KabarBaik.co, Malang – Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menyiapkan langkah strategis melalui Kerja Sama Antar Daerah (KAD) untuk menekan lonjakan harga cabai yang terjadi di pasaran. Di Pasar Tawangmangu, harga cabai dilaporkan mencapai Rp 95 ribu per kilogram pada awal Februari 2026.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat mengatakan, tingginya harga cabai menjadi perhatian serius pemerintah daerah, terlebih pengendalian inflasi daerah kini menjadi salah satu fokus evaluasi rutin Kementerian Dalam Negeri. “Memang saya diberikan PR oleh Pak Menteri Dalam Negeri yang setiap minggu mengevaluasi inflasi daerah, terutama terkait harga cabai. Saat ini harga cabai memang sangat tinggi,” ujar Wahyu, Kamis (5/2).
Sebagai upaya pengendalian, Pemkot Malang akan mengoptimalkan kerja sama dengan daerah penghasil cabai di Jawa Timur guna memperoleh pasokan dengan harga yang lebih terjangkau. “Nanti akan kami lihat mana daerah yang lebih murah, itu yang akan kami beli,” jelasnya.
Selain KAD, Pemkot Malang juga mempertimbangkan untuk mengaktifkan kembali Warung Tekan Inflasi (WTI) sebagai bentuk intervensi pasar. WTI diharapkan menjadi jalur distribusi alternatif bagi pedagang dan masyarakat agar harga cabai lebih stabil.
Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang Indra Kuspriyadi menyebut, periode Imlek dan Ramadan merupakan fase krusial yang berpotensi memicu tekanan inflasi, khususnya pada komoditas pangan. “Menghadapi tekanan inflasi pada periode Imlek dan Ramadan yang jatuh pada bulan ini, Tim Pengendali Inflasi Daerah akan meningkatkan intensitas pemantauan harga,” kata Indra.
Ia menambahkan, BI Malang bersama TPID juga siap menggelar operasi pasar sebagai langkah menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok di masyarakat. “Kami siap menggelar operasi pasar dalam rangka stabilisasi harga kebutuhan pokok,” ujarnya.
Menurut Indra, sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Bank Indonesia akan terus diperkuat melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) dengan pendekatan 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga inflasi tetap berada pada sasaran nasional sebesar 2,5 ± 1 persen secara tahunan. (*)






