Simfoni Sunyi Kepak Merpati di Tanah Suci

oleh -161 Dilihat
KHOFIFAH MERPATI
ILUSTRASI: Gubernur Jawa Timur Hj Khofifah Indar Parawansa, berinteraksi dengan burung merpati di Tanah Suci saat umrah awal tahun 2024 (Foto:IG KIP)

SAMA dengan Anda. Satu di antara visualisasi terbaik di Tanah Suci adalah menikmati lukisan nyata nan agung burung-burung merpati. Pun begitu dengan saya saat menapak Makkah dan Madinah sebagai bagian dari Media Center Haji (MCH) pada 2013. Dalam hiruk-pikuk liputan dan dokumentasi, selalu ada momen-momen hening. Menyelinap di antara tugas.

Duduk di sudut Kota Madinah, menikmati secangkir kopi dan tarikan asap rokok, menyaksikan merpati yang bebas beterbangan itu bak terapi. Membangkitkan kenangan masa kecil di kampung kecil. Merawat merpati hingga membuat pagupon dengan penuh cinta. Tapi, di Tanah Suci, merpati terasa begitu dimuliakan? Apa makna di balik kehadiran mereka?

Baca juga: Panggilan Langit

Merpati di Makkah dan Madinah bukan sekadar burung. Mereka adalah simbol kedamaian dan perlindungan ilahi. Kisah masyhur adalah saat Rasulullah SAW bersembunyi di Gua Tsur bersama Abu Bakar. Allah SWT mengutus laba-laba untuk membuat jaring di pintu gua dan merpati untuk bersarang di sana. Kaum Quraisy pun mengira gua tersebut kosong. Nabi dan sahabatnya pun selamat.

Peristiwa ini menunjukkan bagaimana makhluk kecil pun dapat menjadi alat perlindungan dari Allah SWT. Kisah ini bukan hanya naratif sejarah. Namun, jendela untuk memahami. Bagaimana Tuhan menciptakan perlindungan dalam bentuk yang tak terduga. Seekor merpati dan jaring laba-laba telah menyelamatkan masa depan risalah kenabian.

Mungkinkah kehadiran merpati di Tanah Haram hari ini adalah gema dari kejadian itu? Sebuah pengingat visual dari langit, bahwa makhluk kecil pun punya peran besar dalam sejarah agung umat manusia.

Di Tanah Suci, membunuh merpati adalah tindakan terlarang keras. Bahkan, bagi siapa saja yang membunuh merpati di Makkah, harus membayar dam atau fidyah. Larangan ini bukan sekadar aturan fikih, melainkan cermin dari penghormatan terhadap kehidupan dalam segala bentuknya. Dalam zona haram, yang haram bukan hanya perbuatan maksiat, tetapi juga tindakan zalim terhadap makhluk Allah yang paling lemah sekalipun.

Baca juga: Sepatu Dahlan Iskan 19: Antara Cinta Dunia dan Panggilan Langit Tanah Suci

Allah SWT berfirman: “…dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu termasuk ketakwaan hati.” (QS. Al-Hajj: 32).

Merpati menjadi bagian dari syiar itu. Mereka adalah warga tetap kota suci. Mereka tidak terusir oleh pembangunan, tidak ditakuti oleh manusia, dan tidak menyimpan rasa takut pada keramaian. Mereka menjadi representasi dari keterhubungan spiritual antara langit dan bumi, antara manusia dan makhluk lain ciptaan Allah.

Merpati di Tanah Suci itu melempar ke masa kecil. Merawat merpati adalah bagian dari dunia yang saya ciptakan sendiri. Pagupon-pagupon dengan bentuk artistik, penuh detail dan nuansa. Menjadi pelengkap rumah-rumah di kampung. Merpati bukan hanya peliharaan, tapi semacam sahabat diam. Mereka seperti memahami bahasa hening.

Dulu, ketika merpati sudah terlalu banyak atau dianggap cukup masa hidupnya, tak jarang kami mengadakan mayoran atau bancakan merpati. Digoreng, lalu disantap bersama. Gurihnya.

Tentu, tak ada rasa bersalah dengan perilaku itu, Sebab, itu bagian dari siklus. Tapi, di Tanah Suci? Kita dihadapkan pada cermin moral. Burung yang sama, namun statusnya berbeda. Di Makkah dan Madinah, ia menjadi sakral. Diharamkan untuk dibunuh. Bukan karena burungnya berubah, tetapi ruang dan makna tempat kita memandangnya yang berubah.

Baca juga: Hajar Aswad dan Nama Ibu

Makkah dan Madinah adalah ruang-ruang transformasi. Keduanya tidak sekadar tempat geografis. Tapi, ruang metafisik. Apa yang biasa, menjadi luar biasa. Apa yang boleh, menjadi haram. Di sinilah letak perenungan. Mungkinkah kita, manusia, juga mengalami transformasi seperti itu saat berada di Tanah Haram? Dari manusia biasa, menjadi tamu Allah. Dari pejalan kaki menjadi peziarah. Dari pengamat, menjadi penyaksi.

Burung merpati, yang mungkin di negeri asal dianggap liar, bahkan kadang dianggap hama, di Tanah Suci menjadi bagian ekosistem suci. Ini bukan hanya pelajaran tentang burung. Namun, soal persepsi. Cara pandang. Tentang kehormatan yang diberikan Allah kepada makhluk-Nya, di ruang yang Dia pilih sebagai rumah-Nya.

