Hadapi Dampak Perang Timur Tengah dan El Nino, Pemprov Jatim Mitigasi Energi hingga Pangan

oleh -237 Dilihat
Suyanti pedagang soto
Suyanti pedagang soto

KabarBaik.co, Surabaya – Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai membayangi stabilitas ekonomi nasional. Tersendatnya pasokan minyak dunia memicu kekhawatiran akan kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri.

​Menyikapi situasi global tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Timur bergerak cepat melakukan langkah mitigasi. Pemprov Jatim secara resmi menyiapkan gerakan hemat energi dan pemetaan potensi kekeringan ekstrem akibat fenomena El Nino guna menjaga status Jawa Timur sebagai lumbung pangan nasional, Senin (6/4).

​Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyatakan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi maraton dengan Pertamina Patra Niaga untuk memastikan stok energi tetap aman. Fokus utama saat ini bukanlah pembatasan, melainkan penyesuaian distribusi BBM dan LPG 3 kilogram.

​”Kita pastikan para Pedagang Kaki Lima (PKL) terdaftar di pangkalan-pangkalan resmi. Ini penting agar data lebih detail dan menghindari gejolak harga secara psikologis di masyarakat,” ujar Khofifah saat ditemui di Surabaya, Senin siang.

​Selain itu, Pemprov Jatim juga menggalakkan gerakan hemat energi yang dimulai secara serentak sejak Senin ini.

​Meski tujuannya untuk mitigasi, rencana penyesuaian distribusi ini mulai menuai kekhawatiran dari pelaku usaha kecil. Suyanti, seorang pedagang soto ayam di Surabaya, mengaku keberatan jika kuota pembelian LPG melon di pangkalan harus dikurangi.

​”Kalau biasanya sehari bisa beli 10 tabung, lalu karena harga BBM naik cuma boleh beli 5 tabung, ya keberatan. Kita kan jualan butuh banyak. Kalau bisa harga jangan naik, kasihan rakyat kecil yang menanggung akibatnya,” keluh Suyanti.

​Selain sektor energi, ancaman cuaca ekstrem akibat El Nino juga menjadi fokus utama. Pemprov Jatim telah memetakan daerah rawan kekeringan hingga tingkat desa untuk memastikan produktivitas pertanian tidak terganggu.

​Puncak kemarau sendiri diprediksi akan terjadi pada Mei hingga Agustus 2026. Untuk mempertahankan posisi Jawa Timur sebagai produsen pangan utama, teknologi modifikasi cuaca akan disiapkan.

Langkah strategis yang dilakukan oleh pemprov jatim yakni pemetaan detail yakni Melakukan pemetaan daerah rawan kekeringan hingga level desa, bukan lagi sekadar tingkat kabupaten/kota.

​pemprov jatim akan melakukan modifikasi cuaca dengan Bekerja sama BNPB dan BMKG untuk mengelola potensi awan menjadi sumber air melalui Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC).

​Pemprov jatim efisiensi mandiri dengan mengimbau masyarakat untuk mulai melakukan efisiensi energi secara mandiri di rumah tangga masing-masing.

​”Kemarin kita gunakan manajemen hidrometeorologi untuk mengelola hujan, nanti kita gunakan untuk me-manage awan agar menjadi sumber air. Ini semua agar lumbung pangan kita tetap terjaga meski El Nino lebih panjang,” tambah Khofifah.

​Masyarakat diharapkan tetap tenang namun waspada. Sinergi antara pemerintah dan warga menjadi kunci utama agar Jawa Timur mampu bertahan di tengah guncangan krisis global dan tantangan iklim yang terjadi saat ini.(*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Sugiantoro
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.