KabarBaik.co, Jombang – Di tengah padatnya agenda sebagai Wakil Bupati Jombang, Salmanudin Yazid yang akrab disapa Gus Salman tetap menjaga tradisi lamanya sebagai pengasuh Pondok Pesantren Babussalam.
Bagi Gus Salman, Ramadan bukan sekadar bulan ibadah, melainkan momentum memperkuat ikhtiar spiritual yang sudah dijalani bertahun-tahun.
Setiap pagi pukul 07.00 WIB, Gus Salman berangkat ke kantor untuk menjalankan tugas sebagai Wakil Bupati Jombang.
Sepekan penuh ia melayani masyarakat dan menyelesaikan agenda pemerintahan. Namun, saat malam tiba, perannya kembali ke dunia pesantren.
“Kalau malam kan tidak ada agenda dinas. Jadi tetap kita manfaatkan untuk wiridan yang selama ini saya pegang,” ujar Gus Salman, Kamis (5/3).
Dengan izin Bupati Jombang, ia mengisi malam-malam Ramadan dengan mengajar ngaji kitab kuning di Pondok Pesantren Babussalam, Dusun Kalibening, Desa Tanggalrejo, Kecamatan Mojoagung.
Tradisi itu bukan hal baru. Gus Salman telah menjalankan wiridan selama 16 tahun. Setiap Ramadan, kitab yang selalu ia baca adalah Jawahirul Bukhari, kitab yang membahas hadis-hadis pilihan.
“Tiap Ramadan mesti saya baca Jawahirul Bukhari. Kalau dulu pagi juga ada Al-Hikam dan Bulughul Maram, tapi sejak jadi pejabat ini kita ambil malam saja,” tuturnya.
Pengajian tersebut berlangsung setiap malam selama Ramadan, dengan total 17 pertemuan hingga khatam.
Bagi Gus Salman, menjaga tradisi mengaji di tengah jabatan publik merupakan bentuk keseimbangan antara pengabdian kepada masyarakat dan khidmat kepada pesantren.
“Keinginan dari pesantren jalan, keinginan pribadi jalan. Kemudian khidmat saya di Kabupaten Jombang tetap jalan,” ungkapnya.
Pondok Pesantren Babussalam yang diasuhnya kini memiliki sekitar 1.460 santri mukim dari berbagai daerah di Indonesia. Secara keseluruhan, jumlah santri yang menempuh pendidikan di lembaga tersebut mencapai sekitar 2.700 orang.
Bagi para santri, Ramadan di Babussalam memiliki suasana yang berbeda dibanding hari biasa. Revalina Silviyanto (18), santri asal Surabaya yang sudah lima tahun mondok di sana, merasakan perbedaan itu terutama pada sistem pembelajaran.
“Kalau Ramadan itu ada sistem kilatan dan kitab yang dipelajari lebih banyak,” kata Revalina.
Selama 15 hari pertama Ramadan, ia bersama santri lainnya mempelajari sekitar empat kitab. Jadwal pengajian berlangsung padat sejak pagi, siang, sore hingga malam hari.
Khusus malam, para santri mengikuti pengajian Jawahirul Bukhari bersama Gus Salman menjadi momen yang dinanti setiap tahunnya.
Di tengah kesibukan birokrasi, Gus Salman menunjukkan bahwa tradisi dan pengabdian spiritual tetap bisa berjalan beriringan dengan tugas sebagai pejabat publik.
Ramadan, bagi dia dan para santri Babussalam, bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga, tetapi juga memperdalam makna ilmu dan pengabdian. (*)