Dalam Alquran, burung pun disebut sebagai makhluk yang bertasbih: “Tidakkah kamu tahu bahwa kepada Allah bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya?” (QS. An-Nur: 41).

Baca juga: Sahabat di Tanah Suci: Seutas Tali Penenun Makna

Mereka bukan hanya makhluk biologis, melainkan makhluk spiritual. Mereka tahu caranya bertasbih, caranya kembali ke Allah SWT. Sebuah hadis juga menyebutkan: “Ada seorang laki-laki yang melihat seekor anjing kehausan lalu dia turun ke dalam sumur dan memberinya minum. Maka Allah mengampuni dosanya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Jika memberi minum anjing bisa menjadi jalan ampunan, apalagi memberi makan merpati di Tanah Haram?

Duduk di sudut taman Madinah dengan secangkir kopi dan tarikan asap rokok, aku menyaksikan simfoni sunyi. Merpati terbang dan hinggap. Jemaah datang dan pergi. Udara penuh dengan aroma damai. Dalam keheningan itu, saya merasa Sang Khaliq begitu dekat. Kopi adalah dunia. Rokok adalah waktu yang terbakar. Merpati adalah jiwa. Di titik ini, semuanya menyatu dalam satu kesadaran. Bahwa, kita adalah tamu. Dan, tamu yang baik adalah yang belajar dari rumah yang ia kunjungi.

Mungkin Anda pun merasakan, Madinah terasa lebih tenang dibandingkan Makkah? Makkah adalah energi yang membuncah. Tawaf yang tak pernah henti. Doa yang bergemuruh. Sedangkan Madinah adalah napas panjang yang tenang. Salawat yang lirih. Damai yang meresap. Dan, merpati pun seperti lebih nyaman di Madinah. Mereka terbang lebih rendah, hinggap lebih lama. Seakan tahu bahwa kota ini adalah tempat Rasulullah SAW memilih untuk menetap.

Baca juga: Sepuntung Asap di Tanah Suci

Di antara dua kota ini, aku belajar dua wajah spiritualitas. Ekstase dan ketenangan. Dzikir yang berteriak dan dzikir yang berbisik.

Sebagai bagian dari MCH, bersyukur aku memiliki kesempatan langka itu. Merekam, menyimak, dan menyimpan jejak-jejak para jemaah haji dari seluruh penjuru negeri. Lensa kamera menjadi mata kedua. Menangkap bukan hanya gambar, tapi juga emosi. Suatu hari, saya mendekati seorang bapak tua asal Jawa Timur. Ia menangis di hadapan Kakbah. Saya bertanya. Ia pun menjawab. “Saya tak menyangka Allah undang saya. Saya cuma penjual koran.”

Di belakang layar, saya menyaksikan bagaimana setiap jemaah pasti mempunyai cerita. Ada yang membawa harapan, ada yang membawa luka, ada yang ingin menutup masa lalu dengan doa, ada yang ingin membuka lembaran baru. Atau bahkan sebatas validasi sosial. Yang pasti, dalam semua itu, merpati tetap ada. Menemani, menyaksikan, dan seolah-olah ikut mendoakan.

Dalam literatur sufistik, merpati sering disimbolkan sebagai ruh atau jiwa yang rindu pulang ke asalnya: Allah SWT. Kepakan sayapnya adalah gerak spiritual menuju langit makrifat. Bahkan, Rumi dalam puisinya berkata: “You were born with wings, why prefer to crawl through life?”

Merpati tidak hanya bergerak, tapi pulang. Mereka tahu arah meski tak punya peta. Merpati tak pernah ingkar janji. Seperti ruh yang mengenal fitrah, dan rindu kepada asalnya. Di Tanah Suci, jiwa kita menemukan frekuensi itu. Sebuah resonansi dengan alam langit.

Baca juga: Menyusuri Jejak Sunyi di Langit Hira

Sungguh, berhaji bukan hanya soal manasik. Tapi juga soal ziarah jiwa. Dan burung merpati adalah salah satu guru sunyi itu. Mereka mengajarkan untuk terbang tinggi, namun tetap tahu tempat pulang. Hidup di antara riuh manusia, namun tetap menjadi hamba yang tunduk. Mereka tidak sibuk dengan hiruk-pikuk. Mereka sibuk bertasbih. Mereka tidak takut pada manusia karena mereka tahu, di Tanah Haram, manusia pun diwajibkan berperilaku lembut kepada mereka.

Jadi, mengapa begitu banyak merpati di Tanah Suci? Mungkin karena Allah ingin kita belajar dari mereka. Tentang kesetiaan, tentang damai, tentang spiritualitas yang diam. Dalam dunia yang terus bising, merpati mengajarkan arti tasbih dalam keheningan.

Dalam hati pun berbisik lirih, jangan abaikan burung-burung kecil ini. Mereka adalah bagian dari narasi besar spiritualitas Tanah Haram. Mereka adalah simbol. Mereka adalah pesan. Dan kadang, suara Allah lebih terdengar dalam kepakan sayap merpati daripada dalam ribuan kata yang kita baca atau dengar.

Wallahu a’lam bish-shawab. (*/bersambung)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: M. Sholahuddin


No More Posts Available.

No more pages to load.