Festival Ngerumat Sumber, Cara Masyarakat Osing Banyuwangi Maknai Air Sebagai Bagian Ritual dan Kehidupan

oleh -54 Dilihat
bwi 2
Masyarakat Osing saat membersihkan mata air Sukmo Ilang, Olehsari, Glagah, Banyuwangi.

KabarBaik.co – Di Banyuwangi, air tidak hanya mengalir di sungai, pancuran, atau mata air. Ia juga mengalir dalam doa, ingatan, dan kebudayaan masyarakat adat Osing. Bagi mereka, air adalah cerita yang diwariskan dari leluhur tetes demi tetes yang menyimpan makna kesucian, keseimbangan, dan kasih.

Dari keyakinan itulah lahir Festival Ngerumat Sumber, sebuah perayaan yang menyatukan alam, budaya, dan kesadaran ekologis dalam satu ruang kebersamaan yang penuh makna.

Festival ini diselenggarakan oleh Pesinauan Sekolah Adat Osing, di bawah supervisi PD AMAN Osing, dan berlangsung selama dua hari di Sawah Art Space, Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, pada 4–5 Oktober 2025.

Komunitas masyarakat adat Osing, seniman, akademisi, hingga pegiat lingkungan hadir bersama dalam suasana guyub, belajar kembali tentang cara memperlakukan air dengan hormat dan kasih.

Ketua Pelaksana Program Ngerumat Sumber, Slamet Diharjo, menjelaskan dalam bahasa Osing, kata ngerumat berarti merawat dengan kasih, sedangkan sumber berarti mata air.

“Maka, Ngerumat Sumber bukan sekadar festival pelestarian lingkungan, tetapi juga ruang spiritual untuk memulihkan hubungan manusia dengan alam,” kata dia.

Program itu mendapat dukungan dari Nusantara Fun, inisiatif bersama dari AMAN, WALHI, dan KPA. Ada lima komunitas adat Osing anggota AMAN yang menjadi pelaku utama dalam kegiatan ini, yakni dari Olehsari, Kemiren, Dukuh Kopen Kidul, Rejopuro, dan Banjar.

Mereka secara gotong royong menanam pohon endemik, membersihkan sumber air, serta menghidupkan kembali pengetahuan lokal tentang air sebagai sumber kehidupan yang selama ini diwariskan turun-temurun.

Ada banyak rangkaian dalam festival tersebut. Festival dibuka dengan ritual doa dan penyatuan air dari lima sumber ke dalam bokor kuningan berisi kembang tiga rupa, melahirkan simbol bernama toya arum—air harum yang melambangkan penyucian lahir dan batin. Suasana sakral ini seketika mengubah ruang festival menjadi tempat perenungan yang hangat dan penuh makna.

Selanjutnya, masyarakat diajak menikmati pameran bertajuk Jejak Sumber, Jejak Budaya, yang menampilkan foto-foto lanskap mata air, alat ritual, batik, permainan anak, alat pertanian, dan bahkan foto manuskrip kuno seperti Lontar Sri Tanjung, naskah yang telah diakui sebagai bagian dari Ingatan Kolektif Nasional (IKON).

Dalam naskah tersebut termuat kisah klasik tentang Sri Tanjung, perempuan suci yang difitnah dan dibunuh oleh suaminya sendiri, Sidapaksa. Darahnya yang menyentuh air memancarkan bau harum, dan dari sanalah nama Banyuwangi—air yang wangi, berasal.

Selepas dzuhur, suasana festival berpindah ke panggung utama dengan agenda bedah buku Ngerumat Sumber Jejak Air dalam Kebudayaan Osing, karya empat penulis muda Osing: Anasrullah, Dinda Anggun Lestari, Venedio Nala Ardisa, dan Angga Brilyan Wibisono.

Buku ini mengurai perjalanan air dalam kebudayaan Osing—dari mitologi hingga ekologi, dari lanskap sumber hingga tumbuhan penyangga air.

“Menjaga air berarti menjaga ingatan, karena setiap sumber adalah tempat di mana memori leluhur berdiam. Air dalam kisah Sri Tanjung bukan hanya unsur alam, tetapi saksi kebenaran. Ketika air kehilangan harum, artinya manusia kehilangan kejujuran,” tutur Wiwin Indiarti, editor buku Ngerumat Sumber sekaligus Ketua PD AMAN Osing.

Menjelang senja, film dokumenter Ngerumat Sumber: Air, Adat, dan Warisan Osing diputar di halaman Sekolah Adat Pesinauan. Film ini merekam keseharian masyarakat adat Osing yang menjaga sumber air dengan cara-cara sederhana namun penuh kebijaksanaan. Ketika malam tiba, panggung festival menjelma menjadi ruang ekspresi budaya.

Musik bambu berpadu dengan gerak tari menyerupai aliran air, menciptakan atmosfer yang sakral sekaligus hangat. Petani, pelajar, dan seniman duduk bersama, berbagi rasa syukur atas kehidupan yang terus mengalir.

Ketua Panitia Festival, Venedio Nala Ardisa menambahkan krisis air tidak bisa diatasi hanya dengan teknologi. “Air bukan soal infrastruktur, tapi soal nilai. Kalau manusia tidak mengubah cara pandangnya terhadap alam, semua teknologi hanya akan menunda bencana,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa Ngerumat Sumber merupakan pendidikan ekologis berbasis budaya rakyat, tempat di mana tetua, perempuan, dan anak muda belajar memahami air sebagai bagian dari diri mereka sendiri.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Ikhwan
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.