KabarBaik.co – Kegiatan Susur Sungai Brantas 2025 yang digelar pada 15-18 Oktober lalu mengungkap kondisi memprihatinkan di sejumlah titik aliran Sungai Brantas wilayah Malang Raya. Tim penyusur menemukan indikasi pencemaran dan kerusakan lingkungan sejak dari daerah aliran sungai (DAS) Brantas di Kota Batu hingga Bendungan Sengguruh, Kabupaten Malang.
Kegiatan ini menempuh jalur dari titik nol Arboretum Sumberbrantas, Kota Batu, hingga hilir sungai di Kabupaten Malang. Aksi tersebut merupakan kelanjutan kegiatan serupa pada 2019 dan 2022, untuk membandingkan kondisi sungai dari waktu ke waktu serta menyusun langkah pelestarian sumber daya air yang lebih efektif.
Koordinator Forum Brantas Malang Raya, Doddy Eko Wahyudi, menegaskan bahwa hasil penyusuran kali ini menjadi peringatan serius terhadap kondisi DAS Brantas. Temuan pencemaran, sedimentasi, hingga tumpukan sampah menunjukkan bahwa kualitas lingkungan di sepanjang aliran sungai semakin terancam.
“Kami menemukan adanya pencemaran ringan. Ada limbah dari industri tahu di wilayah Pandanrejo dan limbah dari peternakan babi dengan populasi sekitar 10 ekor di Kelurahan Temas, Kota Batu,” tegas Doddy, Minggu (19/10).
Ia menyebut, seluruh temuan tersebut merupakan bagian dari hasil pendataan yang melibatkan lebih dari 300 personel dari berbagai unsur, mulai dari pemerintah daerah (BPBD dan DLH), TNI, Polri, BBWS Brantas, Perum Jasa Tirta, akademisi, hingga komunitas peduli lingkungan.
Selain di Kota Batu, tim juga mencatat permasalahan serius di Kota Malang dan Kabupaten Malang. Di Kota Malang, persoalan utama adalah tumpukan sampah dan pelanggaran pemanfaatan sempadan sungai. “Salah satu yang paling mengkhawatirkan di Kota Malang adalah pembangunan rumah di bibir sungai. Ini sangat rawan longsor dan menyalahi aturan sempadan,” ujarnya.
Sementara itu, di Kabupaten Malang, permasalahan klasik berupa sampah di sempadan dan jembatan masih menjadi pemandangan umum. Limbah cair domestik, sedimentasi, dan retakan tebing juga ditemukan di berbagai titik.
Doddy menegaskan kembali bahwa kegiatan susur sungai kali ini difokuskan untuk pendataan dan pemetaan masalah, bukan aksi pembersihan langsung. Semua hasil pengamatan akan dirangkum dalam laporan komprehensif dan disampaikan langsung kepada kepala daerah di tiga wilayah Malang Raya.
“Kami hanya mendata dulu. Semua temuan akan direkap dan dipaparkan kepada kepala daerah agar menjadi dasar lahirnya kebijakan konkret untuk penyelamatan DAS Brantas,” tandasnya.
Ia berharap hasil Susur Sungai Brantas 2025 dapat mendorong kolaborasi lintas daerah dalam menjaga keberlanjutan sumber air utama bagi masyarakat Jawa Timur. (*)







