DALAM lembar takdir yang halus seperti benang sutra surga, tahun 2013 menjadi sebuah penanda yang tak mungkin pudar dalam ingatan. Kala itu, takdir menuliskan nama saya sebagai salah satu dari mereka yang terpilih menjadi bagian dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) di bagian Media Center Haji (MCH). Sebuah panggilan yang bukan sekadar tugas, melainkan tamasya ruhani menuju pusat semesta umat Islam: tanah haram Makkah al-Mukarramah.
Baca juga: Panggilan Langit
Prosesnya bukan serta-merta. Ia bukan buah dari kebetulan, melainkan hasil dari seleksi yang merupa ujian lahir dan batin. Kami yang terpilih dibina dan dibekali di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta. Tempat itu bukan sekadar ruang penginapan, tapi semacam mihrab tempat kami belajar menata niat dan meluruskan tujuan. Seperti biji yang ditanam di tanah subur, kami tumbuh dengan kesadaran bahwa tugas ini adalah amanah, bukan kehormatan kosong.
Dan kemudian, tibalah saya di tanah yang dijanjikan. Langit Makkah menyambut dengan cahaya yang tak biasa. Seolah mengguratkan bahwa ini adalah perjumpaan antara ruh yang merindu dengan Rumah-Nya yang Agung. Untuk kali pertama dalam hidup saya, mata ini menyaksikan Ka’bah dengan segala kebeningan dan kebesarannya.
Ia berdiri tegak di tengah pusaran manusia, seperti pusat semesta yang tak henti berputar. Jantung saya berdetak tidak seperti biasanya. Getarnya bukan sekadar biologis, melainkan spiritual. Inilah rumah itu. Inilah Baitullah. Di titik ini, saya menjadi debu yang sadar bahwa ia berasal dari tanah, dan kepada tanah pula ia akan kembali.
Sebagaimana firman Allah SWT:
“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah Maqam Ibrahim itu tempat salat.” (QS. Al-Baqarah: 125)
Seperti jutaan jiwa lainnya, saya ikut bertawaf. Mengelilingi Ka’bah bukan hanya dengan langkah kaki, tetapi dengan putaran jiwa. Tawaf adalah zikir yang terwujud dalam gerak. Ia adalah puisi tubuh yang mengitari kekasihnya. Dalam pusaran manusia dari berbagai bangsa dan warna kulit itu, saya merasa menjadi bagian dari satu tubuh raksasa yang sedang mencari wajah Tuhan.
Namun ada satu keinginan kecil, tapi begitu dalam. Mencium Hajar Aswad. Batu hitam yang pernah dicium oleh Rasulullah ﷺ. Batu yang tak hanya menyimpan sejarah, tapi juga peluk rahasia dari langit.
Namun bagaimana mungkin, pikir saya, dengan tubuh yang kecil dan kurus ini mampu menembus gelombang manusia yang derasnya seperti sungai yang meluap? Jemaah lain tampak jauh lebih besar dan kuat. Tapi keyakinan bukan tentang otot, ia adalah tentang batin yang tak menyerah.
Lalu saya berwasilah, berpegangan pada tali tak terlihat yang menghubungkan bumi dan langit. Nama ibu saya, Muyasaroh. Di dalam hati saya berkata. “Bu, dengan nama dan kasih sayangmu, semoga Allah memudahkan jalan anakmu ini untuk dapat mencium Hajar Aswad sebagaimana Rasulullah pernah melakukannya.”
Kalimat itu menjadi mantra yang saya bisikkan lirih, tapi gaungnya menggema dalam jiwa.
Dan Subhanallah, lautan manusia itu, yang awalnya tampak seperti tembok raksasa, seolah terbuka perlahan. Jalannya seperti belahan laut untuk Nabi Musa AS. Saya berjalan dengan keyakinan, bukan kekuatan. Tubuh saya yang kecil itu melesak ke depan, menghindari dorongan, merunduk di sela-sela, hingga akhirnya—tanpa saya sadari—bibir ini menyentuh batu hitam itu. Wangi dan dinginnya menusuk, namun menenangkan.
