DTPHP Kabupaten Malang Dorong Pupuk Subsidi untuk Petani Hortikultura Dukung Program MBG

oleh -378 Dilihat
Kepala DTPHP Kabupaten Malang, Avicenna M. Saniputera. (Foto: P. Priyono)

KabarBaik.co – Kepala Dinas Pertanian, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Malang, Avicenna M. Saniputera, menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah pusat merupakan langkah strategis dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat, terutama bagi generasi muda.

Menurutnya, keberhasilan program tersebut tidak bisa dilepaskan dari dukungan sektor pertanian, khususnya penyediaan bahan pangan bergizi seperti sayur-sayuran dan buah-buahan.

“Program MBG ini sangat baik dalam rangka meningkatkan kualitas hidup, terutama untuk anak-anak. Nutrisi mereka tidak cukup hanya dari nasi, tetapi juga membutuhkan lauk pauk, sayur, dan buah-buahan. Semua itu adalah hasil dari sektor hortikultura,” ujar Avicenna di kantor DTPHP Kabupaten Malang, Jumat (17/10).

Avicenna mengungkapkan bahwa saat ini petani hortikultura masih menghadapi keterbatasan dalam memperoleh pupuk bersubsidi. Kondisi ini menimbulkan kesenjangan antara petani hortikultura dan petani tanaman pangan.

“Petani hortikultura sering menuntut keadilan. Mereka bertanya, mengapa petani tanaman pangan mendapatkan pupuk subsidi, sementara hortikultura belum. Ini menjadi pekerjaan rumah kita bersama,” jelasnya.

Avicenna menjelaskan, hingga saat ini pupuk bersubsidi baru diberikan untuk 10 komoditas tanaman pangan dan beberapa jenis hortikultura seperti bawang merah, bawang putih, serta cabai. Sedangkan untuk perkebunan, pupuk subsidi baru difasilitasi bagi tebu, kakao, kopi, dan ubi kayu.

“Kami sudah berkoordinasi dengan Kementerian Pertanian, khususnya Dirjen PSP, agar pupuk bersubsidi juga diberikan untuk komoditas sayur dan buah. Dengan begitu, petani dapat meningkatkan hasil produksi, baik dari segi jumlah maupun kualitas,” tambahnya.

Menurut Avicenna, keterbatasan pupuk menjadi salah satu faktor yang memengaruhi mutu hasil pertanian. “Tanpa pupuk yang memadai, kualitas hasil panen juga menurun. Misalnya, jeruk jadi kurang manis atau sayur kurang bergizi karena nutrisinya tidak tercukupi,” jelasnya.

Selain mendorong ketersediaan pupuk subsidi, DTPHP juga tengah mengembangkan penggunaan pupuk organik. Meski demikian, Avicenna mengakui, sebagian besar petani masih belum berani beralih sepenuhnya ke sistem organik karena khawatir terhadap risiko gagal panen.

“Mereka masih menggunakan kombinasi pupuk organik dan kimia, karena kalau gagal panen risikonya cukup besar,” ungkapnya.

Avicenna juga menyoroti pentingnya membangun ekosistem pertanian yang kuat antara petani, koperasi, dan lembaga penyalur untuk mendukung program MBG. Ia mencontohkan Koperasi Merah Putih yang awalnya dibentuk sebagai kios pupuk sekaligus off-taker yang menjembatani petani dengan Satuan Pelayanan Pangan Bergizi (SPPG). “Namun saat ini, belum banyak kelompok tani yang terlibat aktif di dalamnya, sehingga ekosistemnya belum terbentuk sempurna,” ungkapnya.

Ia berharap ke depan desa-desa penghasil komoditas unggulan bisa dilibatkan dalam penyediaan bahan pangan untuk program MBG, agar hasil pertanian lokal dapat terserap langsung di wilayahnya sendiri. “Kalau sistem ini berjalan, banyak hal bisa diselesaikan sekaligus di mulai dari kemiskinan, kesejahteraan petani, hingga peningkatan gizi anak-anak sekolah,” tegasnya.

Avicenna menambahkan, pihaknya berharap program nasional yang diinisiasi Presiden terpilih Prabowo Subianto itu dapat menjadi pemicu semangat baru bagi para petani. “Kalau petani punya jaminan hasil panennya pasti dibeli, mereka akan berproduksi dengan semangat. Dari situ regenerasi petani muda juga akan tumbuh. Efek bergandanya sangat luas asalkan ekosistemnya bisa terbentuk dengan baik,” tandasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: P. Priyono
Editor: Hairul Faisal


No More Posts Available.

No more pages to load.