KabarBaik.co – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) terus menegaskan peran strategisnya dalam kontribusi sains bagi penanganan bencana. Kampus teknologi tersebut terlibat aktif dalam Konsorsium Perguruan Tinggi untuk Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana guna memperkuat sinergisitas pemulihan dampak banjir dan tanah longsor di Aceh serta sejumlah wilayah di Sumatera.
Rektor ITS Bambang Pramujati menyampaikan, pembentukan konsorsium perguruan tinggi ini merupakan respons atas kompleksitas bencana hidrometeorologi yang terjadi secara masif dan berdampak luas. Bencana banjir dan tanah longsor tidak hanya merusak permukiman, tetapi juga infrastruktur, perekonomian lokal, hingga ketahanan sosial masyarakat.
“Banyak perguruan tinggi sebenarnya telah bergerak membantu. Namun untuk menghasilkan dampak yang lebih besar dan berkelanjutan, diperlukan sinergisitas bersama,” ujar Bambang dalam keterangan yang diterima di Surabaya, Rabu (21/1).
Konsorsium tersebut diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI). Dalam pelaksanaannya, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan (Ditjen Risbang) Kemendiktisaintek berperan sebagai penggerak strategis yang memfasilitasi pembentukan konsorsium, mengoordinasikan peran perguruan tinggi, sekaligus mendorong pemanfaatan hasil riset dan pengabdian kepada masyarakat untuk mendukung kebijakan pemulihan pascabencana.
Dalam konsorsium ini, ITS dipercaya mengemban peran penting sebagai Koordinator Kelompok Kerja (Pokja) Geospasial serta Subkoordinator Pokja Perumahan dan Permukiman. Selain itu, ITS juga terlibat dalam berbagai kelompok kerja lainnya, mulai dari kesehatan dan psikososial, pendidikan dan literasi kebencanaan, infrastruktur, pemulihan ekonomi dan sosial, manajemen risiko, hingga penataan ruang.
Bambang menjelaskan, kontribusi ITS di bidang geospasial dilakukan melalui pemetaan resolusi tinggi untuk mengidentifikasi tingkat kerusakan, zonasi kerentanan, serta perubahan bentang alam pascabencana. Data spasial tersebut menjadi fondasi utama dalam perencanaan pemulihan yang tepat sasaran dan berbasis risiko.
“Data spasial menjadi dasar penting agar proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat dilakukan secara terukur, efektif, dan berkelanjutan,” ujar Guru Besar Teknik Mesin ITS tersebut.
Sementara itu, pada bidang perumahan dan permukiman, ITS mengembangkan sistem penilaian hunian serta desain hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) berbasis risiko. Pendekatan ini diintegrasikan dengan data spasial serta perencanaan tata ruang untuk memastikan keamanan dan kelayakan permukiman bagi masyarakat terdampak.
Upaya tersebut melanjutkan peran aktif Satuan Tugas (Satgas) Kemanusiaan ITS yang dipimpin Prof Dr Nurul Jadid SSi MSc. Sejak Desember 2025, tim ITS telah terjun langsung ke Aceh dan beberapa wilayah Sumatra lainnya untuk melakukan pendampingan lapangan.
Melalui konsorsium ini, ITS menargetkan luaran konkret berupa peta risiko terintegrasi, dashboard pemantauan rehabilitasi dan rekonstruksi, rekomendasi teknis perumahan dan infrastruktur, serta policy brief bagi pemerintah pusat dan daerah sebagai dasar pengambilan keputusan.
“Seluruh output akan disusun berbasis sains agar pemanfaatan anggaran pemulihan bencana benar-benar efektif, akuntabel, dan berkelanjutan,” kata Bambang.
Ia menambahkan, langkah ini sejalan dengan komitmen panjang ITS dalam penanganan kebencanaan nasional, mulai dari tsunami Aceh 2004, gempa Lombok 2018, erupsi Semeru, hingga berbagai bencana hidrometeorologi yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.








