Jejak Ranting NU Pertama di Indonesia, Rumah Tua di Sepanjang Sidoarjo Jadi Saksi Sejarah

oleh -170 Dilihat
Rumah Tua NU di Sidoarjo
Para Tokoh Nu saat menunjukkan foto Kiai Hosein bersama para ulama di rumah tua Speanjang (ist)

KabarBaik.co, Sidoarjo – Sebuah rumah tua di kawasan Bebekan, Sepanjang, Taman, Sidoarjo, menjadi saksi lahirnya ranting NU pertama di Indonesia pada tahun 1928. Bangunan sederhana itu hingga kini masih berdiri utuh dan dijaga keasliannya oleh keluarga pendiri.

Sejarah tersebut dituturkan langsung oleh H. Ahmad Humam, cucu KH. Hosein Idris, salah satu tokoh sentral NU di Sidoarjo. Ia menyebut, embrio NU di Sepanjang tidak lepas dari dua santri Hadratusyaikh KH Hasyim Asy’ari.

“Tahun 1928 itu ada dua santri beliau, Kiai Hamim Syahid dan Kiai Hosein Idris. Dua-duanya itu kakek saya, dari jalur ibu dan bapak,” ujar Ahmad Humam, Sabtu (14/2).

Humam menjelaskan NU sejatinya telah berdiri lebih dahulu di Surabaya. “Berdirinya di Surabaya pada tahun 1925, lalu diresmikan secara organisatoris tahun 1926 di Jombang. Baru dua tahun kemudian, 1928, berdiri yang pertama di sini, di rumah ini,” jelasnya.

Struktur awal NU di Sepanjang kala itu belum disebut ranting, melainkan Kring Bebekan. “Bukan ranting, tapi namanya Kring Bebekan. Tulisan ‘kring’ itu masih ada. Istilahnya mungkin berbeda, karena waktu itu belum ada struktur ranting seperti sekarang,” katanya.

Menurut Humam, keberadaan ranting NU pertama ini bukan sekadar cerita lisan. “Ini bukan cerita tutur saja. Dokumen-dokumen NU dari awal berdiri di Surabaya sampai ke sini ada semua. Bahkan sudah saya serahkan ke PBNU supaya sejarahnya lurus,” tegasnya.

Ia menyinggung pelurusan sejarah NU yang kini telah diakui secara luas. “Alhamdulillah sekarang sudah lurus. Di YouTube juga Kiai Said Aqil Siroj pernah menyampaikan, NU berdiri 1925 di Surabaya, diresmikan 1926, dan ranting pertama 1928 di sini,” ungkapnya.

Rumah bersejarah itu juga menyimpan jejak perjuangan kemerdekaan. “Dulu ini markas Hizbullah. Bahkan ada bekas tembok kena bom Belanda, keramiknya sampai copot dan belum diperbaiki sampai sekarang,” lanjut Humam.

Hingga kini, rumah dan musala di kompleks Bebekan tetap dipertahankan tanpa perubahan bentuk. “Bangunannya masih asli, tidak diubah. Sengaja kami jaga supaya sejarahnya tetap ada dan bisa dikenang,” pungkasnya. (*)

Cek Berita dan Artikel kabarbaik.co yang lain di Google News

Kami mengajak Anda untuk bergabung dalam WhatsApp Channel KabarBaik.co. Melalui Channel Whatsapp ini, kami akan terus mengirimkan pesan rekomendasi berita-berita penting dan menarik. Mulai kriminalitas, politik, pemerintahan hingga update kabar seputar pertanian dan ketahanan pangan. Untuk dapat bergabung silakan klik di sini

Penulis: Achmad Adi Nurcahya
Editor: Imam Wahyudiyanta


No More Posts Available.

No more pages to load.