KabarBaik.co, Surabaya,- Suara sepatu berdecit di lantai taraflex, teriakan penonton memantul dari tribun, dan bola melayang tinggi menuju sisi kanan net. Dalam sepersekian detik, seorang pemuda bertubuh jangkung melompat, menggantung lebih lama dari yang lain, lalu menghantam bola sekuat tenaga. Blok lawan terlambat menutup. Jleb! Dan, poin.
Tak ada selebrasi berlebihan. Hanya kepalan tangan singkat, tatapan fokus, dan langkah kembali ke posisi. Begitulah aksi Rama Fazza Fauzan di lapangan Proliga 2026. Efisien, dingin, mematikan. Dari situlah lahir satu julukan yang layak untuknya, Gladiator Samator.
Hingga laga terakhir Proliga 2026 di GOR Padepokan Voli Jenderal Polisi Kunarto, Sentul, Surabaya Samator berada di urutan ketiga dengan 11 poin, di bawah Jakarta LavAni Livin Trans Media dan Jakarta Bhayangkara Presisi. Klub voli legendaris asal Kota Pahlawan itu mencatatkan 4 kali kemenangan dan 4 kali kalah. Lolos final four.
Dari poin-poin yang didapat Surabaya Samator itu, sebagian besar disumbang Rama. Karena itu, julukan ”Gladiator Samator” itu sepertinya bukan sekadar romantisasi. Namun, tumbuh dari statistik, dari keringat, dan dari beban tanggung jawab yang dipikulnya hampir di setiap laga.
Lahir pada 9 September 2002, Rama datang dengan paket fisik yang jarang dimiliki pemain lokal seusianya. Tinggi badannya mendekati 196 sentimeter, dengan jangkauan spike yang menembus kisaran 350 sentimeter.
Di atas kertas saja, angka=angka itu sudah cukup membuat bloker lawan waswas. Namun yang membuatnya berbeda bukan hanya ukuran tubuh, melainkan keberanian mengambil bola-bola sulit seperti bola tanggung, bola darurat, bahkan set tinggi yang sudah “dibaca” sejumlah bloker sekalipun.
Sejak remaja, voli bukan sekadar aktivitas ekstrakurikuler baginya. Rama ditempa lewat sistem pembinaan Samator yang ketat, mengikuti turnamen antarsekolah hingga kejuaraan daerah. Dari sanalah naluri kompetitifnya terbentuk. Pelatih-pelatihnya sering bercerita, Rama jarang pulang cepat. Latihan tambahan spike dan loncatan menjadi rutinitas, seolah ia tahu bahwa bakat saja tak pernah cukup. Kerja keras.
Perjalanan profesionalnya berawal dari kompetisi level nasional seperti Livoli Divisi Utama. Di sana, namanya mulai terdengar. Bukan lagi pemain pelapis, melainkan opsi serangan yang diandalkan. Ketika akhirnya bergabung penuh dengan Surabaya Samator, sebuah klub dengan tradisi kuat di jagad voli Indonesia, Rama menemukan panggung yang tepat untuk menguji diri.
Selama ini, Samator memang dikenal sebagai tim pekerja. Mereka tidak selalu bertabur pemain asing mahal. Kekuatan mereka ada pada disiplin taktik dan mental kolektif. Dalam sistem seperti itu, peran opposite menjadi sangat krusial. Pencetak angka terakhir, eksekutor saat situasi buntu. Dan Rama tampanya menerima dan berhasil menjalankan peran itu tanpa banyak kata.
Musim demi musim, menit bermainnya meningkat. Dan ketika Proliga memasuki edisi 2025 dan 2026, transformasinya terasa jelas. Dia bukan sekadar starter, melainkan tumpuan.
Data berbicara lantang. Pada Proliga 2025, Rama menutup fase reguler dengan lebih dari seratus poin, mayoritas lahir dari spike keras yang menjadi ciri khasnya. Memasuki musim 2026, produktivitas itu tak menurun. Justru meningkat.
Rama memimpin daftar pencetak poin liga dengan torehan lebih dari 110 poin, bersaing bahkan melampaui sejumlah nama besar pemain asing. Termasuk opposite berpengalaman seperti Taylor Sander. Bagi pemain lokal berusia awal 20-an, capaian itu bukan hal sepele.
Namun, angka hanyalah separuh cerita. Nilai sejatinya terasa saat laga memasuki poin-poin kritis. Ketika set penentuan berjalan ketat dan receive pertama tak sempurna, setter tetap menoleh ke arah Rama. Tanpa banyak pikir, bola tinggi dikirim. Semua orang di arena tahu ke mana arahnya. Dan tetap saja Rama hampir selalu berhasil menembus blok.
Rama seolah penenang badai. Ketika tim goyah, dia justru semakin agresif. Ketika tertinggal, bola terkirim kepadanya lebih banyak. Mentalitas seperti inilah yang membuatnya tidak salah disamakan dengan gladiator, petarung terakhir di arena.
Di luar klub, kontribusinya juga menjalar ke tim nasional. Rama memperkuat Indonesia di sejumlah ajang regional dan Asia, membawa pengalaman internasional kembali ke liga domestik. Setiap turnamen menambah kedewasaan permainannya. Lebih sabar membaca blok, lebih cerdas memilih sudut serangan, lebih matang mengatur emosi.
Kini, di usianya yang baru memasuki 23 tahun, Rama berdiri di fase penting kariernya. Bukan lagi prospek. Dia sudah menjadi pembuktian bahwa pemain binaan lokal bisa menjadi mesin poin utama, bisa bersaing dengan legiun asing, dan bisa mengangkat nama klub dengan kerja keras.
Setiap kali Samator bertanding, satu hal kini hampir pasti bahwa ketika bola terakhir harus ditentukan, ia akan berada di udara, tangan kanan terangkat tinggi, siap menghantam. Dan, di momen itu, julukan “Gladiator Samator” terasa bukan sekadar kata-kata, melainkan identitas yang memang dibangun dengan latihan dan kerja tanpa lelah. Poin demi poin, lompatan demi lompatan, hingga pertarungan demi pertarungan. (*)







