KabarBaik.co – Sampah plastik Polyethylene Terephthalate (PET) menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia, termasuk Indonesia. Dengan kontribusi sebesar 3.200 ton sampah plastik global, Indonesia menjadi salah satu penghasil sampah PET terbesar. Masalah ini kian mendesak, mengingat popularitas plastik sebagai bahan baku multifungsi yang penggunaannya meningkat hingga 5,2 persen setiap tahun.
Demi menjawab tantangan ini, Yuniar Farida, dosen Departemen Teknik Sistem dan Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), merancang model reverse logistics atau logistik terbalik. Model ini berlandaskan prinsip ekonomi sirkular untuk mendaur ulang sampah PET, dengan harapan mampu menekan ribuan ton sampah plastik dan mendorong Indonesia mencapai target zero waste pada tahun 2050.
“Dalam jangka panjang, tingginya produksi sampah PET dapat memberikan kerugian dalam aspek lingkungan, kesehatan, dan ekonomi,” kata Yuniar dalam pernyataan tertulisnya, Jumat (18/4).
Untuk membangun model reverse logistics yang efektif, Yuniar terlebih dahulu melakukan analisis perilaku konsumen berdasarkan data demografis, seperti tempat tinggal, jenjang pendidikan, dan pendapatan. Selain itu, ia juga mengadopsi pendekatan Theory of Planned Behaviour (TPB), yang mempelajari perilaku konsumen dari sudut pandang sikap, norma subjektif, kontrol perilaku yang dirasakan, norma moral, serta kesadaran konsekuensi.
“Dari kedua analisis ini, kami menemukan beberapa perilaku yang menjadi dasar dalam merancang skenario model,” ungkap perempuan kelahiran 1979 ini.
Berdasarkan hasil analisisnya, Yuniar menyusun lima skenario yang dapat diimplementasikan:
• Penegakan hukum dengan sanksi tegas bagi pelanggaran terkait sampah plastik.
• Penyediaan fasilitas untuk mempermudah pengumpulan sampah PET.
• Edukasi masyarakat guna meningkatkan kesadaran akan pentingnya daur ulang.
• Insentif berupa kompensasi bagi partisipan yang aktif mendaur ulang.
• Gabungan dari keempat strategi sebelumnya.
Melalui simulasi sistem dinamik, Yuniar menemukan bahwa strategi gabungan dan penegakan hukum memberikan dampak terbaik. Kedua skenario ini mampu meningkatkan manfaat hingga tiga kali lipat dibandingkan kondisi saat ini, asalkan tidak terkendala oleh keterbatasan anggaran.
“Penerapan kedua strategi ini memungkinkan Indonesia mencapai zero waste pada tahun 2050,” jelasnya.
Dengan penelitian yang telah dilakukan, Yuniar berharap rekomendasi strateginya dapat membantu pemerintah memperkuat implementasi ekonomi sirkular di Indonesia. “Semoga hasil ini menjadi pijakan untuk mewujudkan masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan,” tutup Yuniar.
Upaya ini menjadi langkah nyata dalam menghadirkan solusi atas persoalan sampah plastik, demi melindungi lingkungan dan masa depan generasi mendatang.(*)








