Gubernur Iqbal: Nyepi dan Idul Fitri Jadi Wajah Toleransi Masyarakat NTB

oleh -305 Dilihat
Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal.
Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal. (Foto: Ist)

KabarBaik.co, Mataram – Gubernur Nusa Tenggara Barat Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa perayaan Hari Raya Nyepi umat Hindu yang berdekatan dengan malam takbiran dan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah umat Islam harus menjadi momentum untuk menunjukkan kuatnya nilai toleransi masyarakat NTB.

“NTB sejak lama dikenal sebagai daerah yang menjunjung tinggi toleransi. Kita ingin memastikan bahwa perayaan dua hari besar keagamaan ini justru menjadi momentum untuk menunjukkan wajah kerukunan dan kebersamaan masyarakat NTB,” ujar Gubernur saat memimpin rapat koordinasi bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) NTB di Ruang Rapat Sangkareang Kantor Gubernur NTB, Senin (16/3).

Rapat tersebut digelar untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan keagamaan menjelang Nyepi dan Idulfitri di NTB dapat berlangsung aman, tertib, serta tetap mencerminkan tradisi toleransi yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Sejumlah unsur hadir dalam rapat tersebut, antara lain Wakapolda NTB, Kabinda NTB, perwakilan Korem 162/WB, Lanal Mataram, Lanud ZAM, Ketua FKUB NTB, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia NTB, Kapolresta Mataram, Asisten I Setda Kota Mataram, serta perangkat daerah terkait.

Gubernur Miq Iqbal menyampaikan bahwa secara umum kondisi keamanan dan kerukunan masyarakat di NTB masih dalam keadaan kondusif. Namun, langkah antisipasi tetap diperlukan karena dinamika yang terjadi di daerah lain berpotensi memengaruhi psikologi masyarakat.

Menurutnya, pengamanan dan pengelolaan kegiatan keagamaan tersebut merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah daerah, aparat keamanan, tokoh agama, serta masyarakat.

Ia juga menekankan pentingnya menghadirkan praktik toleransi secara nyata dalam setiap kegiatan keagamaan yang akan dilaksanakan.

Salah satu bentuk kesepahaman yang dibahas dalam rapat tersebut adalah penghentian sementara musik atau sound system pawai ogoh-ogoh ketika waktu azan tiba sebagai bentuk penghormatan kepada umat Islam yang sedang menunaikan ibadah.

Sebaliknya, ketika pawai takbiran melintasi kawasan permukiman umat Hindu yang sedang menjalankan Catur Brata Penyepian, peserta takbiran diimbau untuk tidak menggunakan pengeras suara secara berlebihan.

“Kita ingin toleransi itu tidak hanya menjadi slogan, tetapi terlihat nyata dalam kehidupan masyarakat,” tegasnya.

Dalam rapat tersebut juga dipaparkan timeline kegiatan keagamaan yang akan berlangsung di NTB, yakni pawai ogoh-ogoh pada 18 Maret, Hari Raya Nyepi pada 19 Maret, pawai takbiran pada malam 19 atau 20 Maret, Idulfitri bagi warga Muhammadiyah pada 20 Maret, serta kemungkinan Idul Fitri berdasarkan sidang isbat Kementerian Agama pada 21 Maret.

Gubernur juga meminta perhatian khusus terhadap wilayah yang belum terbiasa dengan tradisi ogoh-ogoh, terutama di beberapa kawasan di Pulau Sumbawa. Sosialisasi dan pengamanan diminta diperkuat agar kegiatan tersebut dapat dipahami masyarakat secara baik.

Selain itu, rapat juga menyoroti munculnya sejumlah narasi di media sosial yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

Kabinda NTB mengingatkan bahwa dinamika yang terjadi di daerah lain dapat memicu sentimen negatif jika tidak disikapi secara bijak. Karena itu, Gubernur meminta seluruh pihak aktif membangun narasi positif mengenai toleransi di NTB.

“Saya minta kita semua aktif membangun narasi positif bahwa NTB adalah daerah yang menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi kerukunan antarumat beragama,” ujarnya.

Sejumlah kesepakatan penting juga dihasilkan dalam rapat tersebut, di antaranya disiplin pelaksanaan kegiatan sesuai waktu yang disepakati, sosialisasi luas kepada masyarakat Hindu dan Muslim, larangan aktivitas yang berpotensi mengganggu ketertiban seperti konsumsi minuman keras di ruang publik saat kegiatan ogoh-ogoh, serta penguatan pengawasan di wilayah yang belum terbiasa dengan kegiatan tersebut.

Pemerintah daerah juga diminta memastikan ketersediaan distribusi BBM serta dukungan pasokan listrik selama rangkaian perayaan keagamaan berlangsung.

Sementara itu, FKUB NTB memaparkan data Indeks Kerukunan Umat Beragama di NTB yang mencapai angka 73,84 dan masuk kategori tinggi menuju sangat tinggi.

Rinciannya meliputi indeks toleransi sebesar 87,44 yang masuk kategori sangat tinggi, indeks kesetaraan 81,19 dalam kategori tinggi, serta indeks kebersamaan 52,88 yang dinilai masih perlu diperkuat.

Gubernur Miq Iqbal meminta agar kesepakatan yang telah dibahas segera ditindaklanjuti melalui surat edaran serta koordinasi lebih lanjut di tingkat daerah. Ia juga meminta Dinas Komunikasi dan Informatika memperkuat penyebaran pesan-pesan toleransi kepada masyarakat.

“NTB harus menjadi contoh bagaimana masyarakat yang berbeda agama dapat hidup rukun dan saling menghormati. Ini adalah warisan sosial yang harus terus kita jaga,” ujarnya.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Arief Rahman
Editor: Andika DP


No More Posts Available.

No more pages to load.