KabarBaik.co, Jombang – Pelantikan Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Badan Koordinasi Majelis Taklim Masjid-DMI Jombang masa bakti 2025-2030 digelar di Aula Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang, Minggu (15/2).
Sebanyak 48 pengurus DMI dan sekitar 30 pengurus Badan Koordinasi Majelis Taklim Masjid-DMI resmi dilantik. Kegiatan tersebut turut dihadiri perwakilan Pengurus Wilayah Jawa Timur serta jajaran Pemkab Jombang.
Plt Asisten I Pemkab Jombang Masduki Zakaria yang hadir mewakili pemerintah daerah menegaskan pentingnya peran strategis DMI dalam memakmurkan masjid.
“DMI punya peran penting dalam menghidupkan fungsi dan peran masjid di Kabupaten Jombang. Masjid harus dikembangkan menjadi pusat kegiatan umat, sosial, dan kemasyarakatan. Jadi ruang silaturahim, bertukar pikiran, dan membangun kesadaran sosial,” ujarnya.
Ia berharap pengurus yang baru dapat berjalan beriringan dengan Pemkab Jombang dalam memakmurkan masjid dan majelis taklim di seluruh kecamatan.
“Semoga bisa berpartisipasi aktif dalam pembangunan Kabupaten Jombang yang maju dan sejahtera untuk semua. Tunjukkan kualitas dan konsistensi dalam memakmurkan masjid,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua DMI Jombang, Didin Ahmad Sholahuddin atau akrab disapa Gus Didin, menjelaskan kepengurusan DMI dibentuk hingga tingkat kecamatan, bahkan ditargetkan menyentuh kelurahan.
“Fungsi utama DMI adalah sebagai edukator, mengedukasi sekaligus mengelola masjid-masjid di Jombang agar aktif dalam dua aspek,” jelasnya.
Pertama, mendorong takmir dan dewan kemakmuran masjid menerapkan manajemen masjid secara benar dan profesional. Kedua, mengajak sebanyak mungkin warga untuk kembali berjamaah dan beraktivitas di masjid.
Menurutnya, antusiasme jamaah, terutama kalangan remaja dan anak muda, belakangan mulai menurun.
“Kita menyadari minat anak-anak muda ke masjid mulai berkurang. Karena itu hampir 50 persen pengurus DMI sekarang diisi anak muda, termasuk mereka yang sebelumnya belum aktif di ormas keagamaan,” katanya.
Untuk menarik generasi muda, DMI Jombang menyiapkan dua divisi strategis, yakni digitalisasi masjid dan muharik masjid.
“Dua bidang ini menyasar anak muda. Harapannya, masjid kembali menjadi pusat peradaban umat dan yang mengelola adalah anak-anak muda,” tegasnya.
Gus Didin juga berharap kepala daerah hingga camat bisa menjadi teladan dalam menggerakkan masyarakat ke masjid.
“Kami berharap pimpinan daerah menjadi dirigen dalam arti positif, mengajak warganya ke masjid dengan memberi contoh hadir salat lima waktu berjamaah. Itu cara paling efektif,” ujarnya.
Ia menegaskan, DMI tidak ingin masjid dipandang sebagai ruang pinggiran. Sebaliknya, masjid harus menjadi pusat solusi umat dan peradaban Islam.
“Gerakan ini harus simultan, melibatkan ormas dan pemerintah daerah. Kami juga akan menggandeng organisasi lain. Di DMI ini pengurusnya ada dari Muhammadiyah, NU, dan lembaga lainnya. Kami ingin kolaborasi dan sinergi,” pungkasnya. (*)







