KabarBaik.co, Mataram – Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Muhamad Iqbal, menawarkan konsep transformasi pertanian melalui konsolidasi pengelolaan lahan yang terinspirasi dari model Federal Land Development Authority (FELDA) Malaysia. Model tersebut dinilai dapat menjadi solusi untuk meningkatkan produktivitas, menekan biaya produksi, serta memperkuat kesejahteraan petani di tengah persoalan kepemilikan lahan yang semakin kecil.
Gagasan itu disampaikan Iqbal saat menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) IX Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Provinsi NTB yang dirangkaikan dengan Dialog Tani di Mataram. Musda HKTI NTB mengusung tema “Memperkuat Peran Petani NTB Menuju NTB Makmur Mendunia dan Generasi Indonesia Emas 2045.”
Dalam kesempatan tersebut, Iqbal mengatakan, sektor pertanian masih menjadi salah satu fondasi utama perekonomian NTB. Namun, pembangunan pertanian tidak cukup hanya mengejar peningkatan produksi, melainkan harus mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Ia menyebut sejumlah indikator menunjukkan kondisi sektor pertanian NTB terus membaik.
Hingga pertengahan 2026, Nilai Tukar Petani (NTP) NTB mencapai angka 131, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional yang berada di kisaran 127. Sementara Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) tercatat mencapai 135. “Capaian ini menunjukkan usaha pertanian semakin menjanjikan. Ini menjadi sinyal positif bagi generasi muda bahwa pertanian memiliki prospek yang baik, termasuk bagi lembaga keuangan untuk memberikan dukungan pembiayaan,” ujar Iqbal.
Meski demikian, ia mengingatkan masih terdapat tantangan besar, terutama terkait kondisi petani gurem. Sekitar 70 persen petani di NTB memiliki lahan yang relatif sempit, bahkan sebagian tidak mempunyai lahan sendiri.
Kondisi tersebut, kata dia, membuat biaya produksi menjadi tinggi dan efisiensi usaha pertanian sulit tercapai.
Untuk mengatasi persoalan itu, Gubernur menawarkan konsep pengelolaan lahan secara kolektif dengan mengambil pelajaran dari keberhasilan FELDA Malaysia. Ia mengungkapkan, saat mengunjungi FELDA, dirinya melihat bagaimana konsolidasi lahan dan tata kelola pertanian yang terintegrasi mampu meningkatkan efisiensi dan pendapatan petani.
“Yang ingin kita ambil bukan menyalin sistemnya secara utuh, tetapi belajar dari prinsip keberhasilannya, yaitu bagaimana petani memperoleh skala ekonomi yang lebih besar melalui pengelolaan bersama,” jelasnya. Menurutnya, banyak hamparan sawah di NTB yang secara fisik terlihat luas dan menyatu, namun sebenarnya dimiliki oleh ratusan petani dengan luas lahan yang berbeda-beda.
Jika lahan tersebut dikelola secara bersama melalui koperasi multipihak atau badan usaha profesional, maka penggunaan alat mesin pertanian, benih, pupuk hingga pemasaran hasil panen dapat dilakukan lebih efisien. “Tadi sepanjang perjalanan kita melihat hamparan sawah yang sangat luas. Secara fisik terlihat satu kesatuan, tetapi pemiliknya bisa ratusan orang. Bayangkan apabila seluruh lahan itu dikelola bersama melalui koperasi, biaya produksi akan lebih efisien dan petani mendapatkan nilai ekonomi yang lebih besar,” katanya.
Selain meningkatkan efisiensi budidaya, model tersebut juga diyakini dapat membuka peluang hilirisasi hasil pertanian, seperti pengolahan produk, distribusi, hingga pengembangan usaha turunan lainnya. Iqbal mengajak HKTI NTB dan seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama membangun pola pertanian yang lebih modern, kolaboratif, dan berorientasi pada peningkatan kesejahteraan petani.
“Pertanian kita harus bergerak dari pola yang berjalan sendiri-sendiri menuju pola kolaboratif. Dengan skala ekonomi yang lebih besar, petani akan memiliki daya saing lebih kuat dan memperoleh nilai tambah yang lebih besar,” tegasnya.
Pada kesempatan itu, Gubernur juga menyampaikan ucapan selamat kepada Willgo Zainar yang kembali terpilih sebagai Ketua HKTI Provinsi NTB. Ia berharap kepengurusan baru mampu memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah dalam mempercepat transformasi sektor pertanian.
Pemprov NTB menargetkan pembangunan pertanian tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun ekosistem pertanian modern melalui konsolidasi lahan, penguatan koperasi multipihak, hilirisasi komoditas, serta kolaborasi dengan dunia usaha dan lembaga keuangan. Melalui langkah tersebut, NTB menargetkan peningkatan Nilai Tukar Petani hingga mendekati angka 150 sebagai salah satu indikator meningkatnya kesejahteraan petani. (*)