Saya menangis. Tapi air mata itu bukan kesedihan. Ia adalah cairan syukur yang keluar dari sumur terdalam batin saya.
Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya aku tahu, engkau adalah batu yang tidak dapat memberi mudarat dan manfaat. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah SAW menciummu, aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Saya cium cukup lama, hingga akhirnya mesti bergantian dengan jemaah lain. Ada yang menarik kepala saya. Mereka ingin juga menciumnya. Tapi, saat itu, saya tahu bahwa saya tak sendiri. Ada nama ibu saya di situ. Ada cinta yang menjelma menjadi jalan. Ada restu yang menembus kerumunan dan menjadi kekuatan tak kasatmata.
Apa yang saya alami, tak banyak orang lain yang bisa mengulangnya. Bahkan beberapa teman saya yang memiliki tubuh lebih besar, lebih kuat, tak mampu mencium Hajar Aswad. Mereka bertanya, bagaimana saya bisa? Saya hanya tersenyum, lalu dengan rendah hati menceritakan wasilah yang saya pakai. Nama ibu saya. Cinta yang membukakan jalan.
Beberapa kali, trik itu saya ulangi. Dalam momen-momen langka di mana kesempatan terbuka, saya kembali melangkah dengan nama yang sama dalam dada. Dan selalu, jalan itu seolah terbuka. Beberapa teman mulai mengikuti cara saya. Sebagian berhasil, sebagian belum. Tapi saya yakin, bukan triknya yang penting, melainkan keyakinan dan keikhlasan yang menyertainya.
Sebelumnya, saat tawaf, saya dan teman sempat ditawari oleh seorang calo yang menjanjikan akses untuk mencium Hajar Aswad dengan imbalan Riyal. Sebuah pintu jalan pintas yang menggiurkan. Apalagi bagi mereka yang sudah lelah dan putus asa. Tapi, saya memilih menolak. Sebab, dalam ibadah, yang diperjualbelikan tak hanya fisik, melainkan juga kesucian niat. Jika Hajar Aswad adalah batu dari langit, maka jalan menuju kepadanya harus pula langitiah: bersih, ikhlas, dan tak bercela.
Saya berpikir, betapa banyak dari kita yang mencari jalan pintas dalam hal-hal suci. Tapi apa artinya mencium batu hitam jika caranya mengotori putihnya niat? Bukankah ritual hanyalah kulit luar, dan esensinya adalah makna di dalam?
Perjalanan haji saya bukan hanya tentang tugas jurnalistik. Ia adalah metamorfosis batin. Dari seseorang yang datang dengan status sebagai bagian dari MCH, menjadi seseorang yang pulang dengan jiwa yang disentuh langit. Ka’bah tak hanya menjadi objek yang saya laporkan dalam berita, tapi menjadi cermin yang memantulkan kembali wajah asli jiwa saya.
Dan saya percaya, setiap jemaah memiliki kisahnya masing-masing. Tapi kisah saya ini, adalah tentang cinta. Tentang seorang anak yang berwasilah dengan nama ibunya. Tentang doa yang menjadi jembatan. Tentang keberanian yang berasal dari keyakinan, bukan kekuatan.
Bahkan hingga hari ini, aroma batu itu masih tercium dalam ingatan saya. Bukan hanya karena harum fisiknya, tapi karena harum kenangan yang melekat di dalamnya. Setiap kali saya merasa kecil, lemah, dan tak mampu menghadapi kerumunan kehidupan, saya ingat kembali momen itu. Bahwa tubuh kecil ini pernah menembus lautan manusia. Bahwa dengan cinta, segala yang tampak mustahil bisa menjadi mungkin.
Haji bukan sekadar perjalanan fisik. Ia adalah perjalanan pulang menuju diri. Mencium Hajar Aswad bukan sekadar ritual, tapi simbol: bahwa kita pernah, meski sekejap, menyentuh surga dengan wajah kita. Dan bahwa untuk menyentuhnya kembali, kita tak perlu tubuh yang besar, tapi cukup hati yang bersih dan keyakinan yang utuh.
Dan nama ibu saya, akan selalu saya bawa, dalam setiap pusaran tawaf kehidupan yang saya jalani. (bersambung)






