KabarBaik.co – Insiden keracunan massal yang menimpa 261 penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mojokerto menuai perhatian serius dari DPRD Jawa Timur. Anggota Komisi A DPRD Jatim, Sumardi, menegaskan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Menurut Sumardi, seluruh rantai produksi makanan harus ditelusuri secara detail, mulai dari pemilihan bahan baku hingga proses pengolahan di dapur. Berdasarkan data lapangan, ratusan warga tersebut mengalami gejala keracunan setelah mengonsumsi menu soto ayam yang disediakan dalam program MBG.
“Perlu evaluasi menyeluruh terhadap proses di SPPG, mulai alur memasak hingga kandungan nutrisi. Masalah kesehatan, terlebih anak-anak, tidak boleh dianggap sepele,” kata politisi Partai Golkar yang akrab disapa Cak Sumardi itu, Senin (12/1).
Ia juga menyoroti aspek teknis, khususnya durasi waktu antara proses memasak dan penyajian. Menurutnya, keterlambatan penyajian atau penyimpanan yang tidak sesuai standar dapat memicu pertumbuhan bakteri dan perubahan kandungan makanan.
“Penerapan standar operasional prosedur (SOP) harus ditinjau ulang, terutama untuk makanan yang diproduksi secara massal. Semua potensi perubahan rasa dan kandungan harus diantisipasi,” ujarnya.
Sumardi meminta pihak eksekutif untuk mengungkap akar persoalan secara terbuka, termasuk kemungkinan adanya kelalaian dalam pelaksanaan di lapangan. Ia menegaskan, jika ditemukan kesalahan fatal, perlu ada langkah hukum dan administratif sebagai bentuk tanggung jawab.
“Program MBG ini tujuannya sangat baik untuk meningkatkan gizi generasi penerus. Jangan sampai visi besar itu tercoreng oleh pelaksanaan yang tidak tepat,” tegasnya.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur terus melakukan investigasi mendalam atas insiden tersebut. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebutkan, jumlah korban keracunan tercatat sebanyak 261 orang.
Dari jumlah tersebut, 140 orang telah dinyatakan pulih dan kembali ke rumah, sedangkan 121 pasien masih menjalani perawatan di berbagai fasilitas kesehatan di Kabupaten Mojokerto.
“Saat ini fokus utama adalah penanganan medis bagi 121 pasien yang masih dirawat, baik di pondok pesantren, rumah sakit, maupun puskesmas,” ujar Emil saat meninjau korban di Pondok Pesantren Ma’had An Nur dan RSUD Prof. dr. Soekandar.
Emil menjelaskan, penanganan medis difokuskan pada rehidrasi melalui cairan infus serta pemberian obat penunjang seperti zinc untuk mempercepat pemulihan gangguan pencernaan.
Terkait penyebab keracunan, Dinas Kesehatan Jawa Timur masih melakukan investigasi epidemiologi terhadap menu soto ayam yang dikonsumsi pada Jumat (9/1/2026). Penelusuran meliputi bahan baku, proses pengolahan, hingga pengemasan.
Pemprov Jatim juga menemukan pola tidak biasa, di mana korban tetap mengalami keracunan meski hanya mengonsumsi bagian tertentu dari menu, seperti daging ayam atau telur saja. “Ini menjadi data penting untuk menemukan akar masalah,” kata Emil.
Hasil investigasi tersebut nantinya akan dijadikan dasar untuk penyempurnaan SOP dalam program Makan Bergizi Gratis agar keamanan pangan bagi masyarakat lebih terjamin ke depannya. (*)






