoditas unggulan sekaligus cerminan kreativitas masyarakat Bojonegoro.
Bowo juga menambahkan logo tersebut memiliki urutan warna yang juga memiliki arti filosofis. Warna oranye dan merah di bagian bawah menggambarkan semangat dan optimisme, biru tua dan biru muda melambangkan kepercayaan dan harmoni antara pemerintah dan masyarakat, sementara hijau di bagian atas menjadi simbol pertumbuhan, harapan, dan kemandirian Bojonegoro.
Warna biru hadir sebagai jembatan antara semangat dan tujuan, menyatukan perjalanan visual dari awal hingga akhir. Setiap warna juga memiliki pola (pattern) unik yang mewakili nilai-nilai budaya lokal. (*)






