Oleh: Rosnindar Prio Eko Rahardjo
Komisioner KPID Jawa Timur, Dosen Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Bahaudin Mudhary Madura
Kita pasti sering merasakannya. Duduk manis di ruang tamu. Suami, istri, anak-anak, berkumpul lengkap. Tapi sepi. Hening.
Bapak sibuk sambil senyum-senyum membaca grup WA teman-teman SMA-nya, ibu asyik nonton TikTok mencari resep masakan viral sambil sesekali belanja online. Si anak sulung main game sambil teriak-teriak sendiri memakai headset. Kita kumpul, tapi tidak ngumpul. Raga berdekatan tapi pikiran entah login di mana.
Dulu, rasanya tidak begitu. Ingat zaman ketika TVRI masih menjadi satu-satunya stasiun televisi di Indonesia? Atau saat radio transistor bertenaga baterai masih menjadi “raja” di ruang tengah?
Satu kampung bisa berkumpul di depan satu TV cembung hitam putih. Menonton pertandingan Liem Swie King atau Ellyas Pical. Juga menunggu siaran Dunia Dalam Berita atau film Chips.
Semua tertawa bersama. Tegang bersama. Mengantuk juga bersama. Itulah kehebatan penyiaran masa lalu. Ia menyatukan. Mengumpulkan yang terserak.
Hari ini, kita kembali bicara tentang Kebangkitan Nasional. Anda sudah tahu sejarahnya. Tanggal 20 Mei. Dokter Sutomo. Budi Utomo. Tahun 1908. Tentu, Budi Utomo lahir lewat diskusi kelas terpelajar dan tajamnya pena di surat kabar. Tinta cetak adalah senjata utama mereka saat itu.
Lalu bagaimana caranya semangat kebangsaan itu bisa meledak hingga ke pelosok negeri? Siapa pahlawan massalnya?
Benar: Penyiaran. Terutama radio.
Tanpa corong radio, proklamasi kemerdekaan kita mungkin hanya sayup-sayup, bahkan tidak akan terdengar sampai di luar Jakarta.
Orang-orang penyiaran saat itu berani mati. Mereka menyelundupkan pemancar. Kucing-kucingan dengan tentara Jepang. Demi satu tujuan: menyiarkan teks proklamasi ke seluruh dunia.
Itu juga sebuah kebangkitan. Kebangkitan yang dipancarkan lewat udara.
Gelombang radio itu menembus gunung. Melewati lautan. Masuk ke telinga petani di sawah, nelayan di pantai, dan guru di kampung-kampung terpencil. Mendengar siaran itu, dada mereka bergemuruh. Mereka sadar: Oh, kita ini sekarang Indonesia. Kita sudah merdeka. Kita satu!
Bagaimana dengan dunia penyiaran kita sekarang?
Teknologinya luar biasa gila. TV sudah digital. Gambar sejernih kristal. Tanpa semut. Radio tidak lagi butuh antena panjang, cukup lewat aplikasi streaming di genggaman tangan.
Tapi ada yang hilang. Algoritma memecah kita ke dalam gelembung-gelembung kecil.
Kita tidak lagi menonton hal yang sama. Tontonan kita diatur oleh mesin pintar. Mesin yang menyuapi kita hanya dengan apa yang kita suka klik.
Dampaknya? Polarisasi. Yang suka marah-marah, disuapi konten marah-marah. Yang suka gosip, dicekoki gosip setiap detik. Kita hidup di negara yang sama, tapi seolah berada di planet yang berbeda-beda.
Apakah ini buruk? Tidak juga. Zaman berubah. Kemajuan teknologi adalah keniscayaan yang tidak bisa dilawan. Kalau dilawan, kita pasti terlindas.
Pertanyaannya: di era jutaan layar ini, di mana letak “kebangkitan nasional” kita?
Dulu, penyiaran menyatukan kita secara fisik. Kumpul di balai desa menonton TV. Atau kumpul di pos ronda mendengar sandiwara radio Saur Sepuh atau Mak Lampir.
Sekarang, penyiaran harus menyatukan kita secara batin. Dan itu jauh lebih sulit. Ini bukan lagi sekadar urusan satu frekuensi gelombang televisi. Ini soal frekuensi pikiran dan hati.
Tugas para insan penyiaran kini berkali-kali lipat lebih berat. Termasuk stasiun TV, radio, dan para pembuat konten (content creator). Mereka semua pada hakikatnya adalah orang penyiaran juga. Penyiaran gaya baru.
Mereka tidak bisa lagi memaksa orang menonton. Orang punya kebebasan mutlak di ujung jempolnya. Tinggal swipe. Lewat. Ganti channel.
Tantangan terbesarnya adalah: mampukah kita membuat tontonan atau siaran yang tidak sekadar mengejar rating atau viewers?
Bisakah kita memproduksi konten yang mengundang rasa bangga sebagai sebuah bangsa? Konten yang membuat kita bergumam: gila, hebat juga ya Indonesia ini! Budayanya, alamnya, anak mudanya, inovasinya. Siaran sehat bahas popularnya.
Kita butuh siaran yang membuat Gen Z dan Gen Alpha tidak hanya hafal mati nama-nama artis K-Pop. Atau sekadar takjub pada efek CGI film Hollywood. Tapi juga kagum pada karya bangsanya sendiri.
Radio, televisi, dan kreator anak bangsa harus bangkit. Bersaing dengan raksasa global bernama YouTube, TikTok, dan Netflix. Senjatanya cuma satu: kelokalan kita. Jati diri kita. Sesuatu yang tidak bisa dihitung oleh algoritma buatan Silicon Valley.
Itulah makna kebangkitan nasional zaman now. Bangkit dari penjajahan algoritma yang pelan-pelan membuat kita egois dan individualis. Bangkit untuk membuat dan mendukung siaran yang merekatkan, bukan yang mengadu domba.
Kita memang tidak mungkin lagi kembali ke masa lalu. Tidak mungkin lagi berdesakan menonton satu TV yang sama di balai desa.
Tapi di layar mana pun mata kita kini menatap—di ponsel, tablet, atau smart TV—semoga yang terpantul tetap satu semangat yang sama. Semangat Indonesia yang maju.
Anda setuju? Kalau tidak, ya silakan scroll lagi layar Anda.
Selamat Hari Kebangkitan Nasional…!






