KabarBaik.co, Surabaya – Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha impor di Indonesia. Konflik yang berkepanjangan dinilai berpotensi mengganggu perdagangan global, memicu kenaikan harga komoditas, serta menghambat rantai pasok bahan baku industri.
Ketua Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jawa Timur, Hana Belladina, mengatakan situasi geopolitik global yang tidak stabil dapat menimbulkan efek domino terhadap aktivitas impor bahan baku yang selama ini sangat bergantung pada perdagangan internasional.
“Konflik atau ketegangan geopolitik yang berlangsung beberapa hari saja sudah bisa memberi dampak tidak langsung bagi pelaku usaha di banyak negara, termasuk importir bahan baku di Indonesia,” kata Bella—sapaan akrab Hana Belladina ditemui di kantornya, Rabu (11/3).
Menurutnya, dampak tersebut biasanya muncul melalui jalur perdagangan global, logistik, hingga pergerakan harga komoditas. Kondisi ini membuat para importir harus bersiap menghadapi berbagai risiko yang dapat memengaruhi biaya produksi maupun ketersediaan bahan baku di dalam negeri.
Salah satu dampak yang paling terasa adalah kenaikan harga bahan baku impor. Ketegangan geopolitik kerap memicu lonjakan harga komoditas global seperti energi, logam, dan bahan kimia yang menjadi bahan baku berbagai sektor industri.
Bella menjelaskan, kenaikan harga minyak dunia dapat mendorong peningkatan biaya produksi bahan baku industri. Akibatnya, harga barang impor ikut terdongkrak sehingga importir harus menanggung biaya pembelian yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya.
“Jika harga minyak dunia naik, biaya produksi bahan baku ikut meningkat dan pada akhirnya harga barang impor juga naik. Kondisi ini membuat margin keuntungan pelaku usaha menurun dan tidak jarang harga produk akhir terpaksa disesuaikan,” ujarnya.
Ia menambahkan, konflik di kawasan Timur Tengah juga berkaitan erat dengan dinamika harga minyak mentah dunia yang menjadi bahan baku penting bagi berbagai industri, termasuk industri plastik.
“Peperangan di kawasan tersebut menyebabkan harga crude oil yang menjadi bahan baku industri plastik, baik di dalam negeri maupun luar negeri termasuk China, mengalami kenaikan. Dampaknya harga plastik naik sekitar 14,5 persen,” jelasnya.
Selain kenaikan harga, konflik geopolitik juga berpotensi mengganggu rantai pasok global. Jalur perdagangan internasional yang terdampak konflik dapat memaksa kapal pengangkut barang mengubah rute pelayaran, sehingga waktu pengiriman menjadi lebih lama.
Menurut Bella, perubahan rute tersebut juga berpotensi membuat jadwal pengiriman menjadi tidak menentu. Akibatnya, bahan baku yang dibutuhkan industri dalam negeri bisa terlambat tiba di pelabuhan.
“Bagi importir, keterlambatan bahan baku bisa berdampak langsung pada aktivitas produksi di pabrik. Jika pasokan terganggu, maka proses produksi juga bisa ikut terhambat,” katanya.
Situasi global yang tidak stabil juga berpotensi mendorong kenaikan biaya logistik dan asuransi pengiriman internasional. Tarif pengiriman kontainer dapat meningkat seiring tingginya risiko pelayaran.
Kenaikan harga minyak mentah, lanjut Bella, juga berdampak pada biaya bahan bakar kapal. Hal ini berpotensi meningkatkan ongkos pengiriman barang dari negara pengekspor seperti China ke Indonesia. Meski demikian, pelaku usaha masih memantau perkembangan terbaru terkait tarif pengiriman. “Untuk biaya ongkir dari China terbaru masih sedang kami dalami karena situasinya sangat dinamis,” ujarnya.
Selain minyak, impor Indonesia dari kawasan Timur Tengah juga mencakup berbagai komoditas yang menjadi bahan baku industri. Produk tersebut antara lain petrokimia dan bahan kimia industri seperti polypropylene (PP), polyethylene (PE), methanol, styrene, hingga ethylene glycol.
Bahan-bahan tersebut banyak digunakan oleh industri plastik, kemasan, tekstil sintetis, otomotif, hingga elektronik. Negara pemasok utama komoditas petrokimia tersebut antara lain Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Qatar.
Di samping itu, Indonesia juga mengimpor pupuk serta bahan baku pupuk seperti urea, ammonia, diammonium phosphate (DAP), dan sulfur. Komoditas tersebut memiliki peran penting bagi sektor pertanian maupun industri pupuk nasional.
Di Jawa Timur, berbagai bahan baku impor tersebut banyak dimanfaatkan oleh industri manufaktur yang tersebar di kawasan Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo. Industri di wilayah ini memanfaatkan bahan baku petrokimia, resin plastik, hingga logam seperti aluminium untuk kebutuhan produksi.
Dalam menghadapi ketidakpastian global, Bella menilai para importir perlu menyiapkan langkah mitigasi agar aktivitas usaha tetap berjalan. Salah satunya dengan meningkatkan cadangan bahan baku untuk mengantisipasi potensi keterlambatan pengiriman.
“Importir perlu menyiapkan langkah antisipasi seperti menambah safety stock, memesan barang lebih awal, serta memantau jadwal pengiriman dengan supplier dan forwarder,” ujarnya.
Selain itu, pelaku usaha juga disarankan melakukan diversifikasi sumber pasokan, memperkuat manajemen persediaan, serta mengantisipasi fluktuasi nilai tukar agar kegiatan impor tetap stabil di tengah dinamika geopolitik global.






