Jejak Panjang Ludruk: Ternyata Berawal dari Jombang, Bukan Surabaya

oleh -205 Dilihat
WhatsApp Image 2025 11 19 at 10.23.38 AM 1
Kesenian Ludruk Besutan (istimewa)

KabarBaik.co – Selama ini banyak orang mengira kesenian Ludruk berasal dari Surabaya. Namun, penelitian sejarah menunjukkan bahwa teater tradisional khas Jawa Timur itu justru lahir dari Kabupaten Jombang pada awal abad ke-20.

Pemerhati sejarah dan budaya Jombang, Nasrulilah, mengungkapkan bahwa akar kesenian Ludruk bisa dilacak dalam Musyawarah Ludruk se-Jawa Timur tahun 1968 di Surabaya.

Dalam forum tersebut ditegaskan bahwa Ludruk berawal dari kreativitas seorang petani bernama Pak Santik dari Desa Plandi, Jombang.

“Jombang sebagai tempat kelahiran ludruk, dan Surabaya sebagai kota metropolitan menjadi tempat persebaran awal dan perkembangannya,” ujar Nasrulilah, Kamis (20/11).

Perjalanan seni Ludruk bermula sekitar tahun 1907 ketika Pak Santik mengamen dari satu tempat ke tempat lain. Ia tampil hanya dengan musik mulut dan riasan wajah loreng, sehingga dikenal dengan sebutan Amen Lerok.

Ia kemudian berkolaborasi dengan Pak Amir dan Pak Bolawi dari Plandi, serta Pak Culike dari Pandanwangi. Hadir pula Pak Pono yang memainkan peran wedokan dengan riasan putih tebal, ciri khas pertunjukan lerok.

Kelompok ini berkeliling kampung sambil melantunkan pantun khas, salah satunya: “Keong nyemplung neng blumbang / tinimbang nyolong aluwung mbarang.”

Masa kejayaan lerok berlangsung hingga sekitar 1915. Setelah itu kesenian ini berkembang menjadi Besutan, bentuk pertunjukan yang lebih tertata dengan tokoh-tokoh tetap.

Dalam Besutan, mulai muncul karakter-karakter kuat seperti Besut yang jujur dan berani; Rusmini pasangan anggun Besut; Sumo Gambar si tokoh kaya yang licik; serta Man Gondo yang menggambarkan karakter kolonial dengan riasan putih.

Lakon Besutan biasanya mengangkat konflik cinta antara Besut, Rusmini, dan Sumo Gambar. Namun sebelum cerita dimulai, penonton disuguhkan ritual pembuka yang sarat simbol perlawanan terhadap kolonialisme.

Pada ritual ini, Man Gondo berjalan membawa obor sambil menuntun Besut yang matanya ditutup, mulut disumbat susur, dan merangkak di tanah. Adegan tersebut melambangkan keterbelengguan masyarakat pada masa penjajahan.

Ritual mencapai puncaknya ketika Besut merebut obor dan memadamkannya simbol kebangkitan rakyat. Ia kemudian menari energik di atas panggung bambu yang diterangi damar sewu.

“Busana Besut juga penuh makna. Ia memakai kain putih dan tali lawe sebagai simbol kesucian dan kesatuan, serta ikat kepala merah yang melambangkan keberanian,” jelas Nasrulilahi.

Kesenian Besutan berkembang luas di berbagai wilayah Jombang melalui para seniman seperti Sunari dari Gongseng Megaluh, Laeman, Pak Tari dari Losari Ploso, hingga Carik Raji dari Kedung Losari Tembelang. Besutan tak hanya menjadi tontonan, tetapi juga menjadi cikal bakal teater rakyat yang menyedot perhatian masyarakat.

“Dengan jejak sejarah ini, Jombang tidak hanya dikenal sebagai pusat pendidikan agama, tetapi juga sebagai daerah penting kelahiran Ludruk yang menjadi ikon budaya Jawa Timur,” kata Nasrulilahi.

Nasrulilahi menambahkan dari tradisi panjang inilah Ludruk modern tumbuh sebelum kemudian berkembang pesat di Surabaya lewat tangan para seniman, termasuk Cak Durasim, yang menjadikan Ludruk sebagai alat perjuangan pada masa nasionalisme. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Teguh Setiawan
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.