KabarBaik.co – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi memiliki target pengelolaan sampah inklusif di tahun 2025. Dalam mewujudkan hal itu, Pemkab melalui Dinas Lingkungan Hidup bekerjasama dengan Yayasan Rijig Pradana Wetan.
Yayasan Rijig Pradana Wetan akan mendampingi 11 desa dan 7 desa yang telah masuk Rijig Community. Desa-desa tersebut diproyeksikan memiliki sistem pengelolaan sampah berbasis kearifan lokal.
Beberapa desa yang terlibat antara lain Desa Tembokrejo, Purwodadi, Tamansari, Segobang, Kluncing, Glagah, Sidodadi, Bajulmati, hingga Kelurahan Bakungan dan Kertosari.
Dengan transformasi ini, desa-desa akan menjadi pusat solusi dan inovasi pengelolaan sampah untuk mengatasi polusi plastik serta melindungi ekosistem laut dan air tawar.
Plt Kepala DLH Banyuwangi, Dwi Handayani, menyebut program itu bertujuan memperkenalkan model pengelolaan sampah terintegrasi di tingkat desa dan kelurahan. Seluruh SKPD dilibatkan untuk mendukung implementasi.
“Semangat yang diusung adalah Care the Sea Start from the Land. Kami siap menjalankan dokumen rencana induk persampahan Banyuwangi,” kata Yani.
Sistem itu diyakini bakal membawa dampak positif pada beberapa sektor. Seperti perikanan, pariwisata, dan ekonomi lokal, sekaligus menciptakan tata kelola kota yang lebih bersih dan sehat.
Ditambah, lanjut Yani, nantinya di Banyuwangi juga bakal dilengkapi
pusat kajian Pisces. Sebuah pusat kajian guna mendukung terkait pengelolaan sampah plastik untuk memperkuat kebijakan lingkungan daerah.
“Pisces akan memberikan solusi konkret, edukasi publik, dan mendorong kolaborasi lintas sektor demi pengelolaan sampah plastik yang berkelanjutan,” tambahnya.
Selain dengan Yayasan Rijig Wetan, DLH juga juga sudah bekerjasama dengan Sungai Watch yang berfokus menghentikan sampah plastik sebelum masuk ke laut melalui pembersihan rutin di sungai.
Sungai Watch telah memasang 66 jaring sampah di sungai-sungai Banyuwangi, didukung transfer station di Bangorejo, Rogojampi, dan Giri untuk memaksimalkan pengelolaan.
Program ini melibatkan edukasi dan sosialisasi masyarakat tentang pengelolaan sampah, termasuk tindakan darurat jika terjadi peningkatan volume sampah secara mendadak.
“Kami yakin kolaborasi Yayasan Rijig Pradana Wetan dan Sungai Watch menjadi langkah konkret Banyuwangi dalam mewujudkan lingkungan bersih, hijau, dan ramah lingkungan,” tegasnya.(*)







