Cabai Rawit Tembus Rp 120 Ribu, Indef: Ini Inflasi Musiman yang Harusnya Bisa Diantisipasi

oleh -100 Dilihat
Kenaikan harga cabai merupakan inflasi musiman yang hampir selalu berulang setiap tahun dan seharusnya dapat diantisipasi sejak awal.

KabarBaik.co, Surabaya – Kenaikan harga cabai rawit merah kembali terjadi saat Ramadan 1447 Hijriah. Di sejumlah daerah, harga komoditas dapur tersebut bahkan sempat menyentuh Rp 120.000 per kilogram (kg), memicu kekhawatiran masyarakat di tengah meningkatnya kebutuhan pangan.

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, menilai lonjakan harga ini bukan fenomena baru.

Menurutnya, kenaikan harga cabai merupakan inflasi musiman yang hampir selalu berulang setiap tahun dan seharusnya dapat diantisipasi sejak awal.

Dalam sepekan terakhir, harga cabai rawit merah di sejumlah pasar tradisional tercatat berada di kisaran Rp 80.000 per kg, setelah sebelumnya sempat menembus Rp 90.000 hingga Rp 100.000 per kg.

“Kenaikan harga cabai dan kebutuhan pangan sebenarnya merupakan seasonal inflation yang biasanya terjadi saat Ramadan dan Lebaran, ditambah pengaruh cuaca,” ujar Esther, Jumat (20/2).

Ia menjelaskan, komoditas hortikultura seperti cabai sangat rentan terhadap perubahan cuaca. Curah hujan tinggi kerap menghambat proses panen maupun aktivitas petik, sehingga pasokan ke pasar menjadi tidak optimal dan harga pun terdorong naik.

Menurut Esther, pola kenaikan harga tersebut sudah terjadi berulang kali sehingga pemerintah maupun pelaku pasar seharusnya mampu memprediksi dan merespons lebih cepat.

“Pemerintah dan pasar seharusnya bisa memprediksi dan merespons kenaikan harga ini karena sudah terjadi berulang kali,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa kebijakan pengendalian harga melalui penetapan batas bawah (floor price) maupun batas atas (ceiling price) berpotensi kurang efektif jika tidak diiringi jaminan ketersediaan pasokan di pasar.

“Kalau hanya mengeluarkan kebijakan floor price atau ceiling price, biasanya tidak terlalu digubris. Bahkan, berdasarkan data historis, kebijakan itu bisa membuat barang justru menghilang dari pasar,” ujarnya.

Sebagai solusi, Esther menilai penguatan operasi pasar dengan menambah pasokan langsung ke pasar-pasar utama menjadi langkah yang lebih efektif, terutama menjelang periode permintaan tinggi seperti Ramadan dan Idulfitri.

Berdasarkan pemantauan di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, pasokan cabai rawit merah sebenarnya masih relatif tersedia, termasuk kiriman dari luar Pulau Jawa seperti Sulawesi Selatan, dengan volume mencapai sekitar 20 ton per hari. Namun, harga di tingkat konsumen tetap dipengaruhi biaya distribusi yang berkisar Rp 10.000 per kg.

Selain aspek distribusi, Esther juga menekankan pentingnya pengembangan teknologi pascapanen guna menjaga kualitas dan daya simpan cabai. Dengan teknologi tersebut, pasokan tidak sepenuhnya bergantung pada musim panen.

“Teknologi pascapanen perlu digunakan agar cabai lebih awet dan pasokan tetap tersedia kapan pun,” tuturnya.

Ia mencontohkan praktik di sejumlah negara maju yang mampu menjaga stabilitas harga melalui pengelolaan pascapanen.

Di Belanda, misalnya, petani apel dapat menyimpan hasil panen lebih lama menggunakan teknologi pengawetan sehingga komoditas tetap tersedia sepanjang tahun dengan harga relatif stabil.

“Harganya tidak anjlok saat panen, dan saat tidak musim panen masyarakat tetap bisa mendapatkan apel dengan harga standar,” pungkas Esther.

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Dani
Editor: Gagah Saputra


No More Posts Available.

No more pages to load.