KabarBaik.co – Isu child grooming kembali menjadi perhatian publik setelah munculnya buku Broken Strings karya Aurel yang mengangkat pengalaman pribadi penulis. Buku tersebut memicu diskusi luas tentang praktik manipulasi emosional terhadap anak dan remaja yang dilakukan secara bertahap oleh pelaku.
Kepala Dinas DP3AP2KB Kota Blitar, Mujianto, mengatakan child grooming merupakan kejahatan yang sering tidak disadari korban karena dilakukan melalui pendekatan psikologis dalam jangka waktu panjang.
“Prosesnya tidak instan. Pelaku membangun kepercayaan dan ikatan emosional terlebih dulu, sehingga korban sulit menyadari sedang dimanipulasi,” ujar Mujianto, Rabu (21/1)
Mujianto menyebut saat ini pihaknya belum menerima laporan kasus child grooming di Kota Blitar. Meski demikian, fenomena yang ramai diperbincangkan saat ini perlu dijadikan pengingat bersama, terutama bagi orang tua dan lingkungan sekitar anak.
Menurutnya, kerentanan anak terhadap child grooming dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi keluarga yang tidak harmonis, pengalaman perundungan di sekolah, hingga kebutuhan anak untuk mencari tempat bercerita.
“Pelaku bisa siapa saja. Anak yang sedang mencari perhatian atau tempat curhat menjadi sasaran empuk,” jelasnya.
Perkembangan teknologi digital juga disebut memperbesar risiko tersebut. Media sosial, gim daring, hingga platform komunikasi pribadi kerap dimanfaatkan pelaku untuk mendekati korban secara perlahan.
Menanggapi kondisi itu, Mujianto menegaskan pentingnya kewaspadaan dan keterbukaan di lingkungan keluarga dan sekolah. Anak perlu dibekali pemahaman tentang batasan pribadi serta didorong agar berani menyampaikan jika mengalami hal yang tidak nyaman.
“Perubahan perilaku anak, seperti penurunan prestasi atau menarik diri, perlu menjadi perhatian. Itu bisa menjadi tanda awal,” katanya. (*)







