KabarBaik.co, Jakarta – Momentum Ramadan dan Lebaran tahun ini diproyeksikan menjadi penggerak penting roda perekonomian nasional. Lonjakan konsumsi masyarakat, meningkatnya mobilitas mudik, hingga pencairan tunjangan hari raya (THR) dinilai mampu memberikan tambahan pertumbuhan ekonomi yang signifikan.
Head of Macroeconomic and Financial Market Research Permata Bank, Faisal Rachman, memperkirakan periode Ramadan dan Lebaran dapat mengangkat pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 0,25 hingga 0,3 poin persentase. “Dampak Ramadan dan Lebaran kami perkirakan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,25 hingga 0,3 poin persentase,” ujar Faisal dikutip Minggu (1/3).
Menurutnya, pola musiman yang terjadi setiap tahun menunjukkan konsumsi masyarakat meningkat pesat selama Ramadan. Aktivitas belanja kebutuhan pokok, pembelian pakaian baru, hingga tradisi berbagi dan pemberian hadiah mendorong perputaran uang lebih cepat di berbagai sektor. Ditambah lagi, mobilitas masyarakat saat mudik memperluas distribusi konsumsi hingga ke daerah-daerah.
Sejumlah sektor diperkirakan merasakan dampak positif secara langsung. Sektor makanan dan minuman (food and beverages/F&B) serta ritel, baik modern maupun tradisional, menjadi yang paling terdorong. Selain itu, restoran, transportasi darat dan udara, akomodasi, hingga sektor rekreasi juga diproyeksikan mencatat peningkatan aktivitas.
“Sektor yang paling terdorong biasanya F&B dan restoran, kemudian sektor yang terkait mobilitas seperti transportasi, serta leisure atau rekreasi,” jelasnya.
Dari sisi daya beli, Faisal menilai kondisi masyarakat relatif terjaga. Penyaluran bantuan sosial (bansos) pemerintah, program diskon transportasi mudik, serta pencairan THR dan bonus tahunan perusahaan dalam periode yang berdekatan menjadi faktor penopang konsumsi.
Meski demikian, ia mengingatkan adanya potensi tekanan inflasi, khususnya pada kelompok pangan bergejolak (volatile food). Komoditas seperti beras, daging ayam, dan cabai berisiko mengalami kenaikan harga seiring meningkatnya permintaan. “Peningkatan inflasi, khususnya pada komoditas pangan, perlu diwaspadai karena bisa mengurangi daya beli riil masyarakat apabila tidak terkendali,” tegasnya.
Selain faktor permintaan, risiko cuaca ekstrem akibat fenomena La Nina juga berpotensi mengganggu pasokan dan distribusi pangan di sejumlah wilayah sentra produksi. Namun, periode panen hortikultura yang tengah berlangsung dinilai cukup membantu menjaga ketersediaan sayur-mayur di pasar.
Untuk menjaga stabilitas harga, pemerintah menjalankan berbagai langkah intervensi, seperti Gerakan Pangan Murah (GPM), operasi pasar, serta stabilisasi stok melalui Perum Bulog. Koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah juga diperkuat agar harga tetap sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) dan harga acuan tertinggi (HAT).
Secara keseluruhan, Faisal menilai konsumsi rumah tangga selama Ramadan masih menunjukkan tren yang solid dan menjadi bantalan utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. “Konsumsi pada saat Ramadan masih cenderung terjaga sehingga cukup bisa menopang pertumbuhan ekonomi,” pungkasnya. (*)






